Oleh: Musthafa Luthfi
TERKESAN dengan khutbah salah satu khatib Jum`at di ibu kota Sana`a, Yaman, Jum`at (24/02/2012) lalu yang antara lain mengupas tentang keberhasilan Pilpres berbentuk referendum di negeri itu sebagai salah satu hasil kesepakatan untuk mengeluarkan Yaman dari lingkaran setan kekerasan. Sang khatib menggambarkan pemilihan orang nomor satu Yaman itu dengan sebutan youm masyhud (hari yang disaksikan) atau hari bersejarah.
“Perubahan yang diharapkan tidak mesti memunculkan kelompok tertentu lalu meminggirkan kelompok yang lain. Perubahan adalah meninggalkan pemerintahan lama yang hanya ditangani oleh kelompok tertentu menjadi pemerintahan dengan partisipasi semua pihak yang berkompeten mengurus bangsa ini,” antara lain isi khutbah sang khatib sambil mengutip sebuah hadis tentang kearifan bangsa Yaman.
Tak lain hadis yang dimaksud adalah sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam riwayat Imam Muslim “Al-Iman Yamani wal hikmah Yamaniyah” (Iman di Yaman dan hikmah (kearifan) ada di Yaman). Hampir semua atau mayoritas tokoh-tokoh negeri hikmah itu termasuk para ulama dan pemuka suku mendukung kuat pelaksanaan Pilpres sebagai jalan tengah menghentikan krisis berkepanjangan sekaligus jalan keluar dari kekerasan serta pembuka jalan menuju perubahan yang diinginkan rakyat yang dimotori kaum muda.
Bahkan diantara tokoh kelompok Salafy yang selama ini dikenal menolak (mengharamkan) pemilu juga ikut menghimbau rakyat Yaman menyukseskan Pilpres yang menjadi salah satu kesepakatan pihak-pihak yang bertikai sesuai gagasan negara-negara kaya minyak Teluk yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC). “Pilpres adalah jalan ideal menghindari bangsa dari perpecahan dan perang saudara,” antara lain papar Syeikh Aqeil al-Maqtari.
Salah seorang tokoh Salafi Yaman itu juga menyatakan bahwa pihaknya sedang meriset sandaran syariat yang memungkinkan untuk partisipasi dalam (setiap) pemilu. Bisa jadi kelompok Salafi di negeri hikmah ini akan mengikuti saudaranya di Mesir yang mengusung Partai Nur dan sukses meraup suara nomor dua terbesar setelah Al-Ikhwanul Al-Muslimun dalam pemilu perdana akhir tahun lalu pasca kejatuhan rezim Mubarak.
Dukungan kuat dari para tokoh nasional, politisi, kaum ulama dan para pemuka adat tersebut terbukti berhasil menarik mayoritas rakyat yang memiliki hak pilih untuk berbondong-bondong ke TPS-TPS pada hari H untuk mencontreng kata “na`am” (ya) untuk Wapres Abdo Rabbu Mansour Hadi yang menandai lengsernya Presiden Ali Abdullah Saleh dan alih kekuasaan secara damai setelah terjadi krisis panjang sejak akhir Januari 2011.
Wapres Mansour Hadi, akhirnya memperoleh dukungan 99,8% suara sah pemilih yang menyatakan “na`am”, sesuai pengumuman KPU Yaman, Jum`at (24/2). Menurut hasil final, 6.635.192 (sekitar 66 %) dari 10.243.364 pemilih yang memenuhi syarat memberikan suara mereka, dalam pemilihan Selasa (21/02/2012), yang meskipun sempat diwarnai insiden di beberapa tempat di wilayah selatan, namun secara umum berjalan lancar bahkan respon besar rakyat negeri itu diluar prediksi para pengamat.
Mereka rata-rata antusias untuk sesegera mungkin dapat melihat alih kekuasaan dengan damai sehingga situasi kehidupan keseharian bisa berjalan normal dan perubahan dapat membawa bangsa ke arah yang lebih baik. “Insya Allah saya akan ikut nyoblos bahkan saya kira sebagian besar rakyat akan ikut nyoblos untuk memilih “na`am” buat Wapres,“ kata Ali, seorang pemilik toko sembako.
Proses persiapan Pilpres yang singkat hingga hari pencoblosan dan penghitungan suara berjalan sangat lancar dan diluar dugaan serta tanpa ada halangan berarti di hampir seluruh daerah. Hal ini membuktikan bahwa sebagian pihak yang meragukan keberhasilan Pilpres tidak cermat melihat antusias rakyat negeri itu yang rela memberikan banyak konsesi demi tercapainya alih kekuasaan secara damai.
