Oleh: Musthafa Luthfi
Hidayatullah.com–Seorang analis Arab dalam kolomnya di salah satu koran Arab menggambarkan dunia Islam pada umumnya dan di Timur Tengah (Timteng) khususnya, pada 1430/2009 bagaikan tubuh manusia yang dalam kondisi insomnia akibat berbagai permasalahan pelik yang dihadapi, baik di dalam negeri masing-masing maupun terkait hubungan secara bilateral dengan sesama negara tetangga.
Khusus untuk situasi Palestina, selain menghadapi pendudukan dari penjajah Zionis yang didukung kuat sebagian besar dunia Barat sejak lebih dari 60 tahun, juga menghadapi perpecahan intern yang masih sulit disatukan, terutama antara faksi Fatah dan Hamas. Belum lagi perpecahan intern terselesaikan, warga Gaza kembali menghadapi masalah baru dengan dibangunnya tembok baja di perbatasan Gaza-Mesir yang sejatinya adalah keingingan AS dan Zionis Israel.
Pembangunan tembok pemisah perbatasan tersebut jelas makin memperuncing perpecahan intern Palestina karena otoritas Palestina yang dipegang oleh Fatah di Tepi Barat mendukung pembangunan tembok itu, juga memunculkan ketegangan baru antara Hamas dan Mesir. Dampak lainnya adalah rekonsiliasi intern Palestina yang sedang diupayakan Mesir akan mengalami kegagalan.
Masa depan Iraq yang masih belum menentu, juga sebagai pemandangan rutin yang menyedihkan. Meskipun akhirnya UU Pemilu disahkah parlemen, sehari kemudian tepatnya pada 8/12/09 terjadi ledakan hebat yang menyebabkan sedikitnya 130 orang tewas seketika, yang menjadi indikasi bahwa masih banyak pihak di negeri Babilonia itu yang tidak menyetujui keputusan parlemen tersebut karena target utamanya adalah mengenyahkan terlebih dahulu penjajah AS.
Melengkapi kepedihan bangsa Muslim dan Arab, khususnya pada tutup tahun 1430 ini yang kebetulan juga bertepatan dengan tutup tahun 2009, adalah keputusan Uni Eropa tentang kota Al-Quds pada 8 Desember lalu –yang seharusnya memperkuat keputusan PBB sebelumnya– yang malah memberikan lampu hijau bagi negeri Zionis untuk melanjutkan yahudisasi kota suci tempat kiblat pertama umat Islam itu.
Di luar negara Arab, situasi di Afganistan dan Pakistan makin memburuk. Pakistan misalnya dalam beberapa bulan belakangan ini menghadapi serangkaian aksi peledakan besar-besaran, yang menelan korban ratusan warga tak berdosa sebagai buah dari perseteruannya dengan pejuang Taliban yang ternyata memiliki massa dan pendukung besar, terutama di kalangan suku-suku pedesaan.
Sementara ketegangan hubungan antara Iran dengan beberapa negara sekitar seperti Iraq, Saudi, dan Yaman, juga mewarnai situasi kawasan. Hanya yang patut disyukuri, upaya gencar dan massif dari Zionis Israel, terutama melalui propaganda media massanya untuk mengalihkan poros permusuhan dari konflik Arab-Israel menjadi konflik Arab-Iran dengan dalih nuklir Iran, sejauh ini gagal.
Di balik sedemikian besar permasalahan dunia Islam itu, terutama di kawasan Timteng, tetap saja ada beberapa perkembangan menggembirakan yang perlu dicatat. Paling tidak sebagai semacam “hiburan” tutup tahun sebelum menyambut tahun baru 1431 H/2010 M. Di antaranya adalah sukses uji coba rudal balistik Sejil 2 Iran, hubungan Libanon-Suriah, dan indikasi normalisasi hubungan Iran-Mesir selaku dua negara besar di kawasan.
