Sejarah mencatat bahwa Palestina adalah salah satu bangsa pertama yang mengulurkan tangan persaudaraan saat Indonesia baru saja lahir dan sedang berjuang mempertahankan eksistensinya.
Hidayatullah.com | Pernyataan kontroversial yang sempat viral beberapa hari yang lalu dalam acara talkshow “Rakyat Bersatu” yang dipandu oleh Aiman di Inews TV, di mana sosok Abu Janda melontarkan pandangan yang menyudutkan Palestina, telah memicu gelombang diskusi luas mengenai sejarah hubungan diplomatik kedua bangsa. Dalam acara tersebut, Abu Janda terlibat konfrontasi sengit dengan pakar hukum tata negara Feri Amsari dan mantan Dubes Ikrar Nusa Bhakti terkait keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) bentukan Donald Trump. Suasana memanas hingga Abu Janda melontarkan makian kasar kepada narasumber lain dan akhirnya diminta keluar dari sesi oleh moderator karena memicu kegaduhan.
Narasi Abu Janda yang menyebut sejarah dukungan Palestina sebagai hoaks dan menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki utang budi apa pun merupakan bentuk pengabaian terhadap kedalaman relasi historis. Faktanya, bangsa Palestina adalah salah satu pihak yang berdiri paling depan ketika Indonesia baru saja lahir dan sangat membutuhkan pengakuan dunia internasional. Sebagaimana diingatkan dalam debat tersebut, tokoh-tokoh seperti bangsawan Palestina Muhammad Ali Taher memiliki peran nyata dalam menyokong finansial dan diplomasi demi mempertahankan eksistensi Republik Indonesia.

Jika menilik catatan sejarah dalam buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” (1980) karya M. Zein Hassan, dukungan Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia bukanlah sekadar basa-basi politik kontemporer, melainkan sebuah ikatan yang tulus. Dukungan ini muncul dari kesadaran emosional dan spiritual yang sangat kuat, jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 berkumandang, yang secara otomatis membantah klaim-klaim negatif yang mencoba meremehkan peran krusial Palestina dalam sejarah kedaulatan kita.
Dukungan bangsa Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu pilar awal pengakuan internasional yang sangat krusial. Dukungan ini tidak hanya datang dari tataran politik formal, tetapi juga merupakan manifestasi solidaritas keagamaan dan nasib sesama bangsa terjajah. Tokoh-tokoh Palestina memandang perjuangan Indonesia sebagai bagian dari kebangkitan dunia Timur melawan imperialisme Barat yang harus didukung sepenuhnya oleh seluruh umat Islam di dunia.
Tokoh yang paling sentral dalam gerakan ini adalah Syekh Muhammad Amin al-Husaini, Mufti Besar Palestina. Jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945, tepatnya pada 6 September 1944, beliau telah menyuarakan dukungannya secara terbuka melalui Radio Berlin. Dalam siaran tersebut, Syekh Amin al-Husaini mengucapkan selamat kepada bangsa Indonesia atas janji kemerdekaan dari Jepang, yang kemudian memicu gelombang simpati di seluruh wilayah Arab dan Timur Tengah.
Dalam buku “Sedjarah Hidup K.H.A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar 1957” (1957) karya Abu Bakar Atjeh, tercatat momentum historis saat KH. Hasyim Asy’ari mengirimkan kawat balasan kepada Mufti Besar Palestina, H.M. Amin Al-Husaini, yang saat itu tengah berada di Berlin untuk memberikan dukungan terhadap janji kemerdekaan Indonesia pada Oktober 1944. Korespondensi ini menegaskan solidaritas timbal balik antara Masyumi dan perjuangan Islam global, di mana Kyai Hasyim menyatakan terima kasih atas perhatian dunia Islam sekaligus mendoakan agar kemerdekaan Palestina dan negeri-negeri Arab segera tercapai. Hubungan diplomatik ini membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan semangat persaudaraan Muslim internasional dalam melawan penjajahan demi kedaulatan bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Peran Syekh Amin al-Husaini berlanjut saat beliau berada di Mesir sebagai pengungsi politik. Beliau menggunakan pengaruhnya yang besar di Liga Arab untuk melobi para pemimpin negara-negara Arab agar memberikan pengakuan resmi kepada kedaulatan Republik Indonesia. Beliau sering kali hadir dalam pertemuan-pertemuan penting dengan delegasi Indonesia di Kairo, memberikan nasihat diplomatik serta perlindungan moral yang sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa dan diplomat muda Indonesia yang sedang berjuang di luar negeri.

Untuk menambah data Zain Hassan, menarik untuk dikemukakan di sini, pada 13 Mei 1947 di Surat Kabar Harian Nasional Indonesia (No. 108, tahun kedua) diberitakan kabar menarik “Amin El Husaini Bekas Moefti Agoeng Jeruzalem Menjokong Kemerdekaan”. Dalam sebuah telegram resmi yang dikirimkan kepada mantan Mufti Agung Yerusalem, Amin al-Husseini, Presiden Soekarno menyatakan simpati mendalam Pemerintah Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Berdasarkan laporan yang sempat disiarkan Radio Singapura tersebut, Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia mendukung penuh usulan negara-negara Arab untuk pembentukan negara Palestina yang berdaulat dan terlepas dari penjajahan.
Lebih lanjut, pesan diplomatik tersebut juga menyampaikan harapan besar rakyat Indonesia agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera meresmikan kemerdekaan Palestina. Langkah ini mempertegas solidaritas kuat antara kedua bangsa, sebagaimana terekam dalam arsip Harian Nasional Indonesia tahun 1947 yang mencatat dukungan timbal balik antara tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia dan Palestina di panggung internasional.
Selain Mufti Besar, tokoh Palestina lainnya yang sangat gigih adalah Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya dan ketua Panitia Palestina. Ali Taher menunjukkan dukungan yang sangat konkret dan mengharukan dengan menyerahkan seluruh tabungannya di Bank Arab kepada Panitia Pusat Pembela Kemerdekaan Indonesia tanpa meminta tanda bukti apa pun. Baginya, kemerdekaan Indonesia adalah harga mati yang harus didukung dengan harta dan jiwa, menunjukkan betapa dalamnya rasa persaudaraan antara Palestina dan Indonesia.

Muhammad Ali Taher juga aktif dalam “Lajnatud Difa’i ‘an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia) yang dibentuk di Kairo pada Oktober 1945. Melalui organisasi ini, ia bersama tokoh-tokoh Arab lainnya melakukan propaganda masif untuk menekan pemerintah Mesir dan negara-negara Liga Arab lainnya agar tidak mengakui kekuasaan Belanda kembali di Indonesia. Ali Taher bahkan tidak segan-segan mengkritik tajam para diplomat Arab yang dianggap lambat atau ragu dalam membela hak-hak kemerdekaan bangsa Indonesia di forum PBB.
Dukungan bangsa Palestina juga terwujud melalui partisipasi tokoh-tokohnya dalam berbagai konferensi internasional untuk memperkenalkan aspirasi Indonesia. Pada tahun 1929, Abdulkahar Muzakkir diundang hadir dalam Konferensi Buraq di Palestina, sebuah forum yang digunakan untuk mengenalkan bangsa Indonesia dan tuntutan nasionalnya kepada dunia Islam. Para tokoh Palestina melihat perjuangan Indonesia sebagai bagian dari perjuangan Timur melawan penjajahan Barat.
Pada Muktamar Islam Sedunia di Palestina tahun 1931, Abdulkahar Mudzakkir tampil sebagai peserta termuda dan dipercaya menjadi sekretaris kongres, sementara Syekh Amin al-Husaini, Mufti Agung Jerusalem, memimpin jalannya kongres. Dalam forum internasional tersebut, Abdulkahar dengan tegas menyuarakan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan setiap kali pertemuan serupa digelar, dukungan terhadap Indonesia selalu bergema. (Tashadi, Prof. Kahar Mudzakkir Riwayat Hidup dan Perjuangan, 1986: 18)
Dukungan bangsa Palestina juga merambah ke dunia sastra dan budaya melalui sosok Ali Ahmad Bakatir. Sastrawan kelahiran Indonesia yang menetap di Timur Tengah ini menulis drama dan roman yang menggambarkan kepahlawanan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Karya-karyanya dipentaskan di Kairo dan dibaca luas oleh masyarakat Arab, sehingga citra Indonesia sebagai bangsa yang gagah berani melawan penjajah semakin kuat di mata publik internasional.
Secara kolektif, rakyat Palestina dan bangsa Arab lainnya juga menunjukkan solidaritasnya melalui aksi-aksi nyata di jalanan dan masjid-masjid. Ketika berita tentang Pertempuran Surabaya sampai ke mereka, masyarakat di sana mengadakan doa bersama dan shalat ghaib untuk para pejuang Indonesia yang gugur. Demonstrasi-demonstrasi besar pun terjadi sebagai bentuk protes terhadap agresi militer Belanda, yang mereka samakan dengan ketidakadilan yang mereka alami sendiri di tanah air mereka.
Seluruh rangkaian dukungan dari tokoh dan bangsa Palestina ini menjadi pembuka jalan bagi misi diplomatik resmi Indonesia di Timur Tengah yang dipimpin oleh Haji Agus Salim. Berkat fondasi simpati yang telah dibangun oleh tokoh-tokoh Palestina, Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan de jure pertama dari Mesir, yang kemudian diikuti oleh negara-negara Arab lainnya. Sejarah mencatat bahwa Palestina adalah salah satu bangsa pertama yang mengulurkan tangan persaudaraan saat Indonesia baru saja lahir dan sedang berjuang mempertahankan eksistensinya. (MBS)