Menjelang dan pasca Pilpres, tampak pula kehidupan keseharian di negeri Sheba ini secara berangsur-angsur mulai pulih termasuk yang terkait dengan pelayanan umum seperti listrik yang sudah kembali normal yang meskipun masih terjadi pemadaman namun tidak lama. Demikian pula dengan BBM yang tersedia memenuhi kebutuhan dan juga gas rumah tangga serta yang lebih penting lagi kondisi keamanan semakin kondusif yang antara ditandai dengan hampir tidak ada lagi terdengar baku tembak terutama di ibu kota Sana`a.
Wapres Hadi pada Sabtu (25/02/2012) akhirnya diambil sumpahnya sebagai Presiden baru Yaman dan secara resmi bertugas setelah serah terima dengan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh pada Senin pagi (27/02/2012) waktu setempat. Hadi antara lain berjanji untuk mempertahankan kesatuan negara, kemandirian, dan integritas teritorial serta dalam pidatonya antara lain berjanji untuk membuka dialog dengan semua kekuatan politik, memulihkan keamanan di negara miskin itu, dan melanjutkan perang melawan Al-Qaidah.
Hampir semua pengamat sepakat bahwa alih kekuasaan secara damai pasca krisis yang berlangsung sekitar setahun di negeri itu telah berjalan mulus hingga pengambilan sumpah presiden baru. Mengenai ada sebagian pihak dan faksi di Yaman yang masih belum puas dengan proses perubahan ini, tentunya menjadi pekerjaan rumah (PR) orang nomor satu baru negeri hikmah tersebut yang siap menggelar dialog sesuai janjinya saat pidato setelah pelantikan.
Paling sukses
Banyak pihak berharap bahwa dengan sukses besar Pilpres tersebut, negeri itu dapat mengatasi dampak gejolak politik selama setahun belakangan ini dengan bijaksana sehingga tidak terjadi lagi pertikaian politik yang mengarah kepada pertumpahan darah kembali. Secara perinsip, semua pihak telah sepakat bahwa mereka tidak ingin memutar arah jarum jam kembali ke belakang, karena fokus utama adalah masa depan perubahan tersebut.
Dengan telah dilantiknya Hadi sebagai Presiden baru Yaman, banyak pengamat melihat bahwa negeri tersebut telah membuka lembaran baru dan mulai mengisi perubahan yang menjadi tuntutan masyarakat meskipun banyak tantangan yang akan dihadapi Hadi yang hanya menjabat selama dua tahun hingga 2014. Paling tidak pada masa-masa awal jabatannya, rakyat telah menemukan kembali salah satu nikmat terbesar yang diberikan Sang Pencipta kepada hamba-hamba-Nya, yakni nikmat keamanan.
Sejak semula, Hadi yang menjadi calon tunggal hasil kompromi politis seluruh parpol dan para tokoh nasional negeri itu, diharapkan minimal dapat memulihkan situasi keamanan dan layanan masyarakat setelah sekitar 11 bulan hidup dalam ketakutan. Secara umum, Yaman hingga saat ini menjadi satu-satunya negara dari negara-negara Arab yang mengalami “musim semi“ yang sukses membukukan alih kekuasaan lewat kompromi politis.
Karena itu, saya sependapat dengan analisa yang menyebutkan bahwa keberhasilan alih kekuasaan lewat kompromi politis ini menjadikan negeri iman dan hikmah ini membukukan revolusi “musim semi Arab” paling sukses. “Yaman telah membukukan dirinya sebagai negara “musim semi” Arab paling sukses dalam alih kekuasaan dengan korban jiwa dan kekacauan yang paling sedikit,” komentar sejumlah pengamat Arab.
Dukungan kuat internasional dan regional terutama dari negara-negara GCC kaya minyak akan banyak membantu Yaman yang masuk salah satu negeri miskin kawasan, menyukseskan perubahan dimaksud. Dukungan tersebut sangat penting mengingat masih banyak masalah yang belum terselesaikan sehingga minimal negeri ini dapat menanamkan tradisi alih kekuasaan secara damai hingga masa transisi berakhir pada 2014 mendatang.
