Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisa Dunia Islam

Hubungan Arab-Iran Bukan Sekedar Isu Nuklir [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Maret 2015 08:13 8:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Maret 2015 07:07
Bagikan
Bagikan

Oleh: Musthafa Luthfi

SELAIN perang multi nasional pimpinan AS melawan milisi Negara Islam (IS) di Iraq dan Suriah, isu nuklir Iran masih menjadi isu terhangat di kawasan Timur Tengah sehingga berbagai gejolak di sejumlah negeri Arab seakan terabaikan mulai dari Libya di ujung barat hingga Yaman di ujung timur dunia Arab. Dunia saat ini sedang menunggu kesepakatan yang akan dicapai oleh enam negara besar (lima negara anggota tetap DK PBB yakni AS, China, Inggris, Prancis dan Rusia plus Jerman) dan Iran.

Pada 2 Maret 2015 lalu, PM ‘israel’, Benjamin Netanyahu kembali memperihatkan posisi menentang kebijakan Presiden AS, Barack Obama terkait kebijakan negeri Paman Sam itu untuk terus mengupayakan solusi damai bagi penyelesaian isu nuklir Iran. Di hadapan anggota Kongres AS Netanyahu menyampaikan pidato “berapi-api“ terkait isu nuklir tersebut dan mendapat sambutan tepuk tangan meriah yang belum pernah didapatkannya di hadapan Kneset (parlemen) ‘israel’.

Netanyahu mengeritik pedas kebijakan Obama yang dalam waktu dekat diprediksi akan berhasil mencapai kata sepakat dengan Iran terkait program nuklir negeri Mullah itu. Para petinggi Iran dan sejumlah pejabat dari enam negara besar termasuk Menlu AS, John Kerry telah menyampaikan isyarat makin dekatnya kesepakatan antara kedua belah pihak.

Adapun beberapa hal yang masih mengganjal disebutkan hanya terkait pelaksanaan kesepakatan secara teknis dan mendetail seperti  pencabutan sanki atas negeri Persia itu. Para pemimpin zionis nampaknya tidak senang dengan kesepakatan damai dimaksud sehingga terus berupaya mempengaruhi enam negara besar itu khususnya AS agar mengambil langkah tegas secara militer guna menghentikan ambisi nuklir Iran.

Baca Juga

Betulkah Gabung Board of Peace merupakan Tindakan Realistis?
Masjid Dikepung, Ulama Dipenjara: Jejak Panjang Diskriminasi di Tajikistan
Amerika Serikat dan Proyek Genosida di Gaza
Kebijakan Politik Iran dan Dilema Amerika
Muslim Tajikistan: Ditekan Penguasa, Diincar ISIS

Pidato PM Netanyahu di Kongres awal Maret lalu itu oleh sejumlah pengamat dinilai sebagai upaya terakhir negeri Yahudi itu untuk menggagalkan kesepakatan enam negara besar dengan Iran dengan cara meyakinkan para anggota Kongres agar melakukan tindakan cepat guna menggagalkan kesepatan itu. ‘israel’ khawatir bahwa kesepakatan tersebut justeru akan mempersingkat waktu bagi Teheran untuk mewujudkan ambisi memiliki bom nuklir.

Adapun dalih lainnya adalah nuklir Iran menjadi “ancam serius“ eksistensi ‘israel’ tak lebih hanya bualan belaka yang sering menjadi bahan ledekan, karena masyarakat dunia sudah berkomitmen bahwa setiap negara pemilik senjata nuklir tidak mungkin menggunakannya untuk menghancurkan negara lain. Penggunaan senjata nuklir untuk menyerang negara lain adalah garis merah internasional sehingga hampir mustahil Iran akan menggunakannya untuk menyerang ‘israel’ karena akan berakibat kehancuran negara Persia itu sendiri.

Adapun dalih Netanyahu bahwa kesepakatan itu tidak akan menjadi kendala bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir atau bahkan mempercepatnya untuk memiliki senjata pemusnah massal itu bisa jadi banyak benarnya. Karenanya upaya terakhir yang dilakukannya adalah melobi Kongres agar menghentikan kesepakatan dimaksud meskipun peluang ke arah itu oleh banyak pengamat dinilai sangat kecil.

Pidato berdurasi sekitar 40 menit itu sempat dijeda dengan sekitar 43 kali tepuk tangan meriah anggota Kongres yang meneriakkan dukungan terhadap posisi ‘israel’ yang menentang rencana kesepakatan enam negara Besar dengan Iran. Secara kebetulan pidato itu bertepatan pula dengan pembicaraan antara Menlu AS, John Kerry dengan mitranya Menlu Iran, Mohammed Javad Zarif di Wina guna membahas sejumlah masalah pending sebelum batas waktu kesepakatan berakhir pada 31 Maret 2015.

Netanyahu juga mengingatkan bahwa bila kesepakatan tersebut tercapai maka akan menimbulkan lomba senjata baru di kawasan Timur Tengah. “Kami telah mengingatkan sejak setahun yang lalu bahwa lebih baik tidak tercapai kesepakatan bila kesepakatan tersebut buruk dan lebih baik bagi dunia bila kesepakatan ini tidak ada,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui pada 17 Maret mendatang, ‘israel’ akan melangsungkan pemilihan umum legislatif yang akan menentukan apakah Netanyahu masih akan dipercaya sebagai orang nomor satu negeri Yahudi itu. Ada dugaan bahwa upaya mengganjal rencana kesepakatan nuklir negeri Mullah itu adalah salah satu bagian dari kampanye untuk mendapatkan simpati para pemilih ‘israel’.* (bersambung)

Penulis adalah pemerhati masalah Timur Tengah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerikaarab springiranPemberontakan SyiahsyiahTimur Tengah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya FORKAMI: Ulama dan Umara Harus Berkumpul Bahas Syiah
Tulisan selanjutnya FORKAMI Desak MUI Bogor Keluarkan Fatwa Kesesatan Syiah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Berita
13 Juli 2026 15:40
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Analisa Dunia Islam

Al-Sisi dan Lelucon Kontra-Terorisme di Mesir

22 Mei 2022 10:55
Analisa Dunia Islam

Yahya Sinwar

4 Juni 2021 09:05
Analisa Dunia Islam

Pencaplokan De facto Tepi Barat dan Definisi Nyeleneh ‘Israel’

10 Juli 2020 16:28
Analisa Dunia Islam

Turki, Libya dan Pertaruhan Islam Politik di Timur Tengah

25 Juni 2020 16:43
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?