Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Marwah Ulama di Hadapan Penguasa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 September 2018 14:11 2:11 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 September 2018 14:11
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

HUBUNGAN  antara ulama dan umara (penguasa) dalam sejarah Islam memang bervariatif. Sebagai contoh, bisa dilihat dari Imam Empat Madzhab yang masyhur: Hanafi, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal Rahimahumullah. Imam Hanafi, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai ulama yang menjaga jarak dengan penguasa, bahkan pernah mendapatkan perlakuan represif dari penguasa akibat tidak mau menuruti kemaunnya.

Sementara Imam Malik rahimahullah, dikenal memiliki kedekatan dengan penguasa bahkan sempat menerima hadiah dari mereka. Hanya saja, yang menjadi catatan penting, Imam Pengasas Madzhab Maliki ini bukanlah ulama penjilat. Interaksi beliau dengan penguasa tetap pada koridor syariat  yang jelas, bukan karena ingin mengeruk harta. Beliau juga bersikap obyektif dan konsisten terhadap kebenaran yang diyakininya sehingga tidak menjadi jongos penguasa.

Meski demikian, bukan berarti ulama yang dikenal dengan buku ‘Al-Muwaththa’-nya ini, tak pernah kontra dengan penguasa. Wahid Abdussalam Bâli dalam buku “Ulamâ wa Umarâ`” (1410: 181) menceritakan konflik Imam Malik dengan penguasa.

Alkisah, Ja’far bin Sulaiman –sepupu Abu Ja’far Al-Manshur- berniat buruk kepada Imam Malik. Dituduhkan rumor bahwa beliau tidak mengakui kepemimpinan Ja’far Al-Manshur. Mendengar berita itu, kuping Abu Ja’far panas, lalu memerintahkan kepada tentaranya untuk mencabuk beliau.  Sungguh ironis, cambukan ini sampai membuat tulang pundak beliau lepas. Imam Ibnu Jauzi menyebut dalam buku “Syudzûr al-‘Uqûd” bahwa beliau dicambuk sebanyak tujuh puluh kali akibat mengeluarkan fatwa yang berlawanan dengan kepentingan penguasa di zamannya.

Baca: Umar bin Abdul Aziz: Umara yang Ulama

Dari kedua posisi tadi –baik yang sedang memilih menjadi oposisi atau bersama mendukung penguasa– para ulama yang empat itu tetap tidak kehilangan harga diri dan marwah. Izzah mereka di hadapan penguasa begitu tinggi. Saat dekat tak kehilangan martabat dan tak mau menjilat; saat jauh mereka tetap teguh pendirian menjadi suluh, menjaga marwah dan menjadi yang terdepan dalam hal mengingatkan penguasa.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Para nabi pun –bila dilihat berdasarkan paradigma al-Qur`an—di antara mereka ada yang sedang bekerjasama dengan penguasa, sebagaimana Nabi Yusuf dengan Aziz; ada yang oposisi dengan penguasa, seperti Musa dan Fir’aun dan ada yang murni menjadi nabi sekaligus penguasa, seperti halnya Nabi Sulaiman ‘alaihimussalam.

Menariknya, di mana pun posisi mereka, marwah sebagai seorang nabi tetap terjaga dengan baik. Mereka tidak akan mengorbankan marwah kenabian hanya gara-gara perkara dunia yang sangat kecil. Apa pun posisinya, mereka tetap memberi pencerahan, menjadi suluh dan lentera bagi sekitarnya. Seharusnya, ulama yang menjadi pewaris para Nabi harus terdepan dalam meneladaninya.

Berkenaan dengan hal ini, dalam kitab “Ghurar al-Khaṣā`iṣ al-Wāḍihah wa ‘Uraru al-Naqā`iḍ al-Fāḍihah” (243, 244), Abu Ishaq Jamaluddin al-Wathwath memberikan contoh menarik bagaimana marwah ulama di hadapan penguasa. Kisah antara Hisyam bin Abdul Malik dengan ‘Atha` bin Abi Rabbah bisa dikemukakan di sini.

