Hidayatullah.com | KETIKA Allah SWT menyampaikan kepada para malaikat akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Para malaikat mempertanyakan keputusan Allah SWT karena memandang makhluk yang baru ini akan merusak dan menumpahkan darah di bumi. Sedangkan keberadaan para malaikat selama ini konsisten untuk patuh dengan terus bertasbih memuji dan menyucikan Allah SWT. Lalu Allah SWT menjawab bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para Malaikatnya.
Tatkala Nabi Adam AS diperintah untuk menyebutkan nama-nama benda yang telah diajarkan oleh Allah SWT, maka para malaikat pun mengakui akan Maha Suci Allah dan tidak ada pengetahuan bagi mereka (dan semua makhluk) melainkan yang telah diajarkan oleh Allah, Sungguh Dia, Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Kemudian, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk sujud kepada Adam AS. Maka mereka pun sujud kepada Adam AS kecuali iblis. ia enggan untuk sujud kepada Adam AS sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT karena merasa dirinya lebih baik dari Adam AS sehingga tidak patut dan pantas baginya untuk menundukkan diri dan bersujud. Iblis tercipta dari api yang dianggapnya lebih mulia daripada Adam AS yang diciptakan dari tanah.
Padahal sujudnya para malaikat kepada Adam AS bukanlah bentuk sujud penyembahan melainkan bukti tunduk dan patuh atas perintah Allah SWT semata. Maka terlemparlah iblis dari surga dan dilaknat oleh Allah SWT.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir As Sa’di bahwa iblis dulunya bernama Al Haarits, sedangkan dalam kitab lain disebutkan bahwa iblis dulu bernama Azazil. Ia adalah panglima besar malaikat yang sangat patuh kepada Allah SWT. Ia merupakan pemimpin perang untuk melawan bangsa jin yang melakukan kerusakan di muka bumi sebelum Adam AS diciptakan.
Dari perjalanan hidupnya itulah kemudian dia menyimpulkan bahwa yang berhak memimpin bumi sebagai khalifah adalah dirinya. Di samping itu, muncul kekhawatiranya bersama para malaikat jika manusia suatu saat akan kembali berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi.
Berdasarkan anggapannya itulah kemudian ia menolak untuk sujud kepada Adam AS. Maka, masuklah iblis dalam golongan yang kafir (ingkar) lagi menyesatkan. Sejak itu, iblis menyatakan perang kepada manusia dan berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan Tuhan-Nya. Iblis akan senantiasa mendatangi manusia untuk membisikkan ajakan kejahatan dan kemungkaran dari depan, belakang, kiri dan kanan. Setiap saat tanpa lelah dan letih.
Patuh menjadi Ingkar
Salah satu pelajaran besar yang dapat kita ambil dari kisah perjalanan iblis adalah hidup ini penuh ujian sehingga sewaktu-waktu orang yang tadinya patuh kemudian bisa menjadi orang yang ikar hanya dalam hitungan detik saja. Ketika diri dipenuhi oleh rasa sombong dan dengki maka petaka akan segera menghampiri.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ, orang yang sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Dan, bagi orang yang sombong maka tidak ada tempatnya di surga bahkan mencium baunya saja tidak.
Iblis menolak kebenaran bahwa Adam AS telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi dengan segala macam ilmu yang telah Allah SWT ajarkan kepadanya. Padahal kelebihan Adam AS dan ketetapan itu diambil oleh Rabb Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu yang selama ribuan tahun telah ia patuhi dan taati.
Masih atas pendapatnya sendiri, ia menilai diri melebihi orang lain. Padahal yang paling pantas menilai atas segala makhluk hanyalah Allah SWT, Sang Khaliq yang Maha Pencipta. Iblis melihat dirinya lebih mulia yang tercipta dari api dan merendahkan Adam AS yang tercipta dari tanah. Padahal kedudukan makhluk di sisi Allah SWT bukan ditentukan dari mana dia berasala, melainkan derajat ketakwaan-nya kepada Rabb-nya.
Manusia dan Kesombongannya
Perjalanan sejarah sudah memperlihatkan betapa kesombongan yang membuat lupa diri telah menghancurkan manusia hingga ke akarnya. Atas kesombongannya Fir’aun ditenggelamkan di laut bersama bala pasukannya, Qarun dibenamkan di dalam bumi beserta seluruh kekayaannya, Kaum Tsamud dihancurkan oleh petir yang menggelegar, Kaum ‘Ad digulung oleh angin topan yang dingin, Kaum Sodom porak-poranda atas adzab hujan batu panas, dan kisah lainnya.
Banyak sekali potensi kesombongan manusia padahal nikmat yang diberikan itu, semata-mata agar ia mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupannya dan orang lain dalam rangka menggapai ridho Allah SWT.
Makin manusia kaya makin dia terancam untuk hancur atas kesombongannya kepada orang yang lebih miskin darinya.
Makin manusia pintar makin dia terancam untuk hancur atas kesombongannya kepada orang yang lebih bodoh darinya. Dan itulah keampuhan intelektual.
Makin manusia berkuasa makin dia terancam untuk hancur atas kesombongannya kepada orang yang bawahan yang dipimpinnya. Dan itulah buse of power.
Bahkan, yang perlu kita hati-hati. Makin manusia itu taat dalam beragama dia memilik potency untuk hancur manakala dia sombong dan merasa lebih masuk surga daripada orang lain. Menganggap rendah atas orang yang tidak alim seperti dirinya dan seterusnya.
Cak Nun dalam satu kesempatan berpesan, kayalah tapi tidak usah sombong. Kayalah agar hartamu semakin banyak yang bisa engkau berikan kepada orang lain dan menjadi harta abadi yang akan dipanen kelak di kampung akhirat.
Kuasalah tapi rendah hati. Pandailah agar menjadi lebih arif dan alim. Sholehlah agar mampu merendahkan hati di hadapan manusia dan bersimpuh sujud di depan Allah SWT.
Wahai jiwa yang tenang, berhati-hatilah agar tidak terpeleset dalam kesombongan. Wallahu’alam.*/Mazlis B Mustafa