Uji coba rudal Sejil 2 Iran berlangsung pada 16 Desember (29 Zulhijjah) lalu atau sekitar 2 hari sebelum tutup tahun 1430. Rudal dengan jarak jangkauan antara 2.000-2.500 km itu secara teoritis dapat menjangkau Israel yang selama ini disebut sebagai musuh nyata bagi negeri Persia itu, disamping dapat juga menjangkau seluruh dunia Arab, Turki, Rusia, dan pangkalan-pangkalan Militer AS di kawasan Teluk.
Sejumlah pakar militer asing menilai bahwa rudal yang menggunakan bahan bakar padat itu, sulit dideteksi radar saat peluncurannya. Selain itu kecepatannya yang luar biasa saat memasuki atmosper, membuatnya sulit dihancurkan oleh roket antirudal, seperti disebutkan Menhan Iran, Jenderal Ahmad Wahidi. “Kecepatannya yang luar biasa begitu memasuki atmosper sehingga mustahil dapat dihancurkan roket antirudal,” paparnya.
Uji coba rudal Sejil 2 yang memiliki akurasi lebih tepat sasaran dari rudal sebelumnya Shahab 3, berlangsung pada saat ketegangan hubungannya dengan Barat yang mengancam akan meningkatkan sanksi atas Teheran melalui forum Dewan Keamanan (DK) PBB. Namun seperti biasa, negeri Syiah itu selalu menjawab ancaman demi ancaman dengan uji coba persenjataan barunya, yang sejatinya juga sebagai ancaman imbal balik. Memang demikianlah cara terbaik menghadapi hegemoni Barat.
Uji coba tersebut merupakan kelanjutan dari uji coba sebelumnya pada bulan Mei lalu. Uji coba kedua ini untuk lebih meyakinkan kemampuan pencegahan yang jauh lebih akurat dari uji coba sebelumnya bila Iran menghadapi serangan dari musuh. Dalam hal ini yang sering disebut-sebut adalah Israel, yang sejak jauh hari merasa ketar-ketir terhadap kemampuan persenjataan canggih Iran.
Serba sulit
Kemampuan persenjataan Iran membuat posisi Barat serba sulit mendikte Teheran menyangkut program nuklirnya, yang sampai saat ini menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum ada indikasi digunakan untuk tujuan militer. Serangan militer atas instalasi nuklir negeri itu sebagai salah satu opsi, juga sulit diterapkan sebab justru akan “menguntungkan” Iran.
Skenario paling memungkinkan adalah, bila Iran diserang Israel, maka negara tersebut segera mengumumkan pengunduran dirinya dari negara-negara penandatangan pembatasan penyebaran senjata musnah massal (nuklir). Selanjutnya Iran pun segera memutuskan hubungan dengan IAEA dengan menolak kelanjutan inspeksi seluruh instalasi nuklirnya sehingga dengan leluasa dapat memproduksi hulu ledak nuklir.
Di lain pihak, dukungan politis dunia Arab dan Turki pun akan meningkat kepada Iran karena posisi dasar Arab dan Turki selama ini adalah menginginkan kawasan Timteng bebas senjata pemusnah massal. Itu mencakup Israel. Secara tersirat berarti bila Israel tetap memiliki senjata nuklir, maka menjadi hak negara kawasan lainnya memiliki senjata serupa sebagai penyeimbang strategis.
Dengan kata lain, serangan Israel justru dapat menjadi pemicu Iran untuk lebih cepat memiliki senjata nuklir karena Teheran tidak perlu lagi bermain “kucing-kucingan” dengan IAEA setelah pemutusan hubungan dengan badan energi atom, yang sejatinya hanyalah perpanjangan tangan negara-negara Besar untuk menggencet negara berkembang yang ingin memiliki teknologi nuklir, meskipun untuk tujuan damai.