Suatu ketika ‘Utsman bin ‘Atha’ al-Khurasani mengisahkan. Saat dirinya bersama sang ayah hendak pergi menemui Hisyam bin Abdul Malik, keduanya bertemu dengan syeikh yang menunggangi keledai hitam, bajunya lusuh, jubahnya kotor dan penutup kepala yang tak sedap dipandang mata.  Utsman pun saat melihatnya langsung tertawa. Ia langsung diingatkan ayahnya, “Diamlah! Ini adalah penghulu para ahli fiqih di wilayah Hijaz, Atha’ bin Abi Rabbah!”

Setelah bertemu, ayah Utsman berpelukan dengan Atha`. Kemudian, bersama-sama menuju istana Hisyam bin Malik. Tak perlu menunggu lama, keduanya segara diizinkan masuk. Mengenai cerita keduanya dalam istana Hisyam, Utsman tidak tahu sama sekali. Hanya saja, ia mendapat cerita itu dari ayahnya.

Saat masuk istana, Atha’ disambut dengan sangat hangat hingga duduk bersama Hisyam di singgasana. Ayah Utsman bisa masuk dengan cepat pun karena sosok Atha’. Mereka berdua berbincang, dan para pembesar berikut orang yang hadir dalam istana waktu itu diam. Tak ada yang berani bersuara kala itu.

Baca: Ulama-Umara Rekat, Akidah Aswaja jadi Kuat 

Uniknya, semua permintaan ‘Atha bin Abi Rabbah –terkait kepentingan umat– tidak ada yang ditampik. Bahkan, Hisyam segera menginstruksikan bawahannya agar secepat mungkin melaksanakannya. Pada momen ini ada pemandangan luar biasa, marwah ulama sekaliber Atha’ begitu terjaga di hadapan penguasa, izzahnya begitu tinggi, sampai-sampai duduk bersama di singgasananya.

Tak cukup sampai di situ, pada kesempatan itu, Atha’ sebagai ulama juga tak melupakan tugasnya untuk mengingatkan penguasa. Beliau memberi nasihat kepada Hisyam, “Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya kamu diciptakan sendirian, mati sendirian, dibangkitkan sendirian dan dihisab di akhirat sendirian. Saat itu, tak ada seorang pun yang menemanimu!” Mendengar nasihat yang berdiksi kuat dan menyentuh itu, Hisyam tersungkur dan tak kuasa menahan air mata.

Setelah urusan selesai, Atha’ undur diri. Rupanya, di belakangnya ada pegawai Hisyam yang mengikuti yang membawa kantong berisi uang banyak. Ketika diberikan kepada Atha’, ulama karismatik ini dengan ringan menjawab, “Aku tidak meminta upah pada kalian, biarlah Allah saja yang memberi upah kepadaku.” Lebih dari itu, menurut cerita ayah Utsman, pada pertemuan itu Atha’ tidak meneguk air sedikit pun yang dihidangkan.

Di Indonesia, ulama seperti HAMKA juga bisa dijadikan contoh dalam hal menjaga marwah di hadapan penguasa. Dalam buku “Buya Hamka: Pribadi dan Martabat” (2016) karya Rusydi Hamka misalnya, ditulis bahwa pernah Hamka oleh Soeharto diundang untuk berkhutbah di istana negara. Dalam kesempatan itu, beliau tetap bisa menjaga marwah dengan baik. Saat berkhutbah pun, tak ada narasi yang berisi penjilatan kepada penguasa. Demikianlah seharusnya marwah ulama di hadapan penguasa.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:‘Al-Muwaththa’HamkaImam MalikmadzhabMadzhab Malikimarwahpenguasaulamaumara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Terbentuknya Komunitas Sahabat Hijrah Jambi
Tulisan selanjutnya Amal, Ciri Ulama yang Sering Terlupakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Berita
13 Juli 2026 15:40
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?