oleh: Muhammad Cheng Ho
SEJAK dulu, kehormatan umat Islam telah banyak mendapat cobaan dari berbagai pihak, termasuk cobaan dalam bentuk penistaan agama. Aksi nista mereka telah ciptakan keresahan dan benturan di tengah masyarakat.
Di masa kolonial Belanda, kota Surakarta pernah diguncangkanoleh surat kabar Djawi Hiswara edisi 11 Januari 1918 No.5. Surat kabar yang diterbitkan N.V.Mij. t/v d/z Albert Rusche&Co. dan dipimpin Martodarsono itu, memuat artikel Djojodikoro yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo”.
Dalam artikelnya, Djojodikoro menulis“Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. gin, minoem opium, dan kadang soeka mengisep opium.” [ Lihat Takashi Shiraishi yang diterjemahakan oleh Hilmar Farid, Zaman Bergerak:Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Pustaka Utama Grafiti:Jakarta, 1997, hlm. 144]
Panjangnya seperti ini;
“Marto: ‘Ah, seperti pegoeron (tempat beladjar ilmoe). Saja boekan goeroe, tjoemah bertjeritera atau memberi nasehat, kebetoelan sekarang ada waktoenja. Maka baiklah sekarang sadja. Adapon fatsal (selamatan) hoendjoek makanan itoe tidak perloe pakai nasi woedoek ajam tjengoek brendel. Sebab Goesti Kangdjeng Nabi Rasoel itoe minoem tjioe A.V.H. dan minum madat, kadang kadang kletet djoega soeka. Perloe apakah mentjari barang jang tidak ada. Meskipon ada banjak nasi woedoek, kalau tidak ada tjioe dan tjandoe tentoelah pajah sekali.’” [Abikoesno Tjokrosoejoso menerjemahkan cuplikan perbincangan yang ada di koran Djawi Hiswara ke bahasa Melayu dan dimuat di Majalah Medan Moeslimin Februari 1918, Si Djahat menghina Nabi kita (s.a.w.),hlm. 51 , Safrizal Rambe, Sarekat Islam, Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942,Yayasan Kebangkitan Insan Cendekia:Jakarta, 2008, hlm.98]
Karena artikel ini menghina umat Islam, maka timbullah reaksi keras dan amarah terhadap penulis dan dewan redaksi Djawi Hiswara.
Peristiwa ini oleh sejarawan Deliar Noer dipandang sebangai pertarungan antara kaum santri dan abangan. Sebab sejak beberapa tahun sebelumnya dan setelah peristiwa tersebut, kaum nasionalis Jawa yang abangan selalu melihat Islam sebagai tandingan yang berasal “dari luar”, yang hendak menekan “kepercayaan Jawa”. Mereka kemudian mendirikan Comite Voor Het Javaansch Nationalism (Panitia Kebangsaan Jawa) untuk menyalurkan aspirasi ideologis mereka. [Dikutip oleh Safrizal Rambe dari Deliar Noer, Pengantar ke Arah Pemikiran Politik, Rajawali:Jakarta Press, 1980, hlm.165]
Guncangan di Surakarta turut dirasa saudara seiman di Surabaya. Mengetahui Nabi-nya diinjak-injak, api tauhid di dada umat Islam Surabaya berkobar-kobar. Maka pada akhir Januari, Tjokroaminoto dan Hasan bin Semit -seorang pemimpin Al-Irsyad Surabaya dan juga komisaris Centraal Sarekat Islam- mengadakan pertemuan maraton Sarekat Islam (SI) secara besar-besaran di Surabaya, untuk membahas penistaan agama a la Djawi Hiswara.
Sementara itu, Abikoesno Tjokrosoejoso, adik dari Tjokroaminoto yang juga sekretaris SI Surabaya, lewat tulisannya di majalah Medan Moeslimin, mengecam ulah Martodarsono dan Djodjodikoro, mendorongsunan agarmenghukum keduanya, serta menggerakkan kaum muslimin untuk membela Islam.
“Soenggoeh si Marto,teroetama sekali penoelis si Djojodikoro (laanahoellahoe) soenggoeh berniat dan segadja menghina Nabi kita (s.a.w) dan djoega menghina koerang lebih 300.000.000 orang menoesia jang memeloek igama Mohammadiah.
Dan Hoofd redacteur (Sie!) Martodarsono (laanahoellahoe) sama djahatnja djoega dengan si Djojodikoro (laanahoellahoe). Soenggoehpoen “Hred” (Martodarsono) soedah menerangkan dalam nootnja, bahwa perkataan jang demikian itoe tiada boleh dimuat dalam soerat kabar, sebab mesti mendjadikan marahnja orang-orang jang sama “tidak mengerti”, tetapi “Hred” (Martodarsono) soedah koerang-adjar sekali soeka memoeatkan toelisan itoe djoega…..”
Kemudian pada awal Februari, Tjokroaminoto mendirikan Komite Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) di Surabaya, untuk “mempertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan kaum muslim.” Diketuai oleh Tjokroaminoto sendiri, Sosrokardono sebagai sekretaris, dan Sech Roebaja bin Ambarak bin Thalib, seorang pemimpin Al Irsyad Surabaya, menjadi bendahara.
Pengaruh seruan TKNM untuk membela Islam tampak sangat memukau.Tjokroaminoto dan kawan-kawan berhasil membangun opini publik dan membuat isu Surakarta itu menasional.Ketika Vergadering (rapat umum) di Surabaya pada 6 Februari, TNKM berhasil mengumpulkan dana lebih dari tiga ribu gulden.
Reli protes yang diadakan serentak pada 24 Februari di 42 tempat di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera dihadiri oleh lebih dari 150.000 orang dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari 10.000 gulden. Subkomite TKNM didirikan hampir di seluruh Jawa kecuali Semarang dan Yogyakarta. Sejumlah SI lokal yang terbengkalai berhasil dibangkitkan kembali di bawah pimpinan subkomite-subkomite TKNM.*
Penulis adalah pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) (BERSAMBUNG)