Guna mencapai dukungan kuat Arab-Turki, sedini mungkin Iran harus memperlihatkan husnun niah (niat baik) melalui aksi nyata dalam menata kembali hubungan dengan dunia Arab dan Turki yang bermazhab Sunni. Iran harus menghentikan upaya tashyii` (penyiahan) warga Sunni karena masalah keberadan dua mazhab ini sudah tidak bisa dikutik lagi hingga hari kiamat.
Selain itu, Iran juga harus membuktikan kepada dunia Arab bahwa keberadaan warga Syiah minoritas di beberapa negara Arab tidak dimanfaatkan sebagai salah satu kartu untuk melakukan intervensi dalam negeri negara lain. Pasalnya, masalah mazhab ini sedang dijadikan sebagai sarana oleh Israel dan AS untuk mengadudomba Arab-Turki di satu pihak, dengan Iran di pihak lain.
Itulah skenario yang lebih mendekati kenyataan, meskipun tidak menutup kemungkinan skenario buruk lainnya, yang intinya pembalasan Iran secara militer terhadap target Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk (Bahrain dan Qatar). Tidak cukup sebatas itu, Iran akan berbalik mendukung Taliban untuk menghadapi pasukan Barat di Afganistan, disamping memanfaatkan Hizbullah dan Hamas untuk melakukan serangan di dalam Israel.
Tentang pembalasan Iran itu, harian Al-Quds pada 17 Desember lalu, mengutip media Israel, menyebutkan tentang kedua skenario tersebut. Bahkan skenario kedua disebutkan sebagai opsi yang sangat memungkinkan, di mana Iran dapat dengan mudah menghujankan rudal Sahab 3-nya ke seluruh pelosok Israel dengan membawa hulu ledak kimia.
Menyangkut pemanfaatkan faksi-faksi pejuang Arab oleh Iran, negeri Zionis itu mengkhawatirkan Hizbullah yang paling berbahaya karena pada perang musim panas 2006 telah terbukti bahwa faksi perjuangan ini mampu dengan akurat menghujani target-target vital di dalam Israel menggunakan roket-roket yang dicurigai buatan Iran. Suriah sebagai sekutu utama Iran juga tidak akan menutupi lagi tentang peranannya dalam pemasukan senjata canggih Iran ke Hizbullah, meskipun tetap bersikap netral bila Iran diserang Israel.
Intinya, kemampuan persenjataan negeri Persia itu yang dibuktikan dengan keberhasilan uji coba rudal Sejil 2 membuat Barat harus berpikir berkali-kali untuk memberikan lampu hijau kepada Israel guna menyerang Iran, sebab baik Iran membalas secara militer atau tidak, serangan itu akan segera memunculkan Iran sebagai anggota baru pemilik senjata nuklir di dunia, yang justru ini yang paling dikhawatirkan Barat.
Libanon-Suriah
Pada awal tahun baru Hijriyah 1431 tepatnya pada 19 Desember lalu, yang bertepatan juga dengan tutup tahun Miladiyah, publik Arab terutama Libanon dan Suriah, sedikit lega dan terhibur menyusul kunjungan PM Libanon terpilih, Sada Hariri ke Damaskus untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden Bashar Assad.
Paling tidak kunjungan tersebut telah menutup lembaran sebelumnya, yang dianggap sebagai masa paling sulit dan sensitif bagi bangsa Arab menyangkut hubungan intern dunia Arab. Ketika ketegangan mewarnai hubungan kedua negara tersebut, upaya-upaya massif untuk membenturkan keduanya tidak henti-hentinya, bahkan ibaratnya kedua negara tidak bisa bernafas menghadapi upaya tersebut.
Namun akhirnya kedua belah pihak menyadari konspirasi luar tersebut, yang tujuan utamanya adalah mengalihkan perhatian dari isu utama umat Islam, yakni pendudukan Zionis di Palestina. Diharapkan kunjungan tersebut sedikit demi sedikit mengungkap keterlibatan Zionis atas pembunuhan mantan PM Rafiq Hariri bulan Februari 2005, yang selama ini tuduhan selalu dialamatkan ke Suriah.
