Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Belajar dari Deliar Noer (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Februari 2018 09:05 9:05 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Februari 2018 08:35
Bagikan
Prof Dr Deliar Noer bersama istinya
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah

 

JUMAT kemarin, 92 tahun silam, Deliar Noer dilahirkan. Kita, umat Islam di Indonesia, rasanya harus tahu tokohnya yang satu ini. Karena kita bisa belajar banyak darinya. Ia adalah seorang cendekiawan yang cemerlang, berkarakter, jujur, teguh pendirian, berani, kritis, peduli pada umat dan bangsanya. Ia bukan orang yang merenung dan berpikir bak sarjana yang duduk di atas singgasana gading saja, kata Buya Hamka, tapi juga seorang pejuang Islam di samping kesarjanaannya (Sambutan Hamka untuk buku Bunga Rampai dari Negeri Kanguru, 1981).

Deliar adalah doktor ilmu politik pertama asal Indonesia. Gelar Ph.D-nya ia sabet dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Profesornya, George Mc. Turnan Kahin, pernah memuji integritasnya.

“… yang paling mengesankan saya adalah penghargaan tinggi yang diberikan oleh Hatta dan Natsir terhadap kecerdasan dan pengetahuannya tentang Islam. … Bila Hatta dan Natsir masih hidup, saya percaya bahwa mereka akan melanjutkan –seperti yang mereka sampaikan pada saya di masa silam– kekaguman mereka terhadap integritas intelektual dan politik Deliar yang luar biasa,” tulis Kahin di buku 80 Tahun Deliar Noer (2007).

Hatta dan Natsir adalah tokoh yang ditanya Kahin ketika mencari pemuda yang bisa membantunya riset tentang peran Islam dalam politik di Indonesia. Keduanya kompak menjawab, Deliar Noer.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Baca: UAS: Bangkitkan Politik Islam, 2018-2019 Umat Bersatu

Dari tangan Deliar, lahir gagasan-gagasan berupa artikel di media massa dan buku tentang masalah politik, sejarah, dan keislaman di Indonesia. Disertasinya yang kemudian diterbitkan oleh Oxford University Press, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942, menjadi rujukan bagi banyak ilmuwan. Bukunya, Mohammad Hatta: Biografi Politik, pernah dipuji oleh sejarawan Taufik Abdullah sebagai biografi sang proklmator yang paling lengkap (Majalah Tempo, 23 Juni 2008). Dan masih banyak lagi karya-karya mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Islam (HMI) ini.

Pada tulisan ini, kita akan sedikit menceritakan bagaimana sikap kritis Deliar sebagai akademisi, dan juga membahas pemikirannya tentang politik Islam serta hubungan antara Islam dan negara. Mengapa tiga topik ini yang diangkat? Karena tiga topik itu rasanya yang paling relevan untuk dibicarakan hari ini.

Akademisi dan Penguasa

Pulang dari Cornell ke Indonesia, putra Minang kelahiran Medan ini mengajar di Universitas Sumatera Utara (USU). Kala itu, masanya demokrasi terpimpin dan sinkretisme politik Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunisme). Rakyat yang memprotes Nasakom harus siap di-bully oleh orang kiri. Deliar, salah satu rakyat yang siap. Ia mengkritik terang-terangan Nasakom. Sebab menurutnya, Nasakom sangat kontradiktif dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Koran Tempo, 20 Juni 2008). Ia sangat mengkritisi pemikiran Marx. Sedangkan penggagas Nasakom yang tak lain adalah Presiden Sukarno, menganggap Marxisme sebagai alat yang ampuh untuk menganalisis sejarah.

Karena kritis terhadap Marxisme, Deliar dikecam oleh mahasiswa kiri. Ia disebut anti Nasakom, anti revolusi, anti Marxis dan segala macam. Bahkan sampai ada resolusi yang menuntutnya dipecat dari jabatan dosen USU. Tahu hal ini, pimpinan fakultas menyarankan kepada mahasiswa itu untuk menyelesaikan masalah ini tidak dengan politis, tapi dialog. Tunjukkan di mana kesalahan Deliar. Namun, mereka tidak menerima saran itu. Mereka hanya bisa demo saja. Kebanyakan mereka memang menjadikan Deliar sebagai target politiknya.

Pimpinan fakultas sayangnya tidak mampu menguasai keadaan ini. Mereka hanya mencatat siapa-siapa mahasiswa yang menolak dan mendukung Deliar. Catatan ini lalu ia sampaikan ke presidium USU dan menteri di Jakarta. Presidium USU sendiri, Ulung Sitepu, adalah orang yang memberikan jalan mahasiswa kiri tadi demo. Jadi tidak mungkin berharap darinya. Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Syarif Thayeb pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menyuruh Deliar sabar. “… menteri mengatakan keadaan memang tidak normal,” tutur Deliar dalam bukunya Aku Bagian Ummat Aku Bagian Bangsa: Otobiografi Deliar Noer (1996). Meski berat dan protes dilarang mengajar karena alasan politis, namun Deliar akhirnya bisa menerima takdir. * >>> Lanjutt

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:Buya HamkaDeliar NoerGeorge Mc.T KahinHattaindonesiaislam politikNasakomNasionalisme-Agama-KomunismeNatsirpolitik islamumat IslamUniversitas Cornell
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seragam Sekolah Mahal Rancangan Armani Picu Perdebatan
Tulisan selanjutnya KPAI Ingatkan Media Sajikan Berita yang Menghormati Hak Anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?