Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Etos Kerja: Antara Telur Bebek dan Daging Kambing

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Juni 2012 05:38 5:38 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Juni 2012 05:38
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

SUATU pagi seekor bebek berjalan berdampingan dengan seekor kambing di pasar desa. Melihat ada tumpukan telur bebek yang dijual oleh seorang pedagang, sang bebek berkata ringan ‘wek wek wek, wek wek wek…’ yang artinya kurang lebih ‘itulah karyaku, itulah karyaku…’. Sambil terus berjalan keduanya kemudian melihat ada pedagang lain yang sedang menggantung karkas kambing yang baru dipotongnya. Dengan suaranya yang berat dan bergetar, sang kambing berkata ‘mbek, mbeek, mbeeek…’, yang artinya kurang lebih ‘itulah pengorbananku, pengorbanan keluargaku, pengorbanan bangsaku…’.

Bagi seekor bebek menghasilkan telur adalah pekerjaannya sehari-hari, dia melakukan rutinitas bertelur ini dengan ringan – tanpa beban dan tanpa perlu komitmen yang besar. Situasinya sangat berbeda bagi kambing, menghasilkan daging adalah suatu perwujudan pengorbanan dan komitmen yang luar biasa. Kambing hanya bisa menghasilkan daging dengan mengorbankan dirinya!

Dalam bekerja ataupun berusaha, kita juga mengalami suatu kondisi yang seperti telur bebek dan daging kambing tersebut. Ada yang melaksanakan pekerjaannya hanya sekedar rutinitas harian, pagi pergi ke kantor melaksanakan apa yang harus dilaksanakannya sesuai job description yang dia miliki – kemudian sore hari pulang. Begitu seterusnya hari demi hari dilalui sebagai rutinitas, ringan, tanpa beban dan tanpa komitmen pengorbanan yang besar.

Tetapi ada pula orang-orang yang bekerja atau berusaha di segala bidang dengan total commitment, dia memperjuangkan nilai atau sesuatu yang lebih dari sekedar bekerja untuk mendapatkan penghasilan, bahkan dia rela untuk mengorbankan dirinya untuk ini.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Di segala bidang pekerjaan, selalu ada orang yang masuk kategori pertama maupun kategori kedua. Bahkan di kelompok pengusaha atau yang ingin disebut dirinya pengusaha-pun ada yang seperti bebek tersebut, sekedar melaksanakan rutinitas – tanpa komitmen apalagi pengorbanan.

Saya mengenal ada seorang dokter kandungan yang luar biasa, dia bekerja siang malam tidak mengenal lelah. Dia selalu siap dipanggil jam berapapun – bila pasiennya membutuhkannya, dan bahkan rela meninggalkan liburan bersama keluarganya untuk menolong pasiennya yang akan melahirkan. Baginya bekerja lebih dari sekedar mencari nafkah, dia tidak mengenal lelah untuk bekerja karena setiap saat berangkat menolong kelahiran jam berapapun (24/7/365) – dia niatkan saat itu dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk bisa membantu menyelamatkan dua nyawa sekaligus, nyawa si bayi dan nyawa si ibunya sendiri.

Kita juga mengenal sangat banyak melalui media, bahwa di tengah tanggung jawab besar untuk menyelamatkan rakyat dari kemiskinan dan keterpurukan, wakil-wakil terhormat kita malah malas bersidang. Kalau toh mereka hadir sidang, mereka asyik bercengkerama satu sama lain, browsing internet, chatting, baca koran, tidur dan bahkan ada yang tertangkap basah sedang nonton video porno. Mereka punya tanggung jawab besar, tetapi disikapinya tanpa komitmen apalagi pengorbanan – bagi mereka pekerjaan itu adalah rutinitas semata, berangkat kantor, menunggu (membuang ) waktu, menikmati fasilitas dan tanpa beban. Tentu tidak semuanya demikian, tetapi citra demikian mudah kita peroleh dari berbagai media dan berita.

Yang bisa kita ambil pelajaran adalah bahwa baik yang bekerja sekedar melaksanakan rutinitas maupun yang bekerja dengan full commitment dan pengorbanan, waktu yang tersedia itu sesungguhnya sama. Hanya saja yang bekerja melaksanakan rutinitas semata akan merasa waktu itu panjang, maka dia berusaha membuang waktu dengan membaca koran, chatting dan sejenisnya.

Sebaliknya yang bekerja dengan full commitment seperti dokter kandungan yang saya ceritakan di atas, waktu terasa tidak pernah cukup baginya. Dia hanya sempat membaca pesan-pesan penting dari hp-nya, jangankan chatting atau browsing yang nggak perlu – baca koran-pun dia jarang sempat.

Hanya diri kita sendiri yang tahu, termasuk pekerja yang mana kita ini. Kita semua mempunyai waktu yang sama, tergantung kita untuk memanfaatkannya. Apakah akan kita buat rutin dan longgar sehingga waktu terasa lama dan membosankan. Atau kita isi dengan penuh komitmen dan pengorbanan sehingga waktu terasa padat dan bahkan terasa tidak pernah cukup.

Lebih dari itu semua, Di mata Allah niat yang akan membedakannya sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut: “Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang berjalan bersama dengan para sahahat, tiba-tiha mereka menyaksikan seorang pemuda yang nampak gagah perkasa sedang bekerja keras membelah kayu bakar. Dan beberapa sahahat pun berkomentar: “Celakalah pemuda itu. Mengapa keperkasaannya itu tidak digunakan untuk Sabilillah (jalan Allah)?” Lantas, Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kalian berkata demikian. Sesungguhnya bila ia bekerja untuk menghindarkan diri dari meminta-minta (mengemis), maka ia berarti dalam Sabilillah. Dan jika ia bekerja untuk mencari nafkah serta mencukupi kedua orang tuanya atau keluarganya yang lemah, maka iapun dalam Sabilillah. Namun jika ia bekerja hanya untuk bermegah-megahan serta hanya untuk memperkaya dirinya, maka ia dalam Sabilisy syaithan (jalan setan)””.

Mudah-mudahan ini bisa menyemangati kita dalam bekerja, sekaligus meluruskan niat – agar pekerjaan ini bisa masuk kedalam kategori Fi Sabilillah. Insyaallah.*

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DKI Jakarta Juara Umum MTQ Nasional XXIV
Tulisan selanjutnya Menag Bantu Gereja dan Masjid di Ambon Sebesar Rp 1,4 M

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?