Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Kisah Julaibib (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 April 2016 20:46 8:46 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 April 2016 20:46
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

DARI Abu Barzah Al-Aslami, ia menceritakan bahwasanya Julaibib adalah seorang sahabat Anshar. Dulu, bila ada sahabat Nabi yang mempunyai putri perawan (belum menikah), ia tidak akan menikahkannya sampai mereka menanyakan kepada Nabi, apakah beliau memerlukan putrinya tersebut atau tidak?

Suatu hari, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam mengatakan kepada salah seorang sahabat Anshar, “Wahai fulan, aku lamar putrimu!”

Ia menjawab, “Silakan wahai Rasulullah, dengan senang hati!”

“Tapi aku melamarnya bukan untuk diriku sendiri!” lanjut Nabi.

Sahabat itu bertanya, “Kalau begitu untuk siapa?”

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

“Untuk Julaibib,” demikian jawab Nabi.

“Kalau begitu, wahai Rasulullah, izinkan aku meminta persetujuan ibunya!” pinta sahabat tersebut.

Akhirnya orang itu mendatangi istrinya. Ia berkata, “Rasulullah melamar anakmu!”

Tentu saja si istri setuju. “O, silakan, senang mendapat menantu Rasulullah.”

Sang suami melanjutkan, “Tapi beliau bukan melamar untuk dirinya sendiri!”

“Lantas, untuk siapa?”

“Untuk Julaibib,” jawab sang suami.

Istrinya berkata, “Untuk Julaibib? Demi Allah, aku tidak akan menikahkannya dengan Julaibib!”

Ketika sahabat Anshar itu hendak menghadap lagi kepada Rasulullah, putrinya keluar dari kamarnya menemui kedua orang tuanya. Ia bertanya, “Siapa yang melamarku kepada ayah dan ibu?”

“Rasulullah.” jawab keduanya.

Ia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah? Bawalah saya kepada beliau. Sungguh beliau tidak akan menyia-nyiakan diriku!”

Akhirnya, sahabat Anshar tersebut membawa putrinya kepada Nabi. Ia berkata, “Terserah engkau wahai Rasulullah, ia menjadi hak Anda!”

Beliau pun menikahkannya dengan Julaibib.

Ishaq bin ‘Abdillah bin Abi Thalhah berkata kepada Tsabit, “Tahukah kamu, apa doa Rasulullah untuk wanita itu?”

Ia berkata, “Apa gerangan doa Nabi untuknya?”

Beliau mengucapkan doa, “Ya Allah, limpahkanlah kepadanya kebaikan demi kebaikan, dan jangan jadikan kehidupannya kesusahan demi kesusahan.” (Diriwayatkan Imam Ahmad).

Tsabit menuturkan, “Akhirnya Rasulullah menikahkan wanita itu dengan Julaibib. Sejak itu tidak ada perawan Anshar yang lebih dermawan berinfak melebihinya.”

Ibnu Sa’d berkata, “Aku mendengar ada seseorang bercerita, bahwasanya Julaibib berasal dari Bani Tsa’labah, yaitu suku yang menjadi sekutu kaum Anshar. Sedangkan wanita yang dinikahkan Nabi dengannya berasal dari Bani Harits bin Khazraj.”

Sekarang, mungkin ada yang bertanya, apa warna kulit Julaibib? Siapa nama ayahnya? Berapa umurnya? Semua pertanyaan ini tidak disebutkan jawabannya untuk kita, sebab tidak ada manfaatnya. Tinggallah Julaibib sebagai figur manusia shalih dan bertakwa yang sejarahnya mematahkan siapa saja yang memburu ketenaran palsu yang tidak ada manfaat dan faedah di dalamnya.

Lebih dari itu, hendaknya kita berusaha betul untuk menggapai makna-makna ukhuwah (persaudaraan) yang didasari keimanan. Karena persaudaraan seperti ini tidak terbatas pada diri orang-orang hebat tadi. Kita juga harus berusaha meraih keshalihan orang-orang yang tidak terkenal tersebut, yang hanya bisa kita kenali sifat keshalihan dan ketakwaannya.

Jika manusia bangga ketika bertemu dengan bintang terkenal, berbincang dan menyalaminya, maka hendaklah kita bersikap lain. Hendaknya kita lebih bersemangat dalam hal ketakwaan kepada Allah dan mendekati orang-orang bertakwa.*/Sa’id Abdul ‘Azhim, dikisahkan dalam bukunya Bertakwa Tapi Tak Dikenal.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Julaibib
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Julaibib (1)
Tulisan selanjutnya Bahrain Rilis Daftar Kelompok Teroris, Indonesia Disebut

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Suriah Tangkap 9 Bekas Pilot Tempur Era Rezim Bashar al-Assad

Berita
12 September 2026 10:12
Pengisi Utama Pro-Israel, Artis Portugal Berbondong-Bondong Tinggalkan Festival Lisbon
Bertemu Mahmoud Abbas Presiden Mesir Menolak Pengusiran Warga Palestina dari Jalur Gaza
Al-Azhar Kecam Serangan ke Arab Saudi, Minta Semua Pihak Tahan Diri
Ketahanan Keluarga Harus Dibangun dengan Akidah, Syariat, dan Akhlak

Terbaru

  • Erdogan akan Maju Pemilihan Presiden 2028
  • Gerebek Kelab Malam dan Bar Gay, Turki Tangkap 162 Aktivis LGBT
  • 87 Persen Penonton Situs Berita Muslim Inggris Tak Percaya Houthi Menargetkan Mekkah
  • Komisi Eropa Mengajukan RUU Larangan Akses Media Sosial Bagi Anak di Bawah 13 Tahun
  • Bertemu Mahmoud Abbas Presiden Mesir Menolak Pengusiran Warga Palestina dari Jalur Gaza
  • Wanita Afghanistan Dideportasi dari Amerika Serikat oleh Pengadilan ‘Alien Terrorist’
  • Didepak dari Tur Ed Sheeran, Macklemore Donasikan 1 Juta Dolar untuk Palestina
  • Sejumlah Negara Muslim Kecam Serangan Drone ke Mekkah
  • Tingkatkan Publikasi Internasional, Unhan RI Tekankan Integritas dan Etika Pemanfaatan AI
  • Texas Sahkan Kurikulum Sejarah Anti-Muslim, Kaitkan Islam dengan Perang dan Perbudakan

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?