Oleh: Dr. Adian Husaini
Alhamdulillah, pada 11-20 Ramadhan 1437 Hijriah, Pesantren Shoul Lin al-Islami Depok telah menamatkan kajian Kitab Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali (w.1111 M). Para santri (kelas 7 dan 8 setingkat SMP) diajak untuk menelaah kitab ini kata per kata, di bawah bimbingan langsung mudir (pemimpin) Pesantren, Ust. Muhammad Ardiansyah.
Kitab Ayyuhal Walad merupakan kitab kecil yang berisi nasehat Imam al-Ghazali kepada salah satu muridnya. Meskipun dikaji oleh anak-anak, tetapi isi Kitab ini tetap sangat penting untuk kita renungkan, tanpa pandang usia. Nasehat-nasehat yang disampaikan Sang Imam sangatlah bernas. Karena itu, melalui tulisan ini, kita coba mengutip sejumlah nasehat Imam al-Ghazali kepada salah satu muridnya tersebut:
“Wahai Ananda, diantara nasehat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam kepada umatnya, ialah, bahwa diantara tanda-tanda Allah berpaling dari seseorang adalah orang itu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Dan, jika satu “sa’at” saja umur seseorang hilang – karena digunakan bukan untuk yang semestinya ditentukan Allah – maka patutlah ia menyesali tanpa putus-putusnya. Juga, barang siapa yang umurnya melewati 40 tahun, sedangkan amal baiknya belum melebihi amal jahatnya, maka siap-siaplah ia masuk neraka.”
Nasehat Imam al-Ghazali ini sangatlah penting untuk kita renungkan. Betapa berharganya waktu kita. Rasulullah saw telah mengingatkan kita semua: “Dua nikmat, yang kebanyakan manusia terlena adalah nikmat sehat dan waktu luang.” (HR Bukhari).
Nasehat Imam al-Ghazali ini begitu berharga. Sebab, ini menyangkut efisiensi waktu. Anak-anak yang mengaji kitab Ayyuhal Walad rata-rata sudah berumur di atas 12 tahun. Anak perempuan sudah dewasa secara fisik. Anak laki-laki biasanya sudah mendekati dewasa. Mereka diingatkan agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk hal-hal bermanfaat, khususnya untuk mencari ilmu yang bermanfaat.
Masa-masa tersebut adalah umur keemasan bagi seseorang untuk meraih ilmu. Karena itu jangan sampai waktu untuk meraih ilmu bermanfaat itu disia-siakan. Imam Syafii, dalam salah satu syairnya berpesan: ”Wa man faatahu at-ta’liimu waqa syabaabihi; fakabbir ’alaihi arba’an li-wafaatihi.” (Barangsiapa yang tidak menggunakan masa mudanya untuk mencari ilmu, maka bacakan takbir empat kali). ”Wa dzaatul fataa wallaahi bil-ilmi wat-tuqaa; idza lam yakuunaa laa-i’tibaara lidzaatihi” (Demi Allah, hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa; jika kedua hal itu tiada padanya maka tak bisa disebut pemuda). ”Wa man lam yadzuq murrat-ta’allumi saa’atan; tajarra’a dzullal jahli thuula hayaatihi” (Barangsiapa yang tidak pernah merasakan pahitnya mencari ilmu – walaupun sesaat – maka ia akan terjerumus dalam kebodohan yang hina sepanjang hayat.).
Dalam syair lainnya, Imam Syafii berkata: Wa’lam bi-anna al-ilma laysa yanaaluhu, man hammuhu fi math’amin aw malbasin. (Ketahuilah, ilmu itu tidak akan didapat oleh orang yang cita-cita hidupnya hanya untuk makanan dan pakaian); Falaw laa al-ilmu maa sa’idat rijaalun, wa laa ’urifa al-halaalu wa laa al-haraamu. (Andaikan tanpa ilmu, maka seorang tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan tidak dapat mengetahui mana halal dan mana haram). (Lihat, buku Koleksi Syair Imam Syafi’i, karya Yusuf Syekh Muhammad al-Baqi (Terj. Drs. Abdul Rauf Jabir, Pustaka Amani Jakarta).
Itulah nasehat para ulama yang agung tentang berharganya masa muda untuk meraih ilmu dan ketaqwaan. Imam al-Ghazali benar-benar memperingatkan muridnya, bahwa tanda Allah berpaling dari seorang manusia adalah ketika manusia itu menyibukkan diri pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Rugi sekali jika waktu terbuang percuma, walaupun hanya untuk mengerjakan yang mubah. Karena bertambahnya umur tidak menambah kebaikan baginya.
Niat dan amal
Sejumlah hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengingatkan perlunya perhatian khusus terhadap masa muda. Diantaranya, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah akan bergeser kaki manusia pada hari Kiamat dari sisi Tuhannya, sampai ia ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan; tentang hartanya — dari mana dia peroleh dan untuk apa dia gunakan — dan tentang apa yang dia lakukan dengan ilmunya.” (HR Tirmidzi).
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pun mengingatkan, agar kita memanfaatkan masa muda untuk persiapan masa tua. Kata Nabi saw: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. (1) Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim).
Imam al-Ghazali sangat menekankan arti penting masa muda ini, sehingga jangan sampai berlalu sia-sia. Karena itulah, dalam Kitab Ayyuhal Walad, al-Ghazali menasehati muridnya agar lebih menfokuskan mencari ilmu yang bermanfaat. Yakni, ilmu yang dicari dengan niat yang ikhlas dan ilmu yang diamalkan.
Seorang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu, pagi siang dan malam, tetapi dengan tujuan untuk meraih harta benda, mengejar kesenangan dunia, dan berlomba-lomba saling mengungguli antar kawan, maka ia termasuk orang yang malang. “Maka celakalah kamu, dan celakalah kamu! (fa-waylun laka tsumma waylun laka!)” tegas Imam al-Ghazali.
Sebaliknya, jika seorang mencari ilmu diniatkan untuk menghidupkan syariat Nabi Muhammad saw, mensucikan jiwa, dan menundukkan hawa nafsu, maka ia termasuk manusia beruntung. “Maka, berbahagialah kamu, dan berbahagialah kamu!” (fa thuuba laka, tsumma thuuba laka),” begitu petuah Imam al-Ghazali, “Hiduplah kamu sesuka hatimu, tetapi ingatlah, kamu pasti akan mati! Cintailah siapa pun yang kamu cintai, tapi ingatlah kamu pasti akan berpisah dengan dia! Dan berbuatlah kamu sesuka hatimu, tetapi ingatlah bahwa kamu pasti akan menerima balasan yang setimpal!”
Disamping niat yang ikhlas, Imam al-Ghazali pun menekankan pentingnya ilmu untuk diamalkan. Kata Sang Imam: “Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia.” (al-‘ilmu bilaa ‘amal junuun, wal-‘amal bi ghayri ‘ilmin laa yakûn). Ingatlah, ilmu yang tidak menjauhkan seseorang dari maksiat dan tidak mengantarkan kepada ketaatan, tidak akan bisa membebaskan manusia dari siksa api neraka jahannam.
“Dan jika kamu tidak mengamalkan ilmumu di dunia ini dan tidak menyesali kelalaianmu di masa lalu, maka kamu akan berkata di akhirat nanti: Ya Allah kembalikanlah kami ke dunia, kami akan beramal shaleh (QS 32:12), maka kamu akan mendapatkan jawaban: Hai bodoh, bukankah kamu sudah datang dari dunia!” demikian antara lain nasehat Imam al-Ghazali kepada muridnya.* [BERSAMBUNG]
Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com