IMAM Adz-Dzahabi menceritakan dalam biografi sahabat Abu Tsa’labah Al-Khusyani, bahwasanya Abu Zhohiriyah berkata, “Aku pernah mendengar Abu Tsa’labah Al-Khusyani mengucapkan, “Ya Allah, jangan matikan aku dalam keadaan tercekik seperti yang kulihat orang-orang itu menemui kematian.” Maka ketika sedang shalat di tengah malam, ia meninggal dunia sementara ia masih dalam keadaan sujud.
Di saat itu, putrinya bermimpi melihat ayahnya itu meninggal dunia. Maka, ia terbangun sambil ketakutan dan memanggil ibunya, “Di mana ayahku?” “Di tempat shalatnya,” kata sang ibu. Maka putrinya langsung memanggilnya, namun ia tak kunjung menjawab. Ia pergi untuk membangunkannya. Ternyata, ia sudah meninggal dunia.
Yang semisal dengan kejadian di atas adalah, Amir bin ‘Abdullah bin Zubair yang tumbuh dalam didikan ayahnya. Ia tumbuh menjadi seorang ahli ibadah yang selalu bersegera menuju berbagai kebaikan. Ia banyak berdoa dalam kondisi apa pun. Sebab, ia tahu bahwa doa adalah ibadah. Di samping itu, doa dapat memberi pengaruh yang baik pada sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi.
Malik bin Anas r.a berkata, “Suatu malam, ‘Amir bin ‘Abdullah melaksanakan shalat Isya. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya dan tiba-tiba saja ia merasa ingin sekali berdoa. Maka ia mengangkat tangannya saat masih di jalan. Setelah itu, ia berdoa kepada Rabbnya semalam suntuk hingga berkumandang adzan Subuh. Akhirnya ia kembali ke masjid lagi dan shalat Subuh dengan menggunakan wudhu shalat Isyak.”
Sehari-hari ia dikenal sebagai seorang yang dermawan dan pemurah. Pernah ia datang kepada para ahli ibadah ketika mereka sedang bersujud. Di antaranya adalah Abu Hazim, Shofwan bin Sulaim, dan Sulaiman bin Syahm. Lalu ia meletakkan kantong berisi uang dinar dan dirham di atas sandal-sandal mereka. Mereka akan mengambilnya begitu keluar dari masjid.
Orang-orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak mengirimnya melalui utusan kepada mereka?” Ia berkata, “Aku tidak suka wajah mereka berubah ketika nanti mereka melihat wajah utusanku atau ketika berjumpa denganku.”
Bila ia menyaksikan penguburan jenazah, maka ia berdiri di samping kuburnya, lalu berkata, “Sungguh, aku melihatmu dalam keadaan susah. Sungguh, aku melihatmu dalam keadaan sedih. Sungguh, aku melihatmu dalam kegelapan. Jika engkau selamat, aku pasti akan melakukan persiapan seperti persiapan yang telah engkau lakukan.” Maka, harta pertama yang ia lihat pasti akan ia sedekahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika yang ia lihat budak-budaknya sepulang dari mengantar jenazah, pasti segera ia merdekakan.
Mush’ab bin ‘Abdullah berkata, “‘Amir bin ‘Abdullah mendengar suara adzan Maghrib dikumandangkan muadzin, ia rela berkorban dengan nyawanya. Kebetulan rumahnya dekat dengan masjid. Maka ia berkata, “Papahlah aku.”
Dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya kamu sedang sakit dan Allah telah memberimu udzur.”
Ia berkata, “Aku mendengar panggilan Allah. Apakah aku tidak menjawabnya?”
Akhirnya mereka memapahnya dan ikut dalam shalat Maghrib. Setelah rukuk bersama imam pada rakaat pertama, ia pun meninggal dunia.”
Kisah lainnya adalah seorang lelaki yang pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Ia bermaksud meraih keutamaan datang ke masjid lebih awal dan pahala mendengarkan khotbah. Dan, Allah mencabut nyawanya ketika dia sedang berada di majelis dzikir yang mulia, bersama para hamba yang mulia, dan di tempat yang mulia.
Ia meninggal dunia di hari Jumat. Semoga ia diselamatkan dari adzab kubur sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi bersabda:
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR Ahmad dengan sanad hasan)
Kita memohon kepada Allah agar Dia mewafatkan kita di atas Islam dan sunnah; menjadikan amal terbaik kita pada penutupnya, menjadikan umur terbaik kita pada detik-detik terakhir kehidupan, dan menjadikan hari terbaik kita di saat kita berjumpa dengan-Nya.*/Sa’d bin Said Al-Hujri, dinukil dari bukunya Mati Cuma Sekali, Persiapkanlah!