SEBERAPA jauh kadar cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa dibuktikan dengan sikapnya yang selalu ridha menerima keputusan Sang Khalik. Bagaimana tidak? Dia yakin bahwa Rabb-Nya tidak menginginkan apapun kecuali kebaikan.
Hamba tersebut juga meyakini bahwa Allah tidak akan menciptakan dirinya hanya untuk disiksa. Akan tetapi, Allah menciptakan dirinya dengan Kekuasaan dan Kemurahan-Nya kepada semua makhluk agar mereka semua dapat masuk ke dalam surga, tempat yang penuh nikmat dan abadi.
Selanjutnya, dia yakin bahwa setiap ketetapan Allah yang diarahkan kepada dirinya adalah sebuah langkah persiapan, untuk menuju ke tempat tersebut. Pahit getirnya takdir Allah yang ia rasakan, hanyalah sebuah sarana untuk mengingatkan, agar dia sadar akan hakikat keberadaannya di dunia.
Karena dunia ini bukanlah tempat tinggal yang sesungguhnya, akan tetapi hanyalah tempat ujian. Kelak, mereka pasti akan kembali kepada-Nya, sebelum segalanya terlambat.
“…Dan Kami timpakan kepada mereka adzab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Az-Zukhruf: 48)
“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian adzab yang dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (As-Sajdah: 21)
Qadha dari Allah juga merupakan instrumen pembersih hati dari noda-noda dosa dan kelalaian yang pernah dilakukan oleh seorang hamba, seperti disebutkan dalam hadits:
“Tidaklah sebuah musibah yang menimpa seorang muslim seperti penyakit, kegelisahan, kesedihan bahkan terkena duri sekalipun, kecuali Allah telah gugurkan dosa-dosa (kecilnya) dengan musibah tersebut.” (Muttafaq ‘Alahi).
Seluruh keputusan (qadha) yang telah ditetapkan oleh Allah untuk para hamba-Nya, sesungguhnya mengandung banyak kebaikan untuk mereka walaupun dalam realitanya terlihat tidak menyenangkan.
Sebagai misal, kita bisa melihatnya pada urusan rezeki, Allah melapangkan rezeki untuk sebagian orang dan menyempitkannya bagi sebagian lainnya. Hal ini bentuk pengajaran dari Allah demi kemaslahatan hamba-Nya, bukankah Allah berfirman:
“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 27).*/DR. Majdi Al-Hilali, terurai dalam bukunya Quantum Cinta. [Tulisan selanjutnya]