KETIKA amarah muncul dan semakin meningkat, maka harus segera diobati dengan ilmu dan perbuatan. Ilmu yang dimaksud ada enam, sebagai berikut:
Pertama, hendaknya orang yang marah mengetahui keutamaan menahan amarah, memaafkan, dan bersikap sabar sehingga mengharapkan pahala-Nya. Dengan demikian, keinginan yang besar untuk meraih pahala menahan amarah, bisa menghentikan dari upaya membalas dendam dan membuat emosi reda.
Malik bin Aus bin al-Hadtsan meriwayatkan, “Umar pernah marah kepada seseorang dan menyuruh seseorang untuk memukulnya. Seketika aku berkata kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, “Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raf: 199).
Mendengar hal itu, Umar membaca ayat tersebut kembali. Ia menyimak ayat tersebut. Ia memang selalu merenungkan ayat Al-Qur’an yang dibacakan kepadanya. Ia terus mentadabburinya, kemudian membebaskan orang tadi.
Umar bin Abdul Aziz pernah menyuruh memukul seseorang. Lalu ia membaca firman-Nya, “Yang bisa menahan amarah.” (Ali Imran: 134). Seketika ia berkata kepada pembantunya, “Lepaskanlah orang tersebut!”
Kedua, hendaknya kita takut dengan hukuman Allah seraya berkata, “Kekuasaaan Allah atasku lebih besar daripada kekuasaanku atas orang ini. Kalau aku melampiaskan amarah kepadanya, aku tidak aman dari amarah Allah pada hari kiamat nanti, sementara aku sangat membutuhkan maaf-Nya.”
Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seorang pembantu untuk sebuah keperluan. Namun, jalannya sangat lambat. Ketika tiba, beliau berkata, “Kalau bukan karena takut kepada qishash, tentu aku sudah menghukummu.” Yakni, beliau takut dengan qishash di hari kiamat.
Diriwayatkan bahwa setiap raja dari Bani Israil selalu disertai oleh orang bijak. Setiap kali marah, sang raja diberi secarik kertas bertuliskan, “Kasihi kaum miskin, takutlah pada kematian, dan ingatlah pada akhirat.” Ia membacanya hingga amarahnya reda.
Ketiga, hendaknya kita takut terhadap akibat dari permusuhan, pembalasan dendam, keinginan musuh untuk menemui, serta upaya untuk menjatuhkan kehormatan, dan rasa senang mereka dengan musibah yang diterima, sementara kita pasti terkena musibah. Jadi, kita harus takut dengan berbagai akibat buruk dari amarah di dunia selain di akhirat.
Keempat, hendaknya kita merenungkan buruk wajah kita di saat marah dengan mengingat wajah orang lain ketika ia marah. Hendaknya kita membayangkan buruknya amarah serta bagaimana pemiliknya menyerupai anjing dan binatang buas, sementara orang pemaaf yang tenang dan tidak marah menyerupai para nabi, wali, ulama, dan ahli hikmah.
Kita bisa memilih; apakah ingin seperti anjing, binatang buas, dan orang-orang hina, atau ingin seperti para ulama dan nabi agar memiliki keinginan meneladani mereka jika masih memiliki akal.
Kelima, hendaknya kita merenungkan sebab yang mengantarkan kita melakukan balas dendam dan membuat kita tidak bisa menahan amarah. Pastilah sebabnya seperti ucapan setan kepada kita, “Orang ini telah membuatmu lemah, hina, kecil, dan hina di mata manusia.”
Dalam kondisi seperti itu, hendaknya kita berkata dalam hati, “Sungguh aneh saya ini. Saya tidak mau bersabar sekarang dan membiarkan diri hina pada hari kiamat, yaitu saat orang itu menuntut balas kepada saya.”
Keenam, hendaknya kita sadar bahwa amarah kita muncul karena tidak terima dengan sesuatu yang sebenarnya terjadi sesuai keinginan Allah. Lalu, apakah kita mesti berkata, “Keinginanku lebih utama daripada keinginan Allah!”
Maka hendaknya kita mengucap, “A’udzu billahi minasy-syaithanir rajiim.” Begitulah yang diperintahkan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pada saat seseorang sedang marah. Ketika Aisyah radiyallahu anha marah, Rasulullah memegang hidungnya seraya berkata, “Wahai Aisyah ucapkan,
“Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkan amarah di hatiku, dan lindungi aku dari ujian yang menyesatkan.” (HR Baihaqi).
Itulah yang dianjurkan untuk dibaca. Jika masih marah, hendaknya kita duduk jika sebelumnya berdiri, dan berbaring jika sebelumnya duduk. Dekatilah tanah yang merupakan asal penciptaan kita untuk mengetahui hinanya diri kita.
Apabila masih tetap marah, hendaknya berwudhu dengan air dingin atau mandi. Sebab, api hanya bisa dipadamkan dengan air. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu. Sebab, marah bersumber dari api.” (HR Ahmad).
Ibnu Abbas radiyallahu anhu mendengar Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika engkau marah, hendaknya diam.” Abu Hurairah radiyallahu anhu meriwayatkan bahwa jika marah dalam kondisi berdiri, Rasulullah duduk. Jika marah dalam kondisi duduk, Rasulullah berbaring hingga marahnya hilang.*Dr. Aidh al-Qarni, dari bukunya Laa Taghdhab-Jangan Marah.