INI ibrah dari kisah sepasang nabi, yaitu Musa dan Harun ‘alaihima as-salam. Sungguh dalam perjalanan mereka terdapat uswah dan bimbingan.
Allah Subhanahu Wata’ala memanggil Nabi Musa ke Bukit Thur, untuk menerima Taurat. Sebelum berangkat, dititipkannya umat yang baru saja lepas dari perbudakan dan masih jahiliyah itu, kepada nabi Harun. “Hanya” 40 hari beliau pergi, tapi selama itu sesuatu yang amat buruk terjadi.
Samiri membuat patung anak sapi dari emas dan mengajak Bani Israil menyembahnya. Ribuan orang yang bodoh dan lemah iman itu pun hanyut. Nabi Harun berusaha mencegah, namun beliau diremehkan bahkan nyaris dibunuh. Suasana pun kacau-balau. Bagaimana tidak kacau, sebab ketika nabinya masih hidup saja mereka sudah musyrik?
Pantas ketika nabi Musa pulang, kemarahannya menggelegak. Seketika dibantingnya “alwaah” (lempeng tablet dari batu) yang berisi firman-firman Allah itu sampai pecah. Dijambaknya rambut dan jenggot saudaranya, seraya ditarik penuh kegeraman.
Menghiba, nabi Harun berkata:
قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: “…Harun berkata: “Wahai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.” (QS: al-A’raf: 150).
Nasihat yang sungguh bijak. Sebuah peringatan yang sangat strategis, krusial, kritis. La tusymit bi-yal a’daa’u! (Jangan biarkan musuh-musuh bergembira karena melihatku kau sakiti seperti ini!)
“Tusymit” (تشمت) berasal dari kata “syamaatah” (شماتة), artinya kegembiraan musuh karena mengetahui kecelakaan kita. Nabi Harun mengingatkan saudaranya, bahwa kita berdua adalah sama-sama utusan Allah kepada umat ini. Kita berdua mestinya bahu-membahu dan bekerjasama, bukannya bertengkar bahkan saling membantai.
Bukankah dulu Nabi Musa sendiri yang memohon kepada Allah agar dikokohkan dengan saudaranya, Harun? Sebab beliau berlidah gagu, sedang Harun lebih fasih. Maka, untuk apa sekarang bersitegang dan berkelahi? Seakan-akan, Nabi Harun berujar, “Jika tidak kita sudahi pertengkaran ini, misi kita pasti berantakan dan musuhlah yang bertepuk tangan!”
Nabi Harun juga mengingatkan saudaranya:
قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي ۖ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي
Artinya: “Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah-belah Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku!” (QS: Thaha: 94)
Hebat! Seketika nabi Musa tersadar dan berdoa:
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Artinya: “Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS al-A’raf: 151).
Saudaraku….
Betapa sering kita mohon kepada Allah agar dikokohkan dengan bergabungnya saudara-saudara seiman di jalan dakwah dan jihad, namun kemudian kita sendiri yang mengusir mereka dari jalan ini hanya karena perbedaan tertentu atau “kesalahan” yang diperbuatnya. Kita menuduhnya telah mengkhianati Manhaj dan memecah-belah umat, bahkan tanpa segan kita tarik rambut kepalanya dan jenggotnya. Kita jatuhkan kehormatannya dan hancurkan nama baiknya di depan kawan maupun lawan. Kita pun tega menggolongkannya ke barisan orang zhalim dan fasiq, lalu ia kita perangi bersama musuh-musuh lain yang kezhaliman dan kefasikannya telah muttafaqun ‘alahi.
Siapa yang untung? Siapa yang bersorak? Siapa yang memanen hasilnya? Siapa yang kini semakin besar barisannya?
Lihatlah, jumlah tentara kita berkurang sementara bilangan pasukan musuh melambung! Mengapa? Ya, karena orang-orang yang semula menjadi saudara kita sekarang malah kita anggap sebagai musuh juga. Dari pintu mana pertolongan Allah akan datang, sementara sebab-sebabnya — salah satunya: persatuan — justru kita tutup rapat-rapat?
Saudaraku….
Jangan terburu menuduh sesama Muslim, terlebih sesama da’i dan mujahid, hanya karena perbedaan-perbedaan sepele. Di tingkat individu saja tidak boleh, apalagi sesama jamaah, harakah, ormas, dan pesantren. Lihat, fitnah apa yang lebih hebat dari umat yang tiba-tiba musyrik hanya dalam 40 hari? Apakah efek perbuatan dan “kesalahan” saudaramu sedahsyat yang terjadi pada Bani Israil di saat itu?
Dengarkan nasehat Nabi Harun, sebagaimana Nabi Musa juga mendengarkannya. Lihat, bagaimana nabi Musa segera insyaf dan memohon ampunan Allah, untuknya dan saudaranya. Sekali lagi: “ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu”. Jika engkau tetap saja meradang, lantas siapa sebenarnya teladanmu?
Saudaraku…..
Musuh tahu bahwa mereka akan gagal jika barisan kita solid. Mereka gentar hanya karena mendengar gemuruh takbir kita, 40 hari sebelum berjumpa di medan perang. Mereka tidak ingin hal itu terjadi, karena peluang mereka untuk menang pasti nol besar. Sudah berulangkali terbukti. Maka, mereka akan berusaha sekuat tenaga memecah-belah kita, dan itu dimulai dari para da’i, ulama’, mujahid. Bila para pemegang panji-panji umat Islam ini tidak rukun, musuh-musuh itu masih bisa tersenyum lebar.
Mohonlah ma’unah Allah agar diteguhkan dan barisan kita dirapatkan. Jalan dakwah dan jihad ini begitu terjal dan mengguncang. Kalau bukan karena rahmat dan karunia-Nya, tak seorang pun dari kita yang sanggup bertahan. Biarkan setan dan antek-anteknya gigit jari menyaksikan kita saling memaafkan, berlapang dada, saling mendoakan dan bahu-membahu; bukan malah berpesta melihat kita saling serang, melaknat, menantang mubahalah, bahkan mengokang senapan dan menghunus pedang!*/Alimin Muhtar