Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Ulama Akhirat dan Ulama Dunia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Februari 2018 14:13 2:13 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Februari 2018 14:13
Bagikan
ILUSTRASI
Bagikan

SAUDARAKU, para ulama kita yang bermartabat sangat berhati-hati ketika menuntut ilmu. Mereka takut terjerumus ke dalam perangkap setan. Karena ilmu bisa buat pemiliknya sombong, angkuh, riya’, sum‘ah, ujub, dan penyakit hati lainnya. Jika dia salah niat dan keliru motivasinya.

Untuk itulah Imam az-Zarnuji menasihati para penuntut ilmu dalam kitabnya Ta‘lim al-Muta‘allim. Beliau menulis sebagai berikut,

وينوى به الشكر على نعمة العقل وصحة البدن، ولا ينوى به إقبال الناس ولا استجلاب حطام الدنيا والكرامة عند السلطان وغيره

“Hendaklah (penuntut ilmu) berniat lewat ilmunya untuk mensyukuri nikmat akal dan sehat badan (jasamani). Dan jangan sampai berniat agar memiliki banyak pengikut (dikerumuni manusia) dan meraup perhiasan dunia dan kemuliaan di sisi penguasa dan yang lainnya.”

Lalu beliau juga menegaskan;

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

ومن وجد لذة العلم به قلما يرغب فيما عند الناس

“Siapa yang telah mengecap lezatnya ilmu, maka takkan tergiur dengan kekayaan milik orang lain.” (lmam Burhanuddin az-Zarnuji, Ta‘lim al-Muta‘allim Thariq at-Ta‘allum (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1434 H/2013 M): 18-19)

Itu artinya, ilmu yang kita miliki bukan untuk meraup kenikmatan dunia, mengumpulkan pengikut (jamaah) sebanyak-banyaknya, dan “menjilat”penguasa, dan lainnya. Karena ilmu sejatinya untuk hadirkan dan lahirkan kasy-yah (rasa takut kepada Allah) dalam hati kita (Qs. Fathir:28).

Baca: Otoritas Ulama dalam Prespektif Islam

Saudaraku, mari renungkan riwayat-riwayat berikut ini! Semoga hati kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Riwayat dari Abu Hurairah ra Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menyatakan,

من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

“Siapa yang mempelajari satu cabang ilmu yang seharusnya untuk mencari ridha Allah, tetapi dia gunakan untuk meraup kenikmatan duniawi maka dia tidak akan merasakan bau surga di hari Kiamat.” (HR.  An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Dalam sabdanya yang lain, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menegaskan,

من تعلم العلم ليباهى به العلماء أو يمارى به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله جهنم

“Siapa yang belajar satu ilmu yang digunakan untuk berbangga-bangga (sombong) di hadapan para ulama, merendahkan orang-orang jahil dan agar banyak pengikut, maka Allah akan masukkan ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Ibn Majah dari Abu Hurairah). (Lihat, Syekh Zainuddin ibn ‘Abd al-‘Aziz ibn Zainuddin al-Malibari, Irsyad al-‘Ibad ila Sabil ar-Rasyad (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1431 H/2010 M): 19).

Saudaraku, ternyata jika salah niat dalam menuntut ilmu bisa fatal akibatnya. Seharusnya mendapat ridha Allah malah yang turun murka dan laknat-Nya. Dan akibat yang paling buruk adalah: menjadi ulama dunia.

Saudaraku, yang mengatakan ada ulama dunia bukan aku, tapi para ulama kita yang hebat dan bermartabat.

Imam Ibn al-Jauzi (w. 597 H), misalnya, membuat perbandingan antara ulama dunia dan ulama akhirat. Beliau menulis seperti berikut ini,

تأملت التحاسد بسن العلماء، فرأيت منشأه حب الدنيا، فإن علماء الآخرة يوادون ولا يتحاسدون، كما قال عز وجل: (ولا يجدون فى صدورهم حاجة مما أتوا) (الحشر: 9)، وقال تعالى: (والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين آمنوا) (الحشر: 10)

“Aku amati tentang adanya saling-dengki diantara ulama. Maka aku dapati bahwa sumber masalahnya adalah: terlalu cinta dunia. Namun para ulama akhirat saling cintai dan tidak saling-dengki. Sebagaimana Firman Allah yang berbunyi, “Dan kalian tidak akan dapati kebutuhan dalam dada mereka terhadap apa yang telah diberikan kepada mereka… ” (QS:  Al-Hasyr: 9).

