Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Membersihkan Diri dengan Bersedekah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Juli 2017 20:37 8:37 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juli 2017 20:34
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

“SESUNGGUHNYA, berbahagialah orang-orang yang membersihkan dirinya dan mengingat nama Tuhannya, serta mendirikan shalat, tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A`la: 14-17).

Mengenai siapakah yang membersihkan dirinya, ada beberapa riwayat dari penafsiran alim ulama. Sebagian besar ulama mengatakan bahwa maksud “membersihkan dirinya” adalah orang yang menunaikan zakat fitrah, sebagaimana dikutip dari beberapa riwayat.

Banyak juga ulama yang menafsirkannya sebagai orang yang bersedekah biasa. Said bin Jubair rah.a mengatakan bahwa maksud dari lafadz “membersihkan dirinya” adalah orang yang membersihkan hartanya.

Qatadah rah.a. mengatakan bahwa makna “berbahagia” adalah membuat senang Sang Pencipta dengan hartanya. Abul Ahwash rah.a. berkata bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi rahmat kepada orang yang bersedekah, kemudian mendirikan shalat. Lalu ia membaca ayat tersebut.

Diriwayatkan juga darinya bahwa barangsiapa mampu bersedekah sebelum mengerjakan shalat, maka sebaiknya ia melakukan hal tersebut. Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Barangsiapa hendak menunaikan shalat, maka tidak ada salahnya apabila ia bersedekah terlebih dahulu.” Kemudian ia membaca ayat di atas.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Arfajah rah.a. berkata, “Saya telah meminta Abdullah bin Mas’ud r.a. agar membaca surat Al-A`la, maka ia pun mulai membacanya. Dan ketika sampai pada ayat yang artinya: “Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (ayat 16), ia berhenti membaca dan menghadap ke arah orang-orang yang hadir, kemudian berkata, “Kita lebih mementingkan dunia daripada akhirat.” Semua orang terdiam, lalu ia berkata, “Kita lebih mementingkan dunia karena kita melihat keindahannya, wanitanya, makanan dan minumannya, sedangkan benda-benda di akhirat tersembunyi dari pandangan kita. Jadi kita telah disibukkan dengan hal-hal yang ada di hadapan kita, dan meninggalkan hal-hal yang telah dijanjikan.”

Qatadah rah.a. berkata, “Semua manusia telah sibuk dalam masalah yang tampak (kebendaan yang berwujud dan tampak di dunia), dan meninggalkan segala sesuatu yang telah dijanjikan oleh Allah untuk kita, kecuali mereka yang diselamatkan oleh Allah. Padahal akhirat jelas lebih baik dan abadi.”

Anas r.a. meriwayatkan sabda Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bahwa La ilaha illallah akan menyelamatkan hamba Allah dari kemurkaan-Nya, selama hamba itu tidak mengutamakan dunia dari agama. Dan apabila mereka mulai mengutamakan dunia dari agama, maka La ilaha illallah pun akan dikembalikan ke atasnya, dan akan dikatakan bahwa ia berkata bohong.

Dalam riwayat yang lain, Nabi bersabda, “Barangsiapa bersaksi dengan kalimat La ilaha illallah wahdahuu laa syariikalahu, maka ia akan masuk surga selama ia tidak mencampurinya dengan yang lain (tidak mengotori kalimat tersebut). Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan hal ini hingga sebanyak tiga kali.

Hadirin terdiam semua (kemungkinan Rasulullah menunggu barangkali ada hadirin yang bertanya, dan seluruh hadirin terdiam karena adab, penghormatan, serta wibawa beliau). Kemudian dari jarak yang agak jauh, seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, saya kurbankan ayah dan ibu saya untuk engkau. Apakah yang dimaksud dengan mencampurkan dengan perkara yang lain?” Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan mengutamakannya, dan untuk hal tersebut, ia mengumpulkan harta untuk disimpan, dan ia bergaul dengan orang-orang yang zalim.”

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mencintai dunia, maka ia merusak akhiratnya. Dan barangsiapa mencintai akhirat, maka ia merusak dunianya. Oleh karena itu, utamakanlah untuk mencintai sesuatu yang kekal (akhirat) atas sesuatu yang fana (dunia).”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Dunia adalah rumah orang yang tidak mempunyai rumah di akhirat, dan harta bagi orang yang tidak mempunyai harta di akhirat, dan hanya orang-orang yang tidak berakal yang mengumpulkannya untuk dunia.”

Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa tidak ada satu pun di antara ciptaan-ciptaan Allah yang lebih dibenci-Nya daripada dunia. Setelah Allah menciptakan dunia, maka Dia sama sekali tidak melihat kepadanya dengan pandangan rahmat.

Dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa cinta dunia adalah puncak dari segala maksiat. (Durrul-Mantsur).*/Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a, dari bukunya Fadhilah Sedekah.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bersedekahcinta akhiratcinta duniamembersihkan diri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kecerdasan Zaman
Tulisan selanjutnya MK Diyakini akan Batalkan Perppu Ormas, Ini Alasannya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Berita
31 Agustus 2026 20:47
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?