Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Diam Langkah Pengekangan Lisan (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Januari 2017 17:14 5:14 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Januari 2017 17:14
Bagikan
Bagikan

LISAN adalah sarana dan alat pertama untuk mengungkapkan tentang diri atau jiwa. ‘Diri’ cenderung pada banyak hal, maka lisan adalah saluran terdekat untuk mengungkapkan semua hal tersebut.

Betapa banyak sesuatu yang tidak benar dicenderungi oleh ‘diri’ tampak pada lisan. ‘Diri’ ini condong untuk membanggakan diri, cenderung mengumpat dan berbantahan apabila marah, cenderung untuk mengobrol walau hanya omong, kosong, condong untuk mendebat orang lain, dan cenderung untuk menjadikan orang lain merasakan keutamaan dan keistimewaannya. Semua itu -dan masih banyak yang serupa- tidak seharusnya dipenuhi oleh seorang Muslim. Malah ia harus membiasakan diri untuk memelihara lisannya.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengekang lisan, dan tahap pertama dalam pengekangan lisan adalah diam. Lalu secara berjenjang dia terus berlatih sehingga terbiasa dengan pembicaraan yang wajar.

Orang yang tidak membiasakan diam, sulit menimbang-nimbang kata-katanya sebelum berbicara. Inilah satu di antara banyak hal yang karenanya membiasakan diam bagi seseorang sangat ditekankan sebagai bagian dari mujahadah, dan sebagai salah satu hal penting dalam perjalanan ruhani menuju Allah.

Kadangkala seseorang bisa berkata baik, namun kurang mampu berkata bijak. Suatu contoh, memperingatkan manusia dari murka atau kebencian Allah, dan memberi perhatian kepada mereka tentang api neraka adalah baik. Namun tidaklah bijak apabila hal itu dilakukan pada saat sedang makan. Itulah sebabnya para fuqaha tidak suka kepada orang yang memberi peringatan pada situasi yang demikian itu, karena hal itu merusak adab situasi dan kondisi.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Contoh ini memperjelas tentang bagaimana suatu kata menjadi baik tapi tidak bijak atau kurang membawa hikmah. Persoalan ini merupakan suatu masalah yang tidak berbatas dan tidak ada orang yang mampu melakukannya kecuali dengan taufik dari Allah. Karena itu Dia berfirman: Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. (Al-Baqarah: 269).

Membiasakan diri untuk diam merupakan awal dari pembiasaan menimbang kata-kata sebelum dilontarkan. Ini adalah hikmah kedua dari diam sebagai salah satu rukun mujahadah, dan tidak syak lagi bahwa lisan merupakan salah satu sumber dari kesalahan terpenting dan kesalahan besar. Kegagalan seseorang dalam mengekang lisan merupakan kegagalan besarnya dalam menggembleng diri dan dalam proses mendidik dirinya.

Diam adalah langkah awal dari pengekangan. Orang yang telah ‘sukses’ dalam melakukan proses diam berarti leluasa untuk sukses dalam mengutarakan pembicaraan yang terkendali dengan taufik Allah. Akhirnya, kalau kita ingat pada hadist, “Kalau tidak karena hati kalian ternoda dan pembicaraan kalian berlebih-lebihan, niscaya kalian akan mendengar apa yang aku dengar,” (HR Ahmad) akan kita dapatkan bahwa berlebih-lebihan dalam pembicaraan merupakan salah satu faktor dari tertutupnya hati dari hal-hal yang gaib. Karenanya, diam adalah jalan untuk kesehatan hati. Semua hal di atas menjadikan diam sebagai salah satu rukun dari mujahadah.

Tapi, diam yang bagaimana?

Diam yang merupakan obat –yakni diam yang merupakan awal dari pengekangan lisan– adalah diam yang berjenjang dan bertahap; diam yang bukan dari pembicaraan yang harus dilontarkan. Jika pembicaraan itu wajib, misalnya amar-ma’ruf nahi munkar, atau mengajarkan sesuatu yang fardhu, maka diam pada situasi yang demikian adalah haram hukumnya.

Dengan kategori tersebut, diam sangatlah baik sebagai salah satu tahapan dalam kehidupan manusia, dan diam hanyalah alat dan sarana, bukan tujuan. Diam juga sangat baik sebagai salah satu tahapan dalam kehidupan (selama jiwa konstan), dan bukan sebagai seluruh tahapan dalam kehidupan.

Berdasarkan ini, kita dapat memahami masalah diam sebagai salah satu rukun dari mujahadah.*/Said Hawwa, dari bukunya Jalan Ruhani.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bersikap diammenjaga lisan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Diam Langkah Pengekangan Lisan (1)
Tulisan selanjutnya Deklarasi Persaudaraan Umat Islam: Dukung Penuh MUI sebagai Lembaga Fatwa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?