Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Kebangkitan Islam Indonesia Bukan Karena Pluralisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 September 2020 08:46 8:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 September 2020 08:46
Bagikan
[Ilustrasi] Jamaah membaca doa qunut nazilah dalam shalat subuh berjamaah pada Aksi Bela Palestina di Lapangan Medan Merdeka Monas, Jakarta, Ahad (17/12/2017).
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

Hidayatullah.com | PADA 2 November 2004, dimuat sebuah tulisan di Harian Republika berjudul “Memahami Kebangkitan Islam”. Tulisan itu berkisah tentang kekhawatiran sejumlah pejabat dan ilmuwan Barat terhadap kebangkitan Islam di Indonesia. Dikutiplah sebuah buku berjudul “Islam in Indonesia: Modernism, Radicalism, and the Middle East Dimension (Brighton: Sussex Academic Press, 2004).”

Dikatakan bahwa watak kebangkitan Islam di Indonesia adalah unik, terutama jika dibandingkan dengan Islam di Timur Tengah. Jika di Timur Tengah umumnya ”kebangkitan Islam” itu ditandai dengan peningkatan kesalehan dan konservatisme berbarengan dengan penguatan Islam politik dengan ideologi fundamentalis dan bahkan militansi dan radikalisme– maka ”kebangkitan Islam” di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan.

Anggapan bahwa ”kebangkitan Islam” di Indonesia ditandai dengan peningkatan toleransi dan penerimaan yang kian meluas atas gagasan-gagasan dasar tentang pluralisme keagamaan, adalah keliru. Sebab, pluralisme agama bukanlah dasar kebangkitan Islam. Justru, pluralisme agama adalah pemusnah Islam, dan juga pemusnah  agama-agama lainnya.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Dalam bukunya, Christian Theology: an Introduction, (Oxford: Blackwell Publisher, 1994), Alister E. Mcgrath, menulis bahwa ada tiga cara orang Kristen dalam melihat agama-agama lain, yaitu eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Tentang pluralisme, dijelaskan bahwa: “In pluralism, no one religion is superior to any other; each and every religion is equally valid way to truth and God.”

Jadi, dalam paham pluralisme, semua agama dianggap jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Tidak ada agama yang lebih hebat dibandingkan yang lain. Di kalangan muslim, virus ini sudah disebarkan oleh para dosen agama di sejumlah kampus, melalui disertasi doktor dan thesis master mereka. Ibarat virus Corona, virus pemikiran ini sudah menjangkiti para tenaga medis. Harusnya, dokter atau perawat itu memberantas virus, tetapi justru menjadi penyebar utama virus ganas ini.

Jadi, dalam pluralisme agama, tidak ada satu agama yang dianggap lebih unggul dari yang lain. Seorang penganut paham Pluralisme Agama memiliki pandangan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan.

Dalam pandangan Islam, paham semacam ini jelas bathil. Sebab, dalam ikrar syahadat, seorang muslim berikrar: “Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Itu artinya, seorang muslim pasti meyakini, bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan beriman kepada kenabian Muhammad saw. Hanya dengan cara itu ia memahami siapa Tuhan yang sebenarnya; bagaimana cara menyembah-Nya, dan bagaimana menempuh jalan kehidupan agar selamat dunia akhirat. Setelah Nabi Muhammad saw diutus – sebagai nabi terakhir – maka seluruh umat manusia wajib mengakuinya sebagai Nabi, dan wajib menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Inilah keyakinan paling mendasar bagi seorang muslim. Mengakui “semua agama benar” sama saja dengan mengatakan, “semua agama salah”. Menyamakan Islam dengan agama penyembah setan adalah pelecehan terhadap Islam.

*****

Salah satu tokoh paham ini adalah pendiri Islamic Studies di McGill University, Wilfred Cantwell Smith. Ia mengaku dirinya merupakan pendukung gagasan “a universal theology of religion”. Satu lagi, tokoh paham ini adalah John Hick, seorang guru besar dalam Teologi Kristen. Perjalanan intelektual John Hick menunjukkan, ia sampai pada paham ini setelah melakukan penghancuran secara mendasar terhadap teologi Kristen melalui bukunya “The Myth of God Incarnate” (1977). (Lihat, Adnan Aslan, Religious Pluralism in Christian and Islamic Philosophy: The Thought of John Hick and Seyyed Hossein Nasr, (Richmond Surrey: Curzon Press, 1998).

Paham “Pluralisme Agama” adalah produk sejarah peradaban Barat yang traumatik terhadap “teologi eksklusif Gereja” dan problema teologis Kristen, serta realitas teks Bible. Jika peradaban Barat kemudian mengembangkan dan memaksakan paham ini agar dianut oleh pemeluk agama-agama yang ada, dapatlah dimaklumi. Sebab, peradaban Barat pada hakikatnya memang ‘anti-agama’, sebagaimana dikatakan Muhammad Asad (Leopold Weiss): “… so characteristic of modern Western Civilization, is as unacceptable to Christianity as it is to Islam or any other religion, because it is irreligious in its very essence). (Muhammad Asad, Islam at The Crossroads,  (Kuala Lumpur: The Other Press).

Lihatlah nasib agama-agama di Barat sekarang ini. Berdasar survey tahun 2019, oleh Eurobarometer, 10% penduduk Eropa menyatakan diri sebagai ateis. Pada bulan Mei 2019, angka penganut ateisme di beberapa negara Eropa adalah sebagai berikut: Czech Republic (22%), Perancis (21%), Swedia (16%), Estonia (15%), Slovenia (14%), Spanyol (12%), Belanda (11%).

Sementara itu, 17% penduduk Eropa menyebut diri mereka ‘non-believers’ atau ‘agnostik’. Berikut daftar yang mengaku agnostic di beberapa negara:  Belanda (41%), Czech Republic (34%), Swedia (34%), Inggris  (28%), Estonia (23%), Jerman (21%), Spanyol (20%).  (https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Europe#Atheism_and_Agnosticism).

Itulah nasib agama Kristen di Eropa. Karena itu, salah besar anggapan bahwa jika paham pluralisme agama dikembangkan, Islam akan bangkit di Indonesia. Yang terjadi bukan “kebangkitan Islam” tetapi “kebangkrutan Islam”. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 26 September 2020).*

Penulis adalah pendiri At-Taqwa College Depok (ATCO). Langganan 1000 artikel klik di sini

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Adian HusainiislamKebangkitan Islam Indonesiapluralisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Duta Besar UEA: Warga Palestina Harus Berterima Kasih atas Normalisasi
Tulisan selanjutnya Laporan: Arab Saudi akan Melarang Semua Impor Turki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?