Dengan keberhasilan Pilpres tersebut, negara-negara donor terutama GCC diharapkan segera mencairkan komitmennya terkait bantuan finansial kepada pemerintah persatuan nasional. Sebagaimana diketahui bahwa negara-negara donor sebelumnya telah meletakkan beberapa syarat pencairan bantuan, diantaranya keberhasilan Pilpres dan penghentian aksi kekerasan.
Negeri itu yang ibaratnya baru memulai mengobati lukanya, tidak hanya membutuhkan apresiasi atas sukses politis tersebut, tapi aksi nyata untuk membantunya benar-benar keluar dari dampak krisis. Apresiasi luas masyarakat internasional atas keberhasilan Pilpres tersebut sudah berlalu, yang sangat dibutuhkan rakyat negeri itu setelahnya adalah komitmen nyata.
Masyarakat internasional diharapkan tidak “mempermainkan“ rakyat Yaman dengan janji sebatas janji mengingat kondisi negeri ini berbeda dengan negara-negara Arab “musim semi“ lainnya yang telah lebih dahulu melengserkan rezim. Yaman beda dengan Mesir dan Tunisia dikarenakan tingkat kemiskinan di Yaman demikian parah disamping angka buta huruf yang masih tinggi sehingga sangat tergantung uluran tangan khususnya dari negara-negara tetangga GCC yang petrodollar.
Tidak mudah
Sebagaimana banyak pihak sepakat atas hasil memukau Pilpres itu, mereka juga sepakat bahwa tantangan yang dihadapi Presiden baru sangat besar dan kompleks sehingga misi yang diemban selama dua tahun ke depan tidak mudah. Diantara tantangan tersebut adalah meyakinkan sebagian warga wilayah selatan yang pro pemisahan bahwa di era perubahan ini terdapat harapan sesungguhnya bahwa warga selatan akan mendapatkan haknya dalam pemerintahan dan pembangunan secara adil.
Sebagaimana diketahui warga bekas Yaman selatan, penduduknya hanya sekitar 25 % dari total 23 juta jiwa penduduk Yaman sehingga sebagian besar berada di utara (bekas Yaman Utara). Meskipun demikian, kekayaan alam Yaman sebagian besar berada di bagian selatan terutama minyak bumi yang menjadi pemasukan utama negara tersebut.
Tantangan lainnya adalah reformasi di tubuh militer setelah selama 33 tahun masa kekuasaan mantan Presiden Saleh, banyak jabatan startegis di tubuh militer dikuasai oleh keluarga dan kroni-kroninya. Banyak pengamat menilai bahwa keberhasilan reformasi di tubuh militer ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan perubahan yang dipimpin Hadi.
Tantangan lainnya adalah kelompok al-Houthi di utara yang beraliran Syiah yang sampai saat ini nampaknya masih belum puas dengan proses alih kekuasaan tersebut. Kelompok al-Houthi telah terlibat perang secara sporadis dengan pasukan pemerintah sejak 2004 sampai kesepakatan damai tercapai pada bulan Februari 2010, namun sebagian besar kesepakatan tersebut belum sempat diterapkan di lapangan, Yaman telah dihinggapi “badai musim semi“ Arab yang bermula dari Tunisia.
Masalah al-Qaeda yang belum terselesaikan pada masa pendahulunya juga akan menjadi tantangan yang tidak kalah beratnya bagi Hadi. Bahkan beberapa saat setelah pelantikannya, gerakan itu dicurigai berada dibalik bom mobil di depan istana kepresidenan di kota Mukalla, Hadramaut, sekitar 800 km timur ibu kota Sana`a yang menewaskan 26 orang tentara elit Yaman.
Akhirnya tantangan terbesar dari semua yang disebutkan sebelumnya adalah pembangunan ekonomi negara, sebab negeri ini oleh banyak pengamat disebut belum memiliki infrastruktur ekonomi sesungguhnya dikarenakan pembangunan nasionalnya sebagian besar ditopang dari bantuan luar negeri termasuk negara-negara tetangga Teluk kaya minyak.
Terlepas bagaimana nantinya Presiden Hadi dapat mensiasati berbagai tantangan dimaksud, yang jelas keberhasilan alih kekuasaan secara damai lewat kompromi politis tersebut minimal telah membuktikan bahwa negeri itu pantas mendapat predikat al-hikmah yamaniyah . Sejalan pula dengan pepatah Arab berbunyi “ma la yudroku kolluhu la yutraku julluhu” (sesuatu yang tidak dapat dicapai semuanya, maka jangan ditinggalkan sebagian darinya). Wallahu A`lam.*/Sana`a, 4 R. Thani 1433 H
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman