Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Hamba yang Menepis Rasa Takut (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Mei 2016 11:01 11:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Mei 2016 10:55
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

YANG dapat menepis rasa takut dari hati seorang hamba ialah perasaan aman, teperdaya, lalai terhadap keagungan hak-hak Allah Azza wa Jalla, tidak tahu dengan kewajiban untuk menaati-Nya, bangga dengan secuil ibadah yang dilakukan, dan menganggap banyak amal yang sejatinya sedikit.

Diriwayatkan Mas’ud berkata, “Kehancuran ada pada dua hal; putus harapan dan bangga diri.” Jadi, orang yang bangga diri, pasti lupa terhadap dosanya yang besar, dan hatinya pun pasti merasa aman dan teperdaya. Tanda seseorang merasa aman adalah hatinya keras membatu, sehingga bersikap dingin terhadap ancaman Tuhan. Singkatnya, kebekuan hati melahirkan rasa aman dari siksaan-Nya.

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah: 74).

Menurut salah satu tafsir, batu dipilih sebagai ilustrasi karena bisa pecah, terbelah, dan hancur karena takut kepada-Nya. Sedangkan orang yang hatinya keras karena merasa aman dari siksa Allah, hatinya lebih keras dari batu. Tidak pecah dan tidak takut pada ancaman Allah. Gemar melakukan sesuatu yang dimurkai Tuhan, dan suka menyia-nyiakan sesuatu yang dicintai-Nya.

Adapun tanda orang yang teperdaya ialah bermimpi memperoleh ampunan. Jiwanya merasa tenteram, berbaik sangka dan berharap kepada Allah, tapi ia tetap menyukai perbuatan maksiat. Ini adalah cermin orang yang teperdaya, bukan orang yang berharap. Sebab orang yang meletakkan harapan bukan pada tempatnya adalah orang teperdaya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharapkan orang yang bertobat tidak putus asa, tidak durhaka, tahu bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan sadar bahwa Dia berharap manusia tidak berlebihan.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195).

Menurut Al-Barra’, tafsir ayat ini adalah, hamba yang terjerumus ke dalam dosa besar berkata, “Binasalah aku!”, lalu tidak mau mencari nafkah di jalan Allah. Allah kemudian melarangnya putus asa, dan menyuruhnya mendekatkan diri dengan amal saleh.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal yang saleh.” (Al-Kahfi: 110).

Menurut salah satu tafsir, yang dimaksud dengan “mengharap perjumpaan dengan Tuhannya” ialah mengharapkan pahala-Nya.

Sikap berharap (raja’) diperintahkan dalam tiga bentuk. Pertama, tidak putus asa setelah melakukan dosa, sehingga bergegas tobat –sebagaimana diharapkan Allah– dengan harapan Dia menerima tobat tersebut. Jika putus asa berhasil disingkirkan, jiwa kita akan mengharapkan ampunan-Nya.

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar,” (Thaha: 82).

Kedua, mengingat dosa-dosa yang lalu, kemudian beramal saleh, dan jangan takut tidak diterima, sebab Allah menyuruh kita tidak berputus asa. Ketiga, sikap berharap dapat membangkitkan keinginan beramal saleh. Bila jiwa merasa berat untuk menjalankan amal saleh, kita beri harapan dengan keagungan pahala dan anugerah melimpah dari Allah Azza wa Jalla, sehingga beramal saleh menjadi ringan. Hanya gambaran akan limpahan anugerah saja yang dapat membuat seseorang merasa ringan melakukan amal saleh.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah,” (Al-Baqarah: 218).

Ada yang berkata kepada Hasan Al-Bashri, “Kaum sufi berharap tetapi mereka menyia-nyiakan amal.” Hasan Al-Bashri mengelak, “Percuma! Mereka hanya mengunggulkan angan-angan. Orang yang ingin memperoleh sesuatu, pasti berusaha mendapatkannya. Dan orang yang takut pada sesuatu, pasti lari menjauhinya.”

Pernyataan senada juga ditegaskan Muslim bin Yasar.*/Abu Abdillah Al-Muhasibi, dari bukunya Hidup Tanpa Derita. [Tulisan berikutnya]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:teperdayatidak takut
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Paris, Realitas Perkotaan dan Paradoks Romantisme [2]
Tulisan selanjutnya Hamba yang Menepis Rasa Takut (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?