Hidayatullah.com | DAKWAH adalah hal penting, namun tidak setiap orang –bahkan dai— memahami tahapan dakwah. Ibarat sekolah, perlu penjenjangan, tak mungkin seorang siswa langsung meloncat ke kelas 3 jika ia belum menguasai pelajaran kelas 1 dan 2.dakwah
Gambaran tentang tahapan dakwah terdapat jelas dalam pesan Rasulullah ﷺ kepada salah seorang sahabat dari kaum Anshar bernama Mu’adz bin Jabal ketika hendak mengutusnya berdakwah ke Yaman.
Mu’adz termasuk dalam golongan orang-orang pertama yang memeluk Islam. Ia terkenal sebagai cendekiawan Muslim yang menguasai ilmu fikih.
Rasulullah ﷺ pernah mengatakan bahwa Mu’adz adalah orang yang paling tahu tentang apa yang halal dan apa yang haram. Suatu ketika di tahun 10 Hijriah, Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz ke Yaman untuk berdakwah.
Rasulullah ﷺ berpesan kepada Mu’adz soal strategi dan tahapan dakwahnya di Yaman, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu ‘Abbas Ra.
(( إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ – وفي رواية: إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهَ- فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ ))
“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah –dalam riwayat yang lain disebutkan: “supaya mereka mentauhidkan Allah”- jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah.” (HR: Bukhari dan Muslim).
Dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ini kita bisa menyimpulkan tiga tahapan dakwah kepada kaum terpelajar yang belum mendapat hidayah untuk memeluk Islam. Pertama, perbaikilah akidah mereka karena akidah adalah pondasi.
Kedua, ajaklah mereka shalat, karena shalat adalah kewajiban paling agung setelah tauhid. Ketiga, ajaklah orang-orang kaya di antara mereka membayar zakat sebagai bentuk rasa syukur dan wujud kebersamaan.
Terakhir, Rasulullah ﷺ mengingatkan Mu’adz agar tidak mengambil harta terbaik dari orang-orang kaya tersebut saat mengambil zakat mereka. Sebab, yang wajib diserahkan adalah harta biasa.
Selain itu, Mu’adz dianjurkan untuk berbuat adil dan jangan berbuat dzalim. Sebab, bila mereka dizalimi dan mereka berdoa maka doa-doa orang yang terzalimi tersebut akan Allah Ta’ala kabulkan.
Tata urutan tahapan dakwah seperti ini tentu tidak berakhir sampai kepada kewajiban berzakat saja. Masih banyak kewajiban lain setelah itu. Misalnya, kewajiban untuk berpuasa, berhaji, berdakwah, dan sebagainya.
Namun, jika tiga kewajiban di atas sudah didakwahkan dan diterima dengan ikhlas maka insya Allah kewajiban-kewajiban yang lain tak akan terlalu sulit. Wallahu a’lam.*