Hampir 5 tahun sejak kematian mendiang PM Hariri, hubungan kedua negara diwarnai sikap emosional sehingga tidak memberi kesempatan bagi para tokoh kedua negara untuk mengungkap konspirasi tersebut. Setelah 5 tahun berlalu, kedua belah pihak akhirnya menemui kembali logika persaudaraan, terlebih-lebih telah didahului dengan kunjungan Raja Saudi, Abdulah Bin Abdul Aziz yang menandakan rujuknya kembali Saudi-Suriah.
Kekuatan 14 Mei (pemilik kursi mayoritas parlemen Libanon) pendukung PM Hariri menilai bahwa kunjungan Saad Hariri ke Damaskus merupakan peluang emas yang tidak bisa diulangi lagi bila dibiarkan berlalu tanpa tindak lanjut dalam bentuk implementasi hasil-hasil kunjungan. Saad sendiri pada akhir kunjungannya mengumumkan bahwa kunjungannya ke Suriah bagian dari rujuk bersama Arab.
Di lain pihak, Suriah dan Turki terus maju menuju kemitraan yang ditandai dengan kunjungan PM Turki Racep Ordogan ke Suriah 23 Desember lalu sebagai tindak lanjut dari persetujuan koordinasi tingkat tinggi kedua negara. Pada kunjungan itu sekitar 51 persetujuan, MoU, dan program eksekutif kerjasama kedua negara ditandatangani sebagai bagian pertama dari pelaksanaan kemitraan.
Tidak kalah menggembirakan pula hasil pertemuan Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani dengan sejumlah pejabat tinggi Mesir di sela-sela mengikuti sidang Uni Parlemen Islam di Kairo. Hasil pertemuan salah satu tangan kanan pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khomanei itu membersitkan harapan tentang normalisasi hubungan kedua negara yang selama ini selalu urung terjadi akibat kelihaian Zionis dan Barat dalam memperluas kesenjangan antara kedua negara terkemuka di kawasan Timteng itu.
Ketegangan hubungan Iran-Mesir bermula dari sukses revolusi menggulingkan Syah Iran, Reza Pahlvei pada 1979, kemudian pembunuhan mendiang Presiden Anwar Sadat pada 1981. Namun kedua negara tetap memelihara hubungan dalam tingkat lebih rendah, yakni perwakilan untuk melayani warga kedua negara masing-masing di Kairo dan Teheran.
“Selama ini, kedua negara tidak pernah menutup upaya normalisasi dan Mesir juga menolak menjadikan Iran sebagai musuh, seperti desakan Israel, bahkan tetap membuka peluang untuk menormalisasikan hubungannya dengan Iran dalam posisi tidak saling intervensi urusan masing-masing,” papar pengamat politik Mesir, Musthafa Alawi dalam acara Depth News TV Aljazeera, Qatar tentang peluang normalisasi hubungan Mesir-Iran (23/12).
Beberapa perkembangan menggembirakan itu, meskipun tidak seberapa dibandingkan dengan tragedi yang masih menimpa kawasan, setidaknya dapat menjadi hiburan bagi bangsa-bangsa kawasan yang masih menderita akibat ulah imperialisme Barat. Hiburan-hiburan ringan ini tentunya sebagai cikal bakal menuju hiburan lebih besar, yakni kemitraan negara-negara Muslim kawasan, terutama Arab-Iran-Turki.
“Kemitraan Arab-Iran-Turki satu satunya yang dapat memberikan peluang bagi tatanan ulang regional dan solusi berbagai isu secara damai,” ujar Dubes Abdul Rauf Al-Reidi, Ketua Dewan Hubungan Luar Negeri Mesir, usai bertemu Larijani di Kairo. Sebuah harapan yang sejatinya tidak sulit bila ada political will di kalangan pemimpin kawasan tersebut. [hidayatullah.com]
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang berdomisili di Yaman