Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Tetapkah Fokus pada Tujuan Kemerdekaan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Januari 2022 17:12 5:12 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Januari 2022 17:30
Bagikan
[Ilustrasi] Bendera Merah Putih berkibar.
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

Menyambut tahun 2022, maka umat Islam dan bangsa Indonesia perlu tetap fokus pada tujuan kemerdekaan

Hidayatullah.com | PERJALANAN kita terasa begitu cepat. Tahun 2021 tiba-tiba saja berlalu. Waktu terus berjalan, tanpa kompromi.

Laksana pedang, waktu melibas segala sesuatu yang mencoba menahan lajunya. Suka atau tidak suka, kita harus masuk ke tahun 2022.

Menyambut tahun 2022, maka umat Islam dan bangsa Indonesia perlu tetap fokus pada tujuan kemerdekaan. Para pendiri bangsa telah menetapkan tujuan perjuangan bangsa Indonesia, sebagaimana trecantum dalam Pembukaan UUD 1945:

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

***

Bacalah untaian kata-kata indah dalam Pembukaan UUD 1945 itu berulang kali. Itu bukan rumusan kata-kata biasa. Tetapi, sangat dalam maknanya. Para pemimpin beserta seluruh rakyat Indonesia bertanggung jawab untuk mewujudkan negara yang: MERDEKA, BERSATU, BERDAULAT, ADIL DAN MAKMUR!

Dalam batas tertentu, kemerdekaan, kedaulatan, persatuan relatif sudah terwujud. Setidaknya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih utuh. Kita sudah dan tetap menjadi negara merdeka melalui perjuangan yang pajang dan berat. Itu patut disyukuri. Saudara-saudara kita di Palestina, hingga kini belum mendapat haknya untuk mendirikan satu negara Palestina Merdeka!

Kita meyakini kemerdekaan adalah rahmat dari Allah. Maka, nikmat kemerdekaan wajib disyukuri! Kemerdekaan kita bukan suatu bencana! Karena itulah, seluruh kekuatan umat Islam bersepakat untuk mendukung fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari, 22 Oktober 1945, bahwa mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajah adalah wajib hukumnya!

Adapun tujuan akhir dari perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah: “… mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Mewujudkan keadilan adalah perintah al-Quran. Begitu banyak ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan kita berlaku adil. Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, keadilan akan terwujud jika adab ditegakkan. Bahkan, Prof. al-Attas merumuskan, tujuan mencari ilmu adalah untuk menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri seorang manusia (inculcation of justice in man as man and individual self). (Lebih jauh, silakan dibaca buku Islam and Secularism, karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas).

Penanaman nilai-nilai keadilan itu harus dilakukan dalam seluruh lapisan masyarakat, mulai diri sendiri, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan itu menjadi tanggung jawab orang tua, guru, ulama, dan seluruh pejabat pemerintah. Bisa dikatakan, tonggak penanaman nilai-nilai keadilan itu dimulai dari keluarga.

Karena itulah, Rasulullah ﷺ mengingatkan, bahwa setiap anak lahir dalam kondisi fitrah. Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani, atau Majuzi.

Al-Quran surat at-Tahrim ayat 6 juga mengingatkan kepada kepala keluarga: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!” Kata Ali bin Abi Thalib, ayat itu memerintahkan orang tua agar melakukan dua hal: “Jadikan keluargamu manusia-manusia beradab dan berilmu!”

Inilah tanggug jawab orang tua yang sangat berat. Yakni, menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri dan keluarganya.  Proses ini akan berhasil jika ada faktor keimanan, keteladanan, pembiasaan, dan penegakan disiplin aturan.

Tidaklah mudah untuk berlaku adil dan beradab terhadap diri, keluarga, dan juga masyarakat serta bangsa. Tugas-tugas dakwah dan kemasyarakatan yang sangat padat bisa saja suatu ketika berdampak kepada perlakuan tidak adil kepada diri dan keluarga.

Kita bukan hanya wajib memperjuangkan tegaknya kebenaran pada tataran sosial-kemasyarakatan, tetapi juga wajib membangun jiwa dan raga sendiri. Jiwa harus semakin bersih dari waktu ke waktu. Proses pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) wajib terus dilakukan, tanpa henti.  Sebab, hanya manusia yang mensucikan jiwanya yang akan meraih kemenangan. Celakalah orang-orang yang mengotori jiwanya.

Jiwa yang sehat adalah yang bersih dari kekufuran, kemalasan, kelemahan, kemunafikan, riya’, sombong, dengki, cinta dunia, cinta kedudukan, dan berbagai penyakit  jiwa lainnya.   Membersikan jiwa dari penyakit-penyakit  tersebut bukan perbuatan yag mudah, tetapi perlu perjuangan yang sungguh-sungguh.  Inilah yang disebut sebagai “mujahadah ‘alan nafsi”, yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ sebagai satu bentuk jihad fi sabilillah (Hadits shahih, riwayat Imam at-Tirmidzi).

Indonesia adalah negeri muslim terbesar, warisan para ulama dan para pejuang terdahulu.  Tugas dan kewajiban generasi kita sekarang dan generasi mendatang adalah terus melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia menjadi negeri yang semakin beradilan, sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” itulah yang harus terus dilakukan oleh setiap muslim di Indonesia, agar mereka menjadi umat terbaik dan mampu memimpin dan mewujdkan negeri kita menjadi negeri yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Semoga di tahun 2022, penanaman nilai-nilai dan penegakan keadilan akan semakin baik, ke dalam diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa kita semuanya! Aamiin./Depok, 31 Desember 2021.*

Penulis Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kemerdekaanperjuangan kemerdekaantujuan kemerdekaan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hukum Safar Wanita
Tulisan selanjutnya Fenomena Spirit Doll, Buya Yahya: Dalam Islam Adopsi Boneka untuk Dijadikan Anak Tidak Boleh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun

Berita
9 Juni 2026 05:00
Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?