Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

KH. Abdullah Sattar Madjid: Sang Singa Podium 

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Maret 2019 12:11 12:11 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Maret 2019 12:11
Bagikan
KH Abdullah Sattar Madjid
Bagikan

ULAMA satu ini, oleh santri-santrinya dikenal dengan julukan ‘Singa Podium’. Bersikap tegas, teguh, konsekuen, istikamah, berilmu luas, dan berkarisma tinggi. Nama lengkapnya: Abdullah Sattar Madjid, anak dari KH. Madjid Iljas yang merupakan kiai kondang di zamannya.

Beliau lahir di Peneleh Surabaya 1 September 1937. Dibanding dengan saudara-saudaranya yang lain, ia paling menonjol. Kelak ketika ayahnya meninggal, yang menggantikan posisi pengasuh pengajian di Jama`ah Pengajian Surabaya adalah Abdullah Sattar Madjid. Melalui gemblengan yang luar biasa dari ayahnya, pada akhirnya ia menjadi ulama yang multi talenta dan mampu meneruskan estafeta kepemimpinan yang diwarisi dari ayahnya.

Riwayat pendidikan keagamaan beliau terbilang unik. Secara umum tidak pernah menyelesaikan studi keagamaan. Ia berkeliling berguru menyusuri pondok-pondok di Indonesia, namun ia tak bertahan lama karena mempunyai prinsip: “Selama kiai pondoknya tidak bisa menjawab pertanyaannya, maka dia akan pindah lagi berguru ke sekolah lain”.

Menurut penuturan kakaknya yang bernama Abdullah Faqih Madjid, KH. Abdullah Sattar pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Darus Salam Gontor. Ia juga pernah mengampu pendidikan di UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta. Ia pun pernah meneruskan studinya di Toronto Kanada. Selain itu pernah juga menimba ilmu di Mesir yang saat itu berjumpa dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan kawan-kawan.

Di antara guru agamanya ialah Kh. Madjid Ilyas, A. Hassan (dalam bidang mantiq), Abdul Qadir Hassan (dalam bidang Ilmu Hadits), Muhammad Natsir (dalam bidang politik) bahkan dalam suatu forum pengajian Ahad pagi dia pernah menyatakan pernah mendatangi orang-orang besar di masanya. Ia juga seperguruan dengan Soekarno dalam bidang tertentu. Masih banyak sebenarnya guru-guru besarnya yang tidak bisa disebutkan secara detail pada tulisan ini. Karena pengalaman studinya begitu luas dan belum pernah dibukukan.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Ada kisah menarik sewaktu dia belajar di Kanada. Ketika lulus dari sana, di hadapan teman-tamannya ia merobek ijazah yang didapatnya. Alasannya, beliau menganggap bukan untuk itu dia kuliah.

Setelah ayahnya meninggal, praktis yang menggantikannya adalah dirinya sendiri. Ia dikenal sebagai ahli Fiqh, Hadits, dan ilmu-ilmu lainnya. Kemampuannya bukan saja dalam bidang keagamaan, ia juga menguasai arsitektur, peternakan (yang kelak disalurkan dengan pendirian yayasan Astajati) dan ilmu-ilmu lain yang membuat muridnya heran dan berdecak kagum.

Layaknya kiai pada umumnya di masa klasik, beliau memiliki keahlian yang beranekaragam. Ini terbukti dari banyaknya santri yang berkonsultasi padanya dengan keperluan yang beragam. Ada tentang keagamaan, kesehatan, finansial dan lain sebagainya. Menurut penuturan murid-muridnya di antara hobi beliau adalah membaca dan memasak.

Untuk membaca beliau pernah cerita, sewaktu di perpustakaan pondok pesantren Bangil ia mengaku bahwa buku-buku yang ditandai merah adalah buku yang dibacanya. Beliau adalah ulama agung yang tidak silau kepada keduaniaan, serta konsisten dalam memurnikan akidah umat.

Salah satu karya yang ditinggalkan –selain kegiatan pengajian dan dakwah– adalah buku berbagai masalah agama yang berjudul “Siaran Berkala” (yang merupakan kelanjutan dari tulisan ayahnya). Selain itu, terjemahan Al-Qur`an berbahasa Madura adalah salah satu hasil tangan dinginnya dalam mendidik santrinya sehingga penerjemahan itu bisa sempurna dan sudah diterbitkan di Madura. Lebih dari itu, Masjid As-Sattar Surabaya, yang kabarnya bangunan indah itu arsitek utamanya adalah beliau rahimahullah.

Hal yang tidak kalah penting, sejak beliau masih hidup hingga sekarang diteruskan santri-santrinya, adalah konsistensi beliau dan para santri setiap hari Jum’at untuk mensosialisasikan bahwa hari agung ini –selain Idul Fitri dan Adha– adalah hari raya umat Islam. Yang pada intinya, menyarankan bahwa hari Jum’at semestinya adalah hari libur umat Islam.
Beliau meninggal di Surabaya pada tanggal 2 Oktober 2010. Semoga jejak keulamaan dan kiprahnya dalam mendakwahkan Islam bisa diteruskan oleh generasi selanjutnya. Untuk mengenang beliau, salah satu santrinya membuat puisi berjudul “Kesedihan Hati”:

Langit mendung di ufuk barat
Mengiringi kepergianmu
Seorang mujadid yang lurus
Yang turun tiap 100 tahun sekali

Kesedihan menyelimuti hati
Wajah-wajah sayu memendam
Tetesan air mata mengiringi
Dada terasa kosong hampa

Saat Pembaru berguguran
Tiada pengganti yang pantas
Generasi muda belum siap
Ilmu dan mental belum mantab

Apakah kamu akan kembali
Pada kebodohanmu yang dulu
Atau kamu tetap bertahan
Berjuang menegakkan tiang yang ada

Sungguh ilmumu tiada terbalas
Walau oleh seisi dunia ini
Moga Allah menempatkanmu
Di tempat yang terbaik lagi mulia.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abdullah Sattar Madjiddaimaduraulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Houthi kelompok teroris Untuk Pertama Kali Suriah Hadiri Pertemuan Liga Arab
Tulisan selanjutnya Babeh Haikal: Jaga Persatuan, Pendukung Jokowi dan Prabowo Bersaudara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Iptekes

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato

Iptekes
8 Juli 2026 08:09
Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
UNESCO Mengakui Dondang Sayang hingga Silat sebagai Warisan Budaya Malaysia
PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

Terbaru

  • Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
  • Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
  • MUI Gelar IACFS ke-10, Perkuat Peran Fatwa dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia
  • MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan
  • BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal
  • Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
  • Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris
  • Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM
  • Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien
  • TikTok Laporkan Penonaktifan 1,7 Juta Akun Anak ke Komdigi

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?