Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Lebih dari Newton

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 November 2015 21:19 9:19 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 November 2015 21:19
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

KETIKA Newton yang hidup di pergantian abad 17 -18 mengamati buah apel yang jatuh dari pohonnya, dia akhirnya bisa menjelaskan fenomena adanya grafitasi bumi. Seribu tahun sebelumnya kita sudah diperintahkan mengamati atau memperhatikan buah ketika pohon berbuah dan proses masaknya (QS 6:99).

Kalau saja perintah-perintah seperti ini kita laksanakan, maka sangat bisa jadi yang kita hasilkan lebih dari pencapaian Newton dalam menjelaskan grafitasi bumi tersebut.

Itulah yang dilakukan oleh ulama-ulama awal Islam ketika mereka merevolusi ilmu pengetahuan di perbagai bidang seperti kedokteran, astronomi, engineering sampai pertanian.

Yang terakhir ini bahkan ilmu dasarnya digunakan kembali di jaman modern ini dengan berganti nama menjadi permaculture, sustainable agriculture, organic farming dlsb.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Ilmu pengetahuan (dzon) modern sebenarnya hanya bisa menjelaskan ilmu untuk jamannya sedangkan ilmu dasar yang hak sudah  ada di Al-Qur’an untuk sepanjang masa bila saja kita dapat sungguh-sungguh mentadaburinya.

Newton ketika menjelaskan teorinya tentang adanya universal gravity yang membuat benda-benda langit tidak saling bertabrakan misalnya, di sejumlah ayat di Al-Qur’an Allah sudah menjelaskannya 1000 tahun sebelumnya.

Demikian pula ketika di abad yang kurang lebih sama para ilmuwan bisa menjelaskan adanya unsur nitrogen, phosphor dan kalium  yang dibutuhkan tanaman, ilmuwan bisa menjelaskan proses fotosintesa dlsb. Semua ilmunya sudah dijelaskan ke kita di Al-Quran sejak 1000 tahun sebelumnya – hanya kebanyakan kita mengabaikan petunjuk-petunjuk tersebut.

Sejarah selalu berulang, demikian pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika para ahli pertanian modern dengan nama permaculture (permanent agriculture) kini belajar kembali dengan kitab pertanian yang disusun 1000 tahun lalu seperti Al-Filaha misalnya, bukankah ini bukti bahwa sesungguhnya kita bisa saja maju 1000 tahun lebih dahulu dalam bidang ilmu pengetahuan ini bila Al-Qur’an yang kita jadikan rujukannya ?

Saya berikan contoh konkritnya begini, para petani modern yang mengandalkan pupuk kimia dalam pertaniannya – sesungguhnya lebih banyak membuat kerusakan di bumi keimbang memperbaikinya. Tergantung pupuknya, 1 ha padi petani bisa memupuk dengan 400-600 kg pupuk kimia atau ambil rata-rata 500 kg.

Di sawah terbaik setahun tiga kali tanam, berarti per ha-nya diberikan sekitar 1.5 ton pupuk. Sejak pupuk digunakan secara intensif pertengahan tahun 1970-an hingga kini atau sekitar 40 tahun, per ha lahan terbaik kita telah dimasuki 60 ton pupuk kimia. Apakah produktifitas lahan pertanian kita sekarang lebih baik dari 40 tahun lalu? Jawabannya tidak.

Bahkan di pusat produksi beras seperti Kerawang yang dahulu bapak-bapak mereka kerap diundang ke Istana karena produksi sawahnya konon saat itu bisa mencapai 8 ton /ha ; kini produksi itu hanya dalam kisaran 4-5 ton / ha.

Artinya dengan begitu banyaknya pupuk kimia yang dibenamkan ke tanah-tanah terbaik kita dahulunya – kini tanah-tanah tersebut tidak lagi menjadi tanah terbaik. Sementara penduduk terus bertambah, hasil pertanian cenderung turun. Apa yang akan terjadi kemudian ? kita akan semakin tergantung dengan bahan pangan impor. Mudah untuk menduga bahwa ada yang ingin sawah-sawah kita kehilangan produktifitasnya, karena dengan itu kita akan menjadi pasar ekspor bahan pangan bagi negeri-negeri pengekspor bahan pangan dunia.