Dan Firman Allah yang berbunyi;

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka berdoa kepada Allah, ‘Ya Rabb kami ampunilah kami dan dosa saudara-saudara kami yang lebih dahulu beriman daripada kami dan jangan jadikan dangki dalam hati kita terhadap orang-orang yang terlebih dahulu beriman… ” (QS. Al-Hasyr:10).

وقد كان أبو الدرداء: يدعو كل ليلة لجماعة من إخوانه

“Abu ad-Darda’ setiap malam selalu mendokakan sekelompok kawannya.”

وقال الإمام أحمد بن حنبل لولد الشافعى: ”أبوك من الستة الذين أدعو لهم كل ليلة وقت السحر“

“Imam Ahmad ibn Hambal berkata kepada putera lmam as-Syafi‘i, ‘Bapakmu termasuk dari enam orang yang aku doakan setiap malam di waktu sahur’.”

Baca: Kewajiban Ulama Menjelaskan Ilmu, Haram Menyembunyikannya

Dan perbedaan antara ulama dunia dan ulama akhirat adalah: ulama dunia haus kekuasaan di dalam dunia dan suka mendapatkan harta plus gila pujian. Sementara ulama akhirat tidak mendahulukan itu semua. Mereka sangat takut dan sangat menyayangi siapa saja yang diuji oleh dunia.” (Lihat, Imam Jamaluddin Abu al-Faraj ‘Abdurrahman ibn al-Jauzi, Shaid al-Khathir (Kairo: Dar al-Hadits, 1426 H/2005 M): 14).

Bahkan, ulama internasional asal Indonesia (Tanara, Banten), lmam Nawawi al-Jawi al-Bantani menyatakan;

Diantara ciri (tanda) ulama akhirat adalah: (1) Tidak mengejar dunia menggunakan ilmunya, (2) llmunya sibuk  digunakan untuk gapai kebahagiaan akhirat, sehingga sangat memperhatikan ilmu batin yang dapat mensucikan hatinya dengan cara mujahadah an-nafs, dan (3) llmunya digunakan untuk mengikut sunnah Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam segala perilakunya dan kata-katanya.

Sedangkan ciri-ciri tidak mengejar duniawi ini adalah: (1) Menjadi orang pertama memgamalkan perintah dan menjauhi larangan agama, (2) Menjauhi sikap berlebihan dan kepatutan dalam hal makanan, tempat tinggal dan pakaian, (2) Tidak bersahabat bebas dengan penguasa, kecuali untuk menasihatinya atau untuk menuntutnya agar mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi, (3) Membantu masyarakat untuk menggapai ridha Allah, (4) Tidak mudah-mudah keluarkan fatwa. Hendaknya merujuk orang-orang yang lebih alim darinya. (Lihat, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Banteni, Maraqi al-‘Ubudiyyah (Jakarta: Dar al-Kutub al-lslamiyah, 1431 H/2010 M): 12-13)

Saudaraku, jika kita diberi karunia ilmu oleh Allah, semoga ia jadi jalan mendekat kepada-nya. Dan kita berdoa, jika ada yang jadi ulama semoga jadi ulama akhirat, bukan ulama dunia. Karena hanya ulama akhiratlah yang dicintai Allah, dicintai Rasulullah dan dicintai oleh manusia. Wallahu a‘lam bis-Shawab.*/Qosim Nursheha Dzulhadi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akheratduniailmulmam Nawawi al-Bantanipenuntut ilmuTa‘lim al-Muta‘allimulamaUlama Akhiratulama duniaulama su'
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jauhi Penjajah, PLO Desak Otoritas Palestina Putus Hubungan dengan Israel
Tulisan selanjutnya ‘Bayangan’ AQ Khan dan Nuklir Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap

Berita
31 Agustus 2026 17:47
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
600 Aktivis Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi Dai MUI

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?