Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Semua Kerumuman Adalah Pasar (I)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Oktober 2013 13:49 1:49 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Oktober 2013 13:49
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

TRANSAKSI e-commerce dunia tahun ini diperkirakan mencapai US$ 1.3 trilyun, namun transaksi ini kurang lebih hanya mewakili sekitar 1.4 % dari GDP dunia. Mayoritas transaski di dunia masih dilakukan secara tatap muka langsung, pasar di dunia yang sangat modern sekalipun seperti saat ini – masih begitu banyak didominasi oleh pasar fisik. Inti dari pasar fisik itu sendiri belum banyak berubah setelah ribuan tahun, yaitu setiap kerumuman  adalah ( bisa jadi) pasar. Kemampuan untuk mengetahui dan berinteraksi di pasar inilah yang antara lain kemudian menjadikan orang seperti Abdurrahman bin Auf.

Mengapa kekuatan pasar fisik belum sepenuhnya bisa terdandingi oleh  e-commerce yang sudah sangat  canggih sekalipun? Banyak alasan untuk ini.

Pertama adalah tidak semua produk cocok di e-commerce-kan. Anda tidak membeli bakso misalnya lewat e-commerce – paling tidak untuk saat ini.

Kedua, tidak semua orang merasa nyaman dengan transaksi tanpa wajah (faceless) melalui e-commerce. Ketiga tidak sedikit persepsi di masyarakat  bahwa e-commerce tidak atau kurang aman.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Keempat, bagi sebagian (besar) orang tansaksi e-commerce adalah ribet.

Kelima sebagian orang memilih jual beli fisik karena membangun experience tersendiri yang tidak tergantikan dengan e-commerce. Orang-orang suka berkumpul di mal-mal atau keramaian lain untuk menghibur diri sambil kemudian berbelanja misalnya, maka yang seperti ini belum akan tergantikan oleh adanya kemajuan teknologi e-commerce.

Karena pasar terbesar masih berupa pasar fisik yaitu tempat-tempat  dimana manusia bisa berkumpul dalam jumlah banyak, maka yang bisa men-create orang utuk berkumpul itulah yang menguasai pasar untuk saat ini. Para konglomerat rame-rame membangun mal-mal nan mewah agar orang tertarik untuk datang.

Dari pengunjung yang ramai inilah kemudian segala macam barang dan jasa bisa dijual di keramaian tersebut, tempat-tempat seperti ini menjadi tempat yang mahal yang hanya terjangkau oleh yang benar-benar mampu.

Mall-mall dan pasar-pasar yang mewah ini kemudian memperlebar jurang pemisah antara orang kebanyakan dengan si kaya. Si kaya bisa membeli tempat yang mahal untuk jualan ke banyak orang yang berkunjung ke keramaiannya. Sedangkan orang kebanyakan  yang tidak mampu membeli tempatnya ataupun sekedar menyewanya, hanya menjadi pasar yang diberondong dengan berbagai produk barang dan jasa dagangan si kaya.

Dengan aliran uang dari orang kebanyakan ke si kaya ini kemudan memperbesar konglomerasi dari waktu ke waktu. Outlet mereka makin luas di seluruh penjuru kota bahkan sampai ke desa-desa, walhasil para konglomerat bertambah terus asset-nya dengan cepat karena mereka menguasai pasar – sedangkan kebanyakan orang hanya sekedar menjadi target pasar bagi para konglomerat ini.

Sementara itu ada kreativitas rakyat kecil yang juga sudah pandai memanfaatkan kerumunan, mereka tidak mampu menciptakan kerumuman atau menarik orang untuk datang ke suatu tempat – tetapi mereka bisa memanfaatkannya.

Para pedagang asongan, pedagang di pasar kaget, pedagang di pasar Jum’at (maksudnya di seputar masjid habis sholat Jum’at) adalah contoh  orang-orang yang bisa memanfaatkan kerumunan yang sudah ada untuk menjadi pasarnya – tanpa harus menciptakan kerumunan itu sendiri.

Lagi-lagi ini bukan untuk orang kebanyakan seperti saya dan Anda. Orang seperti kita ini tanggung, jualan di mal-mal atau pasar-pasar yang mewah kebanyakan kita tidak mampu menyewanya apalagi membeli tempatnya. Sementara untuk jualan secara asongan kita mungkin tidak cukup percaya diri untuk melakukannya.

Walhasil orang-orang yang tanggung ini tetap menjadi target pasar bagi para konglomerat maupun bagi pedagang asongan. Kebanyakan kita tidak menjadi pedagang yang menguasai atau setidaknya mampu menggarap pasar itu sendiri. Padahal penguasaan pasar ini mutlak perlu bila kita juga ingin menguasai produksi apapun. Kita tidak akan bisa berproduski secara maksimal bila kita tidak bisa menguasai pasar. Keahlian istri Anda membuat gudeg yang luar biasa enak misalnya, tidak jaminan bisa menjual gudeg tersebut bila Anda tidak menguasai pasarnya.

Dari situasi inilah yang kemudian membuat kebanyakan orang seperti saya dan Anda akhirnya milih untuk tetap menjadi pegawai saja sampai (terpaksa) pensiun. Saat itu barulah kita belajar berusaha, belajar berproduksi dan belajar memasarkan hasil produksi kita. Sedikit yang berhasil – rasionya sekitar 1/10, satu berhasil dan 9-nya gagal. Mengapa? Ya karena kebanyakan memulainya secara terlambat dan memulai bukan karena passion – tetapi karena terpaksa.

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang kebanyakan ini agar bisa menguasai perdagangan dan juga produksi ? inilah inti dari ekonomi Islam sebenarnya. Kuasai pasar dan kuasai produksi, hal ini juga tercermin oleh dua kelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yaitu kaum Muhajirin yang rata-rata pandai berdagang (bisa menguasai pasar) dan kaum Anshar yang rata-rata pandai bertani (bisa menguasai produksi).

Ketika dua kekuatan pasar dan produksi ini dipersatukan dalam persaudaraan, maka disitulah kedasyatan negeri Islam yang lahir perkasa kemudian. Negeri yang mampu memakmurkan rakyatnya, dan bahkan juga kemudian tercatat dengan cepat menjadi negeri yang membebaskan negeri-negeri lain yang tertindas.

Maka itulah challenge-nya bila kita ingin memakmurkan rakyat di negeri ini, challenge-nya adalah bagaimana penguasaan pasar yang tidak terpisahkan dari penguasaan produksi itu bisa ada kembali di umat ini. InsyaAllah.*/bersambung

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:onlinepembeliantransaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berbahaya, BPOM Larang Panitia Kurban Gunakan Tas Plastik Hitam
Tulisan selanjutnya Balikpapan Rancang Perda Larangan Reklame rokok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?