Menuntun dengan qalbu artinya, mengedepankan perasaan yang bersumber dari kuatnya ibadah dan amal sholeh (ahsanu amala) yang dilakukan
Oleh: Asih Subagyo
Hidayatullah.com | DALAM Surat Shad, Alah SWT menyinggung bagaimana seharusnya menjadi pemimpin. Islam mengajarkan kita menjadi pemimpin yang bias menuntun dengan qalbu dan memimpin dengan akal.
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ
“Artinya: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS: Shad [38]: 26)
Dalam tafsir Al-Muyasar dijelaskan bahwa dalam ayat ini terkandung pesan kepada ulil amri (pemerintah, dan siapapu yang memimpin-red) agar mereka menetapkan hukum dengan berpijak kepada kebenaran yang diturunkan dari Allah swt dan tidak menyimpang darinya karena hal itu akan menyesatkan mereka dari jalann-Nya.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR: Bukhari dan Muslim)
Hal yang paling mendasar yang dapat diambil dari hadis diatas adalah bahwa dalam level apapun, manusia adalah pemimpin termasuk bagi dirinya sendiri. Setiap perbuatan dan tindakan memiliki resiko yang harus dipertanggungjawabkan.
Setiap orang adalah pemimpin meskipun pada saat yang sama setiap orang juga membutuhkan pemimpin dan kepemimpinan ketika ia harus berhadapan untuk menciptakan solusi hidup dimana kemampuan, keahlian, dan kekuatannya dibatasi oleh sekat yang ia ciptakan sendiri dalam posisinya sebagai bagian dari komunitas.
Sebenarnya masih banyak lagi sebenarnya, dalil yang berkaitang dengan kepemimpinan dan urgensinya hingga level implementasi bahkan juga monitoring dan evalusisanya.
Akan tetapi, setidaknya kita tersontak ketika diingatkan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah saat Tarhib Ramadhan 29/3/2022, bahwa dalam memimpin di setiap level apapun, harus leading with heart dan managing with mind. (menuntun dengan qalbu, memimpin dengan akal, red).
Menuntun dengan qalbu artinya, mengedepankan perasaan yang bersumber dari kuatnya ibadah dan amal sholeh (ahsanu amala) yang dilakukan. Memimpin seperti ini akan melahirkan sebuah intuisi yang ilhami untuk melahirkan sejumlah konsepsi ilahiyah, yang akan memandu setiap pemimpin dalam memimpin apa yang dipimpinnya, dalam level apapun termasuk memimpin dirinya sendiri ataupun dalam keluarga.
Konsekwensi logisnya akan terjadi kedekatan antara pemimpin dengan yang dipimpin, seperti hubungan saudara (kal jasadil wahid), bukan hubunga transaksional, sebagaimana hubungan bos dan majikan.
Oleh karenanya, seorang pemimpin akan memimpin secara adil, dan jauh dari hawa nafsu, serta kepentingan pribadi. Karena jika dalam memimpin sudah dipandu dengan hawa nafsu, pasti akan merugikan bahkan menyesatkan, yang cepat atau lambat, sebagaimana yang digambarkan QS Shad ayat 26 di atas.
Selanjutnya, dimana letak manajemen, akal dan rasio. Inilah kemudian yang diistilahkan dengan managing with mind. Artinya seorang pemimpin harus memnggunakan “akalnya” dalam mengelola yang yang dipimpin.
Kepalanya tidak boleh kosong. Sehingga, seorang pemimpin juga dituntut untuk memiiki wordview yang cermerlang, dengan wawasan yang luas, otak encer, serta kemampuan managerial skill yang memadai.
Untuk mendapatkannya, bisa melalui jalur pendidikan formal maupun non-formal, literasi (baca/tulis) dan lain sebagainnya.
Tuntutan berikutnya adalah, seorang pemimpin juga mesti memahami dan tidak alergi terhadap adanya tools manajemen modern yang disesuaikan dengan visi, misi dan budaya organisasi, sehingga dalam mengelola yang dipimpinnya berlaku kaidah SMART (Specific, Measureable, Achievable, Relevant, dan Time-bound). Sebab seorang pemimpin juga mesti mampu mengatur dalam menyusun perencanaan strategis.
Dan tools ini akan membantu dalam merealisasikan seluruh program yang telah dirumuskan tersebut. Karena, managing with mind, itu output-nya adalah hasil kerja yang bisa dirasakan perubahannya, bahkan yang nampak bisa dilihat secara fisik.
Dengan demikian maka, kemampuan seorang pemimpin dalam menintegrasikan dan memadukan antara leading with heart dan managing with mind, akan melahirkan kepemimpinan yang visioner dan melakukan quantum leap, yang bisa jadi dapat menerobos dimensi ruang dan waktu. Implementasinya dapat dimulai dari sekala yang paling kecil, sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, sebab pemimpin itu sebenarnya adalah diri kita masing-masing. Wallahu a’lam.*
Instruktur Hidayatullah Institute