Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Merdeka Dengan Bergandengan Tangan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Maret 2013 08:03 8:03 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Maret 2013 08:03
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

PADA tahun 1939 Josef Stalin mengadakan perjanjian rahasia dengan Adolf Hittler untuk menguasai tiga negara di sekitar laut Baltic yaitu Estonia, Latvia dan Lithuania. Dalam kekuasaan Uni Soviet, penduduk di negara-negara tersebut dilarang mengibarkan benderanya dan bahkan juga dilarang menyanyikan lagu kebangsaannya. Baru 50 tahun kemudian (1989) penduduk di negara-negara tersebut bisa merdeka. Dengan apa mereka merdeka ? tanpa perang dan tanpa perundingan – mereka merdeka dengan secara harfiah penduduknya bergandengan tangan satu sama lain.

Negara-negara Baltic

Mereka bergandengan tangan membentuk rantai manusia yang panjangnya 360 miles atau sekitar 580 km – membentang dari ujung utara Talinn di Estonia – melewati Latvia dan berakhir di kota Vilnius di Lithuania.

Untuk membentuk rantai manusia yang setara jarak Jakarta – Magelang ini diperlukan 1.200.000 orang yang terdiri dari 300.000 orang Estonia, 400.000 orang Lithuania dan 500.000 orang Latvia. Saat rantai manusia yang sangat panjang ini terbentuk, sekitar 1 dari 5 orang di masing-masing negara ikut dalam gandengan tangan ini.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Hal kecil yang remeh temeh bila dilakukan sendirian atau sekelompok kecil orang – hanya sekedar bergandengan tangan, tetapi sangat dasyat bila dilakukan serentak dalam jumlah orang yang sangat banyak. Maka apa yang bisa memotivasi mereka untuk berbuat bersama inilah yang sangat penting.

Dalam hal negeri-negeri Baltics tersebut, yang memotivasi mereka adalah keinginan untuk merdeka – agar mereka bisa mengibarkan bendera mereka sendiri dan agar mereka bisa menyanyikan lagu kebangsaannya lagi!

Beruntung kita sudah 67 tahun lebih merasakan kemerdekaan de jure itu, kita bisa mengibarkan bendera kita dan juga bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa ada yang melarangnya. Tetapi secara de facto – sejak awal euphoria kemerdekaan de jure kita-pun sudah ada yang mengingatkannya.

Yang menjajah kita pasca kemerdekaan de jure memang bukan lagi negara tetapi apa yang disebut corporatocracy – gabungan kepentingan antara perusahaan-perusahaan raksasa dunia dengan institusi-institusi global.

Melalui penjajahan corporatocracy ini peternak sapi dalam negeri terjajah oleh impor daging, demikian pula dengan peternak susu, petani kedelai, petani jeruk dan berbagi buah-buahan lainnya. Atas nama perdagangan bebas petani dan pengusaha kecil di suatu negeri dengan mudah tergencet oleh industrialis raksasa dari negara-negara besar yang mencengkeram dunia.

Memang tidak dibutuhkan suatu negara untuk menjajah negara. Negeri ini pernah dijajah oleh sebuah perusahaan yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), maka tidak mengherankan bila di jaman modern inipun kembali korporasi-korporasi raksasa dunia bisa menjajah kita.

Dengan cara mereka, kita dipaksa ‘mengibarkan bendera mereka’ dan dipaksa pula ‘menyanyikan lagu’ mereka. ‘Bendera’ ini terwakili oleh merek-merek dagang mereka, dan ‘lagu-lagu’ ini terwakili oleh kegemaran kita meniru budaya mereka.

Beruntunglah orang-orang di negeri Baltics tersebut di atas – suatu saat setelah 50 tahun terjajah mereka merasakan hal yang sama yaitu rasa terjajah dan ingin merdeka, lantas mereka bergandengan tangan bareng dan akhirnya merdeka.

Kita masih tiga langkah di belakang mereka, pertama kita belum menyadari bahwa kita terjajah oleh penjajahan modern. Kedua karena belum merasa terjajah maka kita belum merasa perlu untuk memerdekakan diri. Dan yang ketiga karena belum merasa perlu memerdekakan diri tentu kita juga belum merasa perlu untuk berbuat bareng.

Tetapi mudah-mudahan kita bisa terus melangkah, mengejar ketinggalan kita, mengejar kemerdekaan hakiki kita. Merdeka dalam sistem hukum, dalam sistem ekonomi, politik, perdagangan, budaya, pemikiran dst. Merdeka dengan bergandengan tangan… InsyaAllah!

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MUI Minta Lokalisasi WTS Se-Jatim Sudah Harus Tutup Tahun Ini
Tulisan selanjutnya Sejumlah Pengungsi Palestina Tewas di Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?