Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Haji Sulong Sang Permata Pattani (1895 – 1954) [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Januari 2016 09:03 9:03 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Januari 2016 09:03
Bagikan
Diskusi pemikiran Tuan Guru Haji Sulong, Kilauan Permata Pattani telah didiskusikan di Dewan Bahasa dan Pustaka Wilayah Timur (DBPWT), Kota Bharu, Kelantan, Malaysia tanggal 9 Januari 2016 lalu
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: H. Rosidi Semail (Rossem)

Sebulan selepas  pengiriman surat itu, tanggal 16 Januari 1948, Haji Sulong ditangkap bersama beberapa orang sahabatnya yaitu Wan Uthman Wan Muhammad, Haji Wan Hussain dan Wan Mohamad Amim. Dengan tertangkapnya Haji Sulong perundingan damai yang diusahakan Tengku Mahmood Mahyuddin dengan pemerintah pusat di Bangkok terhenti. Haji Sulong yang bergerak secara damai dianggap  sebagai penentang dan pemberontak.  Padahal pergerakannya bukan untuk memerdekakan empat wilayah umat Islam di Selatan.

Berita penangkapan Haji Sulong tersebar luas. Timbul reaksi  daripada masyarakat Islam  lokal dan macan negara. Pada 19 Januari 1948 pengikut beliau  berdemonstrasi di depan balai polis Teluban, tempat Haji Sulong ditahan. Menuntut supaya pihak kerajaan memberi sebab, kenapa Haji Sulong ditangkap. Tuntutan tak dilayan. Haji Sulong dipindahkan ke penjara Pattani, kemudian ke Nakom Sri Thammarat, diantara alasan diberikan ialah; Haji Sulong mempunyai pengikut yang ramai di Pattani, kalau terus ditahan di wilayah itu  khuatir pengikutnya akan berbuat sesuatu yang bisa kerosakkan keamanan.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
Haji Sulong
Foto; Haji Sulong

Pertengahan Juni 1952, Haji Sulong dibebaskan dari penjara setelah 4 tahun  berada dalam tahanan. Kepulangannya ke Pattani disambut ribuan umat Islam. Mereka menunggu di stasiun kereta Kokpor. Umat Islam masih mengharapkan kepimpinan Haji Sulong. Buktinya majlis pengajian Haji Sulong semakin diminati orang banyak. Masjid tempat beliau menyampaikan pengajian penuh dengan jamaah, Pengaruh Haji Sulong ternyata  semakin kuat. Kondisi  itu menyebabkan Pemerintah Thai bimbang. Gubernur wilayah, Phraya Rattanapaldi mengeluarkan instruksi (24 Desember 1953)  untuk menutup majlis pengajian yang Haji Sulong.

Sejak itu Haji Sulong tak dibolehkan mengajar. Instruski itu membuatkan Haji Sulong menulis surat langsung  kepada Luang Sanavin Viwat, Menteri Dalam Negeri  untuk menjelaskan bahwa beliau tak berniat menentang pemerintah dan menuntut kemerdekaan.

Antara lain suratnya berbunyi:

Saya hanya mengajar agama kepada orang yang datang untuk belajar secara sukarela. Buat masa sekarang saya tak kemana-mana, hatta  ke majlis khawin atau kematian, supaya tak dituduh melakukan aktivitas yang tak disukai pemerintah.

Surat Haji Sulong ditolak. Menunjukkan tindakan gubernur wilayah  direstui pemerintah pusat di Bangkok. Bahkan mereka sudah merancang tindakan lebih berat atas Haji Sulong. Kebetulan saat itu perkembangan politik di Tanah Melayu sedang dalam proses menuntut kemerdekaan daripada Inggris.

Haji Sulong dipanggil Kolonel Bunlert Lert Paricha, Ketua Polisi Songkhla. Tanggal 13 Agustus 1954  bersama Wan Seman Muhamad, Che Ishak Yusof dan Ahmad Haji Sulong berangkat dengan mobil dari Pattani ke Songkhla. Beberrepa hari selepas itu, terdengar berita kehilangan Haji Sulong dan kawan-kawannya. Haji Sulong hilang secara misterius, menambahkan ketegangan politik di empat Wilayah tersebut.  Umat Islam meyakini Haji Sulong dan mereka yang bersamanya dibunuh oleh aparat Songkhla.

Haji Sulong disifatkan sebagai ulama dan mujahid besar Bumi  Pattani. Kehilangan beliau  menambahkan simpati umat Islam dan marah serta kebencian kepada pemerintah Thai hingga hari ini.

Cucu Haji Sulong Surin Pitsuwan, pernah menjadi menteri luar Thailand dan Sekretaris Jenderal ASIAN dalam sebuah tulisannya beliau  menjelaskan: “Haji Sulong  sebagai ulama dan pemimpin perjuangan yang berjuang mewujudkan identitas bagi masyarakat Islam. Lantaran itu, setiap pergerakan perjuangan yang ada sekarang adalah sebagai simbol pemimpin perjuangan  Pattani.”

Haji Sulong lahir di Pattani tahun 1895. Mendapat pendidikan awal di pondok Tok Guru Wan Musa (ayah beliau). Ketika usia 12 tahun, beliau mencari ilmu di Makkah. Tahun 1927 pulang ke tanah air. Pada 1929 beliau membuka Madarasah Al-Maarif Al Wataniah Al Patoni.*

Penulis seniman yang banyak menghasilkan kartun-kartun politik. Dimuat di berbagi media di Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:haji sulongNarathiwatPattaniShiamthailandTuan Guru Haji Sulong bin Abdul Kadir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Di Rakornas, Hilmi Aminuddin Ajak Kader PKS Konsolidasi
Tulisan selanjutnya Iran Tahan Dua Kapal Patroli dan 10 Pelaut Amerika Serikat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan

Berita
9 Juli 2026 18:30
Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
Ledakan di Damaskus Dekat Hotel Presiden Prancis Menginap,18 Orang Terluka
PUI Dukung Perpres 111/2025 Soal LGBT, Ketahanan Keluarga Penting bagi Pertahanan Nasional
BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal

Terbaru

  • Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh
  • Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
  • Laporan Pesawat Kepresidenan AS Hadiah Qatar Bermasalah Berujung Pemanggilan Jurnalis New York Times
  • Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya
  • Dua Anggota Basij Tewas Dalam Serangan di Mashhad Iran
  • Jepang Berhasil Meluncurkan dan Mendaratkan Roket Guna Ulang
  • Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz
  • PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan
  • Korea Utara Bertekad Membangun Kekuatan Nuklir dan Memperluas Peran Intelijen Militer
  • Israel Bagikan Informasi Intelijen tentang Rencana Baru Iran untuk Membunuh Trump

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?