Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Bicara Terus, Kapan Belajarnya?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Agustus 2013 14:40 2:40 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Agustus 2013 14:40
Bagikan
"..akan datang setelah kalian nanti suatu zaman yang (pada waktuitu) banyak orang yang pandai berceramah tapi sedikit orang yang berilmu.”
Bagikan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

APA yang salah? Training semakin gencar, seminar bertubi-tubi, teknikpresentasi juga semakin canggih, tetapi sulit menemukan jejak-jejak perubahanberarti. Betapa banyak training yang memukau, tetapi yang pertama kali berubahakibat training itu justru trainer atau motivatornya sendiri. Bukan karena ibda’bi nafsik, tetapi karena training-training itu memberi kesempatan kepadanarasumbernya untuk mengubah penampilannya.

Apa yang salah pada ceramah-ceramah yang meriah, seminar-seminar yang hingar-bingar dan tabligh akbar yang menggelegar?

Beratus-ratus atau bahkan beribumanusia berduyun-duyun, tepuk-tangan membahana sangat menakjubkan dangelak-tawa tak putus-putus sejak pembukaan hingga acara ditutup denganpembacaan do’a yang puitis dan mendayu-dayu. Sesuatu yang tak pernah kitajumpai riwayatnya di zaman nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, sahabat,tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga beberapa generasi sesudahnya. Tetapi kenapa acara-acara mempesona yang sering kita subut majelis taklim itu justrumeninggalkan jejak-jejak ilmu?

Betapa banyak penceramah (sering disebut ustadz)yang dikenang karena lucunya, bukan karena membekasnya nasehat dalam jiwa sehingga kita bersedia untuk menengadahkan tangan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya hingga yaumil-qiyamah. Kita datangi majelis-majelisnya, hingga ikuti do’anya dengan syahdu penuh haru hingga menitikkan airmata dan kita memperoleh kenikmatan dari katarsis itu. Tetapi apa yang salah sehingga do’a-do’a itu tak membekas dalam diri kita untuk benar-benar berharap hanyakepada Allah Ta’ala. Padahal demi suksesnya acara itu, kita sudah siapkan soundsystem luar biasa dahsyat sesuai spesifikasi minimal yang dipersyaratkan.

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik

Betapa berbeda rasanya kalau kita mengenang bagaimana Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah sangat hidup majelisnya.Padahal beliau tidak memakai sound system, LCD Projector dan slide yang memukau. Beliau juga tak memakai film-film pilihan untuk memberi gambaran yang hidup dari ilmu yang dijelaskan. Tetapi setiap keterangannya begitu hidup, terus membekas bahkan hingga beberapa generasi sesudahnya. Sementara ketikakita menampilkan film yang menegangkan, yang terus bergaung adalah filmnya.Bukan nasehat kita. Banyak yang datang untuk menyodorkan hard-disk untukkemudian dicopy berantai.

Teringatlah saya tatkala Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar ditanya, “Apa sebabnyaucapan para ulama salaf lebih besar manfaatnya dibandingkan ucapan kita?”

Beliau menjawab:

لأنهم تكلموالعز الإسلام ونجاةالنفوس ورضا الرحمن ، ونحن نتكلم لعزالنفوس وطلب الدنيا ورضا الخلق

“Karena mereka berbicara (dengan niat) untuk kemuliaan Islam, keselamatan diri (dari azab Allah Ta’ala), dan mencari ridha Allah Ta’ala, adapun kita berbicara (dengan niat untuk) kemuliaan diri (mencari popularitas), kepentingan dunia (materi), dan mencari keridhaan manusia.”

Perkataan Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar ini dinukil oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahanidalam kitab beliau “Hilyatul Auliya’“. Saya tidak tahu apa yang akan beliau katakan seandainya beliau hidup di zaman kita ini. Di zaman ketika ‘ilmudien masih jernih, agama masih amat membekas dan sunnah begitu hidup, Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar sudah sedemikian gelisah. Lalu apa yang akan beliau katakan seandainya menyaksikan zaman ini ketika kita nyaris tak mungkin mendengar taushiyah dari ustadz-ustadz ternama kecuali apabila kita mampu menggenggam dunia? Di sisi lain, betapa amat mirisnya hati tatkala melihat rendahnya penghormatan kepada mereka yang datang menyampaikan ilmu tanpa memintapersyaratan yang memberatkan? Atau, inikah saatnya ketika kita terkadang harusmeminta seekor kambing sebagaimana yang dilakukan oleh seorang sahabat radhiyallahu ‘anhutatkala meruqyah pemuka suatu kaum dengan bacaan Al-Fatihah. Tetapi sungguh,yang beliau kerjakan bukan karena hubbud dunya (cinta dunia).

Atau, inikah masa yang disebut dalam atsar shahih dari ‘Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad. Beliau berkata, “Sesungguhnya kalian (sekarang) berada dizaman yang banyak terdapat orang-orang yang berilmu tapi sedikit yang suka berceramah, dan akan datang setelah kalian nanti suatu zaman yang (pada waktuitu) banyak orang yang pandai berceramah tapi sedikