Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Pengalaman Sati Alimin Hadapi Penginjil di Rumah

Kisah penginjil an yang agresif masuk ke rumah-rumah Muslim di era tahun 70-an mendorong Sati Alimin, Murid A.Hassan “turun gunung"

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 September 2024 09:58 9:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 September 2024 09:55
Bagikan
HDP Sati Alimin
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA suatu pagi yang tenang di bulan Juni 1973, sebuah kejadian tak terduga menimpa H.D.P. Sati Alimin, seorang tokoh Islam (murid Ulama Persis A. Hassan) yang dikenal teguh memegang prinsip-prinsip agama. Kejadian ini terjadi di rumah anaknya di daerah Kebon Nanas, Jakarta, yang menjadi saksi bagaimana seorang penginjil dengan berani mendatangi rumahnya.

Penginjil ini tidak hanya memasuki kawasan Muslim, tetapi bahkan masuk ke dalam rumah seorang tokoh agama untuk menyebarkan ajarannya. Nama-nama besar seperti Prof. H.M. Rasjidi, KH. Saifuddin Zuhri, pernah didatangi penginjil.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi pengalaman pribadi bagi Sati Alimin, tetapi juga mencerminkan fenomena yang mulai marak pada masa itu—penginjilan yang agresif dan langsung masuk ke rumah-rumah umat Islam, bahkan tokoh-tokoh agamanya. Fenomena ini menggugah pertanyaan besar mengenai bagaimana umat Islam harus bersikap ketika dihadapkan dengan situasi serupa.

Kedatangan Penginjil yang Tak Terduga

Pada hari Minggu itu, sekitar pukul 09.00 pagi, Sati Alimin tengah menikmati waktu santainya di ruang depan rumah anaknya. Tanpa diduga, seorang tamu yang tidak dikenal datang. Pria itu, meski sudah mulai beruban, masih terlihat lebih muda dari Sati Alimin.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Setelah basa-basi singkat, penginjil itu memulai percakapan dengan topik yang tampaknya sudah ia siapkan dengan matang: kemerosotan moral di kalangan masyarakat, terutama di antara pemuda-pemudi.

Dengan membawa tas kulit yang tampak berat, penginjil itu memulai misinya dengan membacakan beberapa ayat dari Injil. Dari cara bicaranya, jelas bahwa ia telah dilatih untuk menyampaikan pesan ini, mungkin kepada siapa saja yang ia temui.

Namun, kali ini ia berhadapan dengan seseorang yang tidak hanya paham agama, tetapi juga seorang intelektual yang kritis terhadap apa yang didengarnya.

Ujian Keimanan dan Kecerdasan

Saat penginjil itu mulai membaca ayat-ayat Injil, Sati Alimin sudah menduga maksud kedatangannya. Dalam pikirannya, terlintas berbagai opsi—apakah ia harus menolak penginjil ini secara langsung atau meladeninya untuk menguji pengetahuannya sendiri tentang agama-agama dunia, topik yang sudah lama ia pelajari.

Sati Alimin memilih opsi kedua. Dengan tenang, ia meminta penginjil itu mengulangi pembacaan ayat-ayatnya, kali ini lebih perlahan. Setelah pengulangan itu, ia dengan bijak mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar namun mematikan: “Apakah saudara percaya bahwa Yesus Kristus mengucapkan demikian?” Ketika penginjil itu menjawab dengan yakin bahwa itu adalah ucapan Yesus, Sati Alimin melanjutkan dengan logika yang tak terbantahkan—Yesus tidak mungkin berbicara dalam bahasa Indonesia, atau bahkan Belanda atau Inggris, bahasa-bahasa yang ditawarkan oleh penginjil itu.

Penginjil itu terlihat semakin bingung ketika Sati Alimin meminta Injil dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani dengan dialek Aramia, bahasa yang digunakan oleh Nabi Isa. Sati Alimin menegaskan bahwa ia hanya akan percaya jika Injil disampaikan dalam bahasa aslinya, sebagaimana ia membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, bahasa asli Nabi Muhammad. Dialog ini bukan hanya tentang agama, tetapi tentang keaslian dan integritas penyampaian wahyu. (Sumber: HDP. Sati Alimin, Alangkah Beraninya Kawan Kita, Majalah Harmonis No. 173, IX/1979: 22, 23, 25).

Tantangan Penginjilan di Rumah-Rumah Muslim

Kisah ini bukan hanya tentang Sati Alimin dan penginjil itu, tetapi tentang tantangan yang dihadapi umat Islam pada masa itu. Penginjilan yang semakin agresif dan langsung masuk ke rumah-rumah Muslim, bahkan rumah tokoh agama, menunjukkan adanya upaya yang terencana untuk menyebarkan ajaran lain di tengah masyarakat Muslim.

Sati Alimin tidak hanya sekadar meladeni tamunya, tetapi ia juga memberikan pelajaran penting tentang bagaimana menghadapi situasi seperti ini dengan kepala dingin, pengetahuan yang mendalam, dan kecerdasan yang tajam.

Ia tidak membiarkan dirinya terprovokasi atau marah, tetapi justru membalik situasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang membuat penginjil itu tidak bisa berkutik.

Peristiwa ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi umat Islam. Pertama, pentingnya memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama sendiri dan agama-agama lain untuk bisa berdialog secara efektif.

Kedua, pentingnya bersikap tenang dan tidak mudah terprovokasi dalam menghadapi situasi yang menantang keimanan. Ketiga, pentingnya menjaga keaslian ajaran agama dengan tidak menerima begitu saja ajaran yang disampaikan dalam bahasa yang sudah diterjemahkan atau disesuaikan.

Keempat, tidak menyebaran agama kepada orang yang sudah beragama. Kelima, umat Islam perlu waspada penyebaran penginjilan kepada umat Islam yang dilakukan secara terselubung maupun terbuka.

Sati Alimin mengakhiri pertemuannya dengan penginjil itu dengan menantangnya untuk membawa Injil dalam bahasa Aramia jika ingin melanjutkan dialog mereka.

Tantangan ini tidak pernah terpenuhi, dan lima setengah tahun kemudian, penginjil itu masih belum kembali. Kisah ini, yang dicatat oleh Sati Alimin dalam majalah Harmonis, menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu waspada dan siap menghadapi tantangan keimanan, di mana pun dan kapan pun.*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. HassanHeadlinepenginjilpenginjil rumahPersisPilihan RedaksiSati Alimin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Studi: Tes Darah Deteksi Risiko Masalah Jantung pada Wanita selama 30 Tahun Mendatang
Tulisan selanjutnya Syeikh Hisyam Hamid Ponpes Al Fattah Undang Syeikh Hisyam Kamil, Pengisi Kajian Tetap Masjid Al-Azhar Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun

Berita
17 Oktober 2026 10:07
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?