Bila sudah tampak begitu  nyata kerusakan yang ada , lantas apa yang bisa kita lakukan ? Tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada petunjukNya (QS 30:41). Apakah petunjukNya termasuk ke tingkat tataran teknis operasional seperti bertani ini?

Di agama ini, sejak kita bangun tidur sampai hendak tidur kembali ada tuntunannya – maka untuk urusan yang sangat besar yaitu pangan, yang dengannya kita diperintahkan untuk memberi makan – pasti ada juga petunjukNya. Tinggal kita mentadaburi dan mengamalkannya saja.

Untuk pengganti pupuk NPK di atas misalnya, Allah sudah sediakan bahan yang lebih baik dari itu – yaitu tanaman biji-bijian yang bisa mem-fiksasi nitrogen langsung dari udara (QS 36:33), maupun kotoran ternak yang kaya akan nitrogen, kalium dan berbagai unsur lainnya (QS 16:10-11).

Unsur yang membentuk setiap tanaman tumbuh, juga karbohidrat yang kita makan utamanya adalah unsur-unsur Carbon (C) , Hydrogen (H) dan Oksigen (O). H dan O bisa dari air, tetapi dari mana C ?, tanaman menyerap CO2 dalam proses fotosintesanya. Untuk meisahkan C dan O2 dibutuhkan energi matahari.

Jadi tanaman membutuhkan air  (umumnya dari hujan) dan sinar matahari yang banyak untuk terjadinya fotosintesa. Inilah yang dijelaskan dengan sangat gamblang sebenarnya dalam tiga ayat di surat An-Naba berikut :

وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً

وَأَنزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاء ثَجَّاجاً

لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً

Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan.” ( QS 78:13-15)

Tetapi makanan kita kan bukan hanya unsur CHO tersebut, kita butuh protein vitamin dan mineral. Dari mana datangnya unsur-unsur ini?

Batu bata penyusun protein adalah asam amino yang membutuhkan Nitrogen untuk pembentukannya. Itulah mengapa di tanah yang mati-pun Allah ajari kita untuk menanam biji-bijian, antara lain adalah leguminose yang dapat mem-fiksasi Nitrogen langsung dari udara (QS 36:33). Dan bahkan diantara rangkaian tanaman-tanaman yang perlu kita tanam, biji-bijian ini didahulukan (QS 80:24-32).

Di rangkaian ayat tersebut pula kita diperintahkan menanam aneka buah-buahan yang bersifat umum maupun spesifik anggur, zaitun dan kurma – karena dari sinilah makanan kita akan lengkap dengan vitamin dan mineral.

Di rangkaian ayat tersebut kita juga disuruh untuk memperhatikan rumput yang dibutuhkan ternak kita. Selain ketersediaan rumput di antara pohon-pohon buah ini akan mengundang ternak gembalaan untuk makan dan membuang kotoran disitu – yang kemudian menghadirkan unsur-unsur yang diutuhkan tanaman – ternak akhirnya juga menjadi makanan kita yang kaya akan protein.

Jadi petunjukNya itu lengkap dan jelas, kita tinggal mentadaburinya sampai kita paham lalu berlatih dengan sungguh-sungguh untuk mengamalkannya. Maka bila ini kita lakukan, janji Allah bahwa “…kamulah yang tertinggi…” (QS 3:139) akan berlaku, yang berarti Sir Isaac Newton dengan teori grafitasi-nya pun insyaAllah bisa kita lampaui. InsyaAllah.*

Penulis Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-QurangrafitasiNewton
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 35 Ribu Pekerja Masjidil Haram Berikan Sentuhan Akhir Perluasan Mataf
Tulisan selanjutnya Pasca Jatuhkan Pesawat Rusia, Turki Adakan Pertemuan dengan NATO

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?