Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Urusan Pangan Dahulu, Kini dan Nanti (I)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Oktober 2013 05:50 5:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Oktober 2013 05:50
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

AWALNYA dahulu manusia makan dari hewan dan tumbuh-tumbuhan yang bisa diperoleh dari alam sekitarnya. Kemudian bertahap manusia mampu menyeleksi tanaman-tanaman yang bisa dibudi dayakan, ternak yang bisa dijinakkan dan digembalakan, mampu mengelola air dan mempertahankan kesuburan, mampu mengatasi penyakit, menggunakan tenaga diluar tenaga manusia dst. Sampai di sini manusia masih bisa memenuhi kebutuhannya dari alam sekitar.

Kemudian ketika manusia mampu melakukan perjalanan jauh, mulailah sejumlah hasil pertanian diperdagangkan dari tempat-tempat yang jauh. Ini adalah suatu kebaikan karena dengan cara itu manusia bisa saling kenal mengenal dan saling memenuhi kebutuhannya.

Bahkan untuk era yang sangat panjang, sekitar delapan abad di masa Islam menguasai perdagangan dunia – dunia Islam mengelola perdagangan hasil pertanian setidaknya di tiga benua yaitu Eropa, Afrika dan Asia. Bukan hanya hasilnya, Umat Islam pula yang menyebarkan sejumlah tanaman melintasi benua untuk bisa hidup di tanah-tanah yang baru.

Tercatat dalam sejarah tebu, sorghum, padi, lemon, kelapa, pisang, bayam dlsb. Di bawa oleh umat Islam dari Asia dan Afrika ke Mediterania dan bahkan sebagian sampai kemudian ke benua Eropa. Sampai disini-pun perdagangan dan pengenalan tanaman-tanaman dunia masih memberi manfaat besar bagi umat manusia secara keseluruhan. Karena di jaman itu penduduk bumi terkonsentrasi di tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa – maka dapat dikatakan bahwa selama delapan abad umat Islam mengurusi pangan bagi penduduk dunia.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Lalu datanglah era kolonialisasi Eropa yang didominasi oleh Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan juga Prancis. Mereka menjajah negeri-negeri kaya hasil alam untuk diekploitasi, dikuras habis hasil alamnya untuk membangun negeri-negeri mereka sendiri.

Tidak sedikit kontribusi negeri-negeri jajahan untuk pembangunan Eropa untuk waktu yang lamanya sekitar empat abad, mulai dari abad ke 16 sampai pertengahan abad 20 ketika negeri-negeri jajahan beruntun merdeka seiring dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Selama sekitar empat abad tersebut, para penjajah mengelola pangan dunia untuk keuntungan mereka sendiri. Negeri mereka makmur, tetapi negeri-negeri jajahan mereka di Asia, Afrika dan kemudian juga Amerika Selatan menjadi negeri-negeri yang miskin. Contoh klasiknya adalah kita di Indonesia yang bahkan pernah menjadi korban tanam paksa oleh kolonial tersebut.

Di paruh akhir dari abad ke 20 dan di awal abad 21 ini, lain lagi pengelola pangan bagi dunia itu. Pengelola pangan bukan lagi negara atau bangsa atau umat, tetapi segelintir pemain yang mengatas namakan perdagangan atau pasar bebas – yang mereka rela mengeksploitasi bangsanya sendiri sekalipun.

Demi keuntungan segelintir orang inilah berbagai produk dan hasil pertanian didatangkan dari negeri-negeri yang jauh sekalipun asal bisa memberikan keuntungan bagi (kelompok) mereka. Produksi bahan pangan dalam negeri-pun terkendala oleh sumber-sumber produksi berupa bibit, pupuk, bahan kimia sampai pakan ternak yang dikuasai oleh segelintir kelompok usaha tertentu. Motif produksi dan peredaran bahan pangan sudah bukan lagi memenuhi kebutuhan bagi umat manusia, tetapi mengejar keuntungan semata.

Pengelolaan produksi dan distribusi bahan pangan yang demikian itu hingga kini telah menimbulkan ketimpangan dan ironi yang luar biasa. Negeri-negeri miskin dengan daya beli penduduknya yang rata-rata rendah justru harus membeli bahan pangan dari negeri maju – yang mengeruk keuntungan dari ekspor bahan pangan mereka itu. Petani dan peternak miskin harus membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan bahkan pakan ternak dari konglomerasi tertentu.

