Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Hidup yang Menghidupkan Hati

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 Januari 2019 14:48 2:48 pm
Ahmad
Dipublikasikan 3 Januari 2019 14:48
Bagikan
Bagikan

DI sebuah masjid perumahan di bilangan Bogor Jawa Barat, pada saat khutbah Jum’at (21/12) sang khotib menyebutkan kondisi memperihatinkan yang terjadi pada sebagian besar umat Islam, dimana yang tidak penting menjadi prioritas, sedangkan yang prioritas justru diabaikan.

“Banyak di antara kita yang membaca Al-Qur’an, lima menit pun tidak sanggup. Tetapi betah berjam-jam lamanya membaca Whatsapp, sehingga kita tidak merasa penting memperhatikan iman dan hati kita,” tegasnya.

Dalam era dimana informasi bak gelombang yang datang tiada henti, manusia kerapkali larut pada apa yang menarik perhatian banyak orang (viral), sehingga tanpa sadar, jari-jemari kita, mata dan konsentrasi kita tertarik untuk menyimaknya, pada saat yang sama kita perlahan, tanpa sadar, semakin jauh dari Al-Qur’an.

Kondisi ini, tentu penting kita pahami agar diri tak hidup sekedar bisa melihat, tetapi juga berarti dalam kehidupan ini. Dan, untuk sampai pada kondisi tersebut, tidak mungkin bisa diupayakan, jika kau Muslimi justru jauh dari Al-Qur’an.

Baca: Membaca dengan Hati 

Jadi, Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber penting yang dapat menjadikan hati manusia hidup dan menghidupkan kebaikan-kebaikan. Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan hati yang hidup adalah hati yang bisa mengambil manfaat dari setiap ajaran dan peringatan dari Al-Qur’an.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Dengan kata lain, agar hidup ini juga menghidupkan hati, kemudian menghidupkan kebaikan-kebaikan Islam di dalam kehidupan, tidak ada cara terbaik dan sangat penting dan mendesak untuk terus dilakukan, selain daripada berupaya senantiasa membaca kitab suci Al-Qur’an.

Seperti apa hati yang hidup itu? Qatadah berkata, orang itu punya pandangan yang tajam. Ia tak mudah silau oleh godaan gemerlap kehidupan dunia.

Kemudian, Ad-Dhahhak menyimpulkan, pemilik hati yang hidup adalah manusia yang bisa memaksimalkan potensi akalnya untuk memahami dengan benar tujuan kehidupan ini.

Jika sedemikian kebutuhan hati terhadap Al-Qur’an, lantas sudahkah kita membacanya dengan sungguh-sungguh. Atau setidaknya, adakah daftar membaca Al-Qur’an dalam agenda aktivitas selama 24 jam. Paling minimal, adakah lantunan ayat suci Al-Qur’an kita dengar dalam sehari-semalam aktivitas kehidupan kita?

Pertanyaan di atas penting kita ajukan bagi diri sendiri, agar tidak semakin jauh diri berjarak dengan Al-Qur’an, yang menjadikan ruhani kita gersang, lapar, haus, dan tidak mendapatkan nutrisi bergizi, sehingga pikiran dan tindakan tidak lagi sehat alias sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Baca:   Pahlawan Hati 

Tidakkah kita perhatikan, bagaimana baju, celana, kaos kaki dan sepatu kita perlu dicuci setiapkali dipakai? Seperti apa yang melekat pada badan, hati pun penting kita perhatikan, agar senantiasa bersih.

Dari Ibn Umar ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Hati ini berkarat seperti berkaratnya besi jika terkena air. Lalu beliau ditanya: Apa pembersihnya? Sabda beliau: banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran.” (HR. Al-Baihaqi).

Mari perhatikan bagaimana sejarah masuk Islam-nya sebagian kafir Quraisy. Sebagian karena melihat keagungan akhlak Rasulullah, tetapi tidak sedikit yang masuk Islam karena mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Umar bin Khathab, termasuk sahabat Nabi dari kalangan kafir Quraisy yang memeluk Islam karena mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Jadi, hati yang keras, beku, dan membatu, bisa lunak dan kembali hidup dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an.

Pantas jika kemudian Malik bin Dinar memberikan suatu penjelasan dengan berseru, “Wahai ahlu Al-Qur’an? Apa yang telah Al-Qur’an tanam pada hati-hati kalian? Sesungguhnya Al Quran itu mampu menghidupkan hati layaknya hujan yang menyuburkan tanah yang tandus sekalipun.”

Semakin hati seseorang hidup, maka akan lebih mudah dirinya mengenal dan mengikuti kebenaran yang telah diteladankan oleh Rasulullah, lebih mudah mengendalikan emosi, lebih paham tentang arti kemuliaan, tujuan hidup yang hakiki, sehingga ia bisa selamat dari segala macam cara berpikir materialis yang nampak bagi kebanyakan orang sebagai keberhasilan. Andai pun kemudahan hidup berupa materi berada dalam genggamannya, maka semua itu semakin memuluskan jalannya menebar kebaikan dan meraih ridho Allah Ta’ala.

Baca: Ada Empat Kondisi Hati, Di Mana Posisi Kita?

Terakhir, tanpa harus mengutip hadits pahala membaca Al-Qur’an, patut kita renungkan bersama, bahwa Al-Qur’an oleh Rasulullah disebut sebagai warisan (pusaka) yang menjamin kebaikan hidup setiap Muslim.

“Aku tinggalkan dua pusaka yang kamu sekali-kali tidak akan pernah sesat selagi kalian berpegang teguh pada keduanya; yakni Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya.” (HR. Imam Malik).

Dengan demikian, jika ada yang harus dipegang, dibaca, dicintai, kapan dan dimanapun, itu adalah Al-Qur’an dan Hadits.

Tentu, kita semua berharap dapat menjalani hidup yang dalam 24 jam senantiasa ada bacaan Al-Qur’an membasahi bibir kita, menenangkan jiwa kita, dan menghidupkan hati kita. Sebab, hanya dengan cara itulah hidup ini akan menghidupkan hati, yang berarti, kehadiran kita di muka bumi memberikan manfaat, memberikan arti, dan menebarkan kebaikan-kebaikan ajaran Islam.

Apabila suatu hari, lisan ini berujar keji, maka kita segera sadar, telah jauh diri dari Al-Qur’an, baik dari membacanya, lebih-lebih memahami dan mengamalkannya. Jika suatu saat, pikiran ini begitu menginginkan dunia, sadarlah diri bahwa boleh jadi bacaan Al-Qur’an baru sampai di lisan, belum menembus kedalam kesadaran hati. Al-Qur’an adalah parameter hidup kita, dan jauh dekatnya Al-Qur’an dalam hidup ini, bisa kita lihat dari pikiran, ucapan, dan tindakan kita sendiri.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dzikrullahhatiistighfarlisanmatimengingat Allah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Relawan Prabowo-Sandi Silaturahim dengan HRS di Saudi
Tulisan selanjutnya Indonesia Menunggu Jawaban Saudi soal Biometrik Jamaah Umrah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?