Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Dari Anak Biologis Menjadi Anak Ideologis [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Desember 2015 08:33 8:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Desember 2015 08:33
Bagikan
Bagikan

Oleh: Sholih Hasyim 

ALANGKAH indahnya istilah anak yang dilukiskan di dalam Al Quran dan As Sunnah. Istilah tersebut menggambarkan dan mengajarkan kepada kita betapa mendalam hubungan batin antara orang tua dan anak.

Misalnya, qurratu a’yun (sedap dipandang mata), bidh’atun minhu (belahan jiwa), tsamratul qalb (buah hati), tsamratul fuad (buah hati), kupu-kupu surga, rizqun minallah (anugerah dari Allah), zinatul hayatit dunya (perhiasan kehidupan dunia).

Jika beragam istilah tersebut direnungkan dengan hati yang bersih, mengandung arti dan ‘ibrah yang sangat dalam. Di dalamnya terlukis bahwa kehadiran anak bagi orang tua sungguh sangat dinanti-nantikan.

Sebagai belahan jiwa, anak menjadi daya pikat yang kokoh dan sebagai ala an perekat yang kuat dalam jalinan tali sakinah, mawaddah, wa rahmah dan keharmonisan dan keutuhan rumah tangga. Anak merupakan unsur utama dalam memelihara dan melestarikan keutuhan unit masyarakat terkecil. Demi anak, orang tua rela kehilangan segala-galanya.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Kalau kita merinci deretan keinginan dan kebutuhan kehidupan, anak adalah barang yang paling berharga. Demi anak, dapat mengalahkan kepemilikan yang lain. Anak adalah perhiasan dunia yang menjadi kebanggaan orang tua. Jika terjadi peperangan, akan segera dihentikan agar tidak memakan banyak kurban dari kalangan anak-anak. Jika berkeluarga belum dikaruniai anak keturunan, seolah-olah seisi rumah tidak ada sesorisnya.

Hanya bangsa Zionis, anak menjadi sasaran peluru, karena dianggap sebagai bibit teroris.

Itulah sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda;

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاشِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ

“Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu).” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاشِرٌ بِكُمُ اْلأَنْبِيَاءَ يَومَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari Kiamat.” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا ٤٦

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS: Al Kahfi (18) : 46).

Bahkan, Rasulullah mengammbarkan kepada kita bahwa dunia anak adalah dunia yang menyenangkan. Laksana kehidupan yang fantastik di dalam surga. Kehidupan yang riang gembira tanpa disertai kesedihan. Seandainya terjadi kesalahpahaman, maka dengan amat mudah untuk rukun kembali. Disini kita perlu belajar dari dunia anak. Dinamika anak sejatinya gambaran dari romantika kehidupan.

Orang tua akan senang jika anaknya menjadi buah bibir manis masyarakat (lisana shidqin fil akhirin). Sebaliknya, orang tua akan sedih jika anaknya ditemukan sebagai sampah di lingkungan sosialnya. Seakan-akan masyarakat menjustifikasi dan menilai bahwa perbuatan anak merupakan foto copi orang tuanya.* (BERSAMBUNG)

Penulis tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakhalaqahKeluargaorang tua
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wartawan Peduli Syariat di Aceh Latih Kader Jurnalis
Tulisan selanjutnya [Foto] HAMAS Kunjungi Rumah-Rumah di Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?