Di dunia saat ini ada sekitar 41 negara net exporters bahan pangan (kalori), mayoritasnya adalah negeri kaya seperti Amerika, Kanada, Australia, New Zealand, Perancis dlsb. Sementara itu yang menjadi net importers kalori adalah negeri yang pas-pas-an seperti Indonesia, India, Pakistan dan bahkan juga negeri-negeri miskin di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Tengah.

Ironi lain adalah ketimpangan distribusi bahan pangan dunia-lah yang telah menyebabkan sekitar 870 juta orang kekurangan gizi sementara ada 1 milyar orang di dunia kelebihan berat badan, 475 juta diantaranya bahkan sampai pada tingkatan obesitas.

Pengelolaan bahan pangan dunia gaya kapitalisme juga membuat dunia tidak aman, rawan gejolak sosial, revolusi dan bahkan juga  perang.  Krisis di Meksiko dengan Huru- Hara Tortilla awal 2007 bisa menjadi pelajaran bagi para pemimpin negeri yang suka mengandalkan impor untuk solusi kebutuhan pangannya. Demikian juga yang dialami negeri-negeri Afrika Utara dan Arab beberapa tahun terakhir.

Instabilitas keamanan pangan mudah menjadi pemicu kerawanan yang ditimbulkan oleh hiperinflasi harga pangan melalui setidaknya tiga trigger.

Pertama adalah ketika negara produsen tiba-tiba membutuhkan sendiri hasil panenannya untuk berbagai keperluan sendiri dengan berbagai alasan – seperti kasus Tortilla di Meksiko tersebut.

Kedua, sekitar 45 % penduduk dunia berada di 5 negara besar Asia yang produksi bahan pangannya pas-pasan. Mereka ini adalah China, India, Indonesia, Pakistan dan Bangladesh. Karena kebutuhan pangannya yang sangat besar, kegagalan swasembada pangan negara-nagara ini mudah untuk memicu gejolak harga pangan di seluruh dunia. Kenaikan kebutuhan jagung dan kedelai oleh China misalnya, akan dengan mudah melambungkan harga jagung dan kedelai di pasaran dunia – itupun kalau masih tersedia.

Ketiga, ketika negeri-negeri panik dalam memenuhi kebutuhan pangannya – mereka cenderung memacu produksi dengan agak ngawur – tidak berfikir dampak jangka panjang. Hutan-hutan dibabat untuk menjadi lahan pertanian yang mengakibatkan krisis air kemudian, padahal air ini sangat dibutuhkan untuk pertanian itu sendiri. Ketika untuk intensifikasi pertanian, lahan-lahan digerojok dengan pupuk-pupuk dan obat-obatan kimia – maka ini hanya mempercepat penurunan kwalitas dan kesuburan lahan  – yang dampaknya secara gradual justru juga malah menurunkan hasil pertanian jangka panjang.

Satu saja dari triggers tersebut bekerja sudah cukup membuat Huru Hara Tortilla di Meksiko, bagaimana bila dua atau tiga  triggers tersebut aktif bekerja secara bersamaan?  Maka risiko krisis pangan bagi dunia itu adalah imminent – mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat.

Lantas pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa proaktif mencegah krisis itu terjadi ? Bagaimana kita bisa mencari solusi agar negeri ini bisa selamat dari potensi krisis pangan tersebut? Bagaimana kita bukan hanya mengatasi krisis untuk negeri sendiri tetapi juga menjadi solusi bagi negeri lain – seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam? Bagaimana kita bisa menjadi bagian dai solusi dunia dan bukan malah menjadi bagian dari masalahnya? InsyaAllah bersambung ke tulisan berikutnya.*/bersambung..

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:eksploitasijajahanpanganproduksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 10 Ribu Sekolah Perebutkan Olimpiade Online Nasional Piala Hasri Ainun Habibie 2013, Siapa Ikut?
Tulisan selanjutnya Misi Haji dan Muassasah Atur Keberangkatan ke Armina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?