Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

The CEO

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Januari 2017 09:46 9:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Januari 2017 10:10
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

DALAM sebuah career day, seorang CEO muda dari sebuah perusahaan yang sukses diundang datang ke sekolah anaknya untuk berbagi tentang pekerjaannya. Sebelum dia berbicara, ibu guru yang menjadi host memberi pengantar yang indah-indah tentang prestasi sang CEO kepada murid-muridnya. Kemudian bu guru bertanya kepada muridnya: “Siapa yang mau menjadi CEO?”, semua anak mengangkat tangan sambil berkata: “Saya bu guru!”

Ketika giliran sang CEO berbicara, dia ingin meluruskan persepsi anak-anak tentang sebuah prestasi. Kebanyakan orang ingin mencontoh prestasi, padahal prestasi hanyalah akibat. Yang perlu dicontoh adalah usaha atau ikhtiar untuk meraih prestasi tersebut, yang perlu dicontoh adalah sebabnya – bukan akibatnya.

Agar para murid bisa menikmati pelajaran yang berat dalam waktu yang singkat, sang CEO menjelaskan pekerjaannya dengan semacam puisi panjang berikut.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Aku Seorang CEO

Aku datang paling pagi ke kantor untuk menemani dan berbicara dengan para pembersih ruangan yang sedang bekerja, pada jam kantor yang sibuk aku tidak sempat bicara dengan mereka – aku kawatir mereka terabaikan.

Aku juga datang paling pagi ke kantor, agar kantorku siap menerima para karyawan yang sebentar lagi akan berdatangan.

Nanti sore aku akan pulang paling lambat, bukan hanya karena pekerjaanku banyak – tetapi juga untuk menemani karyawan-karyawanku yang belum bisa menyelesaikan pekerjaannya hingga larut. Keluarga mereka menunggu, keluargaku-pun harus juga siap menunggu.

Ketika kantorku sudah sepi, aku berjalan mengelilingi ruang-ruangannya. Karena kesibukan pekerjaannya, karena ditunggu di rumah oleh keluarganya – kadang karyawanku ada yang lupa mematikan computer, lampu dan penyejuk ruangan. Maka inipun tugasku untuk mematikan semuanya.

Di siang hari, silih berganti karyawanku datang ke ruanganku. Mereka mengadukan segala macam persoalan pekerjaannya, mereka merasa lega bila masalahnya sudah dilimpahkan kepadaku. Aku tidak punya siapa-siapa untuk melimpahkan pekerjaanku, tidak ada siapa-siapa untuk melempar tanggung jawabku.

Semua masalah berujung di pundakku, menjadi tanggung jawabku – dan aku baru bisa merasa lega setelah masalah-masalah tersebut terselesaikan satu per satu. Tetapi kelegaan ini tidak bisa berlama-lama.

Esok hari-hari berulang, masalah baru akan terus bermunculan seiring dengan pertumbuhan perusahaan. Tetapi masalah juga berarti peluang, dan perusahaanku harus mengambil peluang tersebut dengan cara berusaha mampu mengatasi perbagai permasalahannya.

Orang mengira bahwa sebagai CEO akulah yang mengambil gaji paling besar dari perusaahanku, inipun tidak sepenuhnya benar. Aku harus menunggu semua orang di kantorku bisa gajian, baru aku sendiri mengambil gaji secukupnya.

Di akhir tahun, di hari-hari menjelang lebaran – karyawanku sudah menunggu-nunggu haknya, mereka dan keluarganya berbahagia dengan tunjangan hari raya yang memang menjadi haknya. Aku berbahagia bila perusahaanku bisa membayar hak mereka tersebut, kebahagianku sendiri bukan pada saat bisa mengambil hakku – tetapi ketika mampu melaksanakan kewajibanku.

Hak-hak karyawanku dilindungi oleh serangkaian undang-undang tenaga kerja, tetapi tidak ada undang-undang yang melindungi hakku. Yang ada justru serangkian undang-undang dan peraturan yang merenceng kewajibanku, aku tidak bisa menuntut hak – aku harus bisa melaksanakan kewajiban.

Keamanan pekerjaan bagi karyawanku juga terjamin, tidak boleh dipecat sembarangan. Meskipun perusahaan tidak tumbuh sekalipun, tetap itu bukan kesalahan mereka – mereka tetap harus bekerja dan tetap harus menerima kenaikan penghasilan.

Tidak demikian dengan pekerjaanku, pekerjaanku terancam setiap waktu. Dari satu rapat pemegang saham ke rapat pemegang saham berikutnya sudah cukup bagi pemegang saham untuk mengeluarkanku. Bahkan perubahan komposisi kepemilikan saham saja sudah cukup untuk mengancam kelangsungan pekerjaanku.

Setelah menyampaikan ‘puisinya’ tersebut, Sang CEO mengembalikan microphone-nya ke bu guru. Bu Guru kemudian mengajak anak-anak bertepuk tangan, maka bertepuk tanganlah anak-anak.

Belum puas dengan itu, Bu Guru kembali menyampaikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya. “Ayo anak-anak, siapa yang ingin menjadi CEO?”, hampir seluruh anak berdiam – tidak ada lagi yang angkat tangan, hampir semuanya terdiam dan menggelengkan kepala isyarat ‘tidak’.

Lalu hanya ada satu anak yang mengangkat tangannya dengan malu-malu sambil berkata “Saya bu guru!”. Sang CEO terharu dan meneteskan air matanya sambil berucap: “Alhamdulillah, masih ada penerusku, masih ada yang mau mengambil tanggung jawab dan amanahku, dan memang hanya dibutuhkan satu!”.

Penulis Direktur Gerai Dinar

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:CEOpeluangpermasahalah perusahaanperusahaan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBB Segera Lakukan Penyeledikian Kekerasan Aparat Myanmar terhadap Etnis Muslim Rohingya
Tulisan selanjutnya Mantan Petinggi Hizbullah Sebut Milisi Syiah Manfaatkan Kemiskinan untuk Bela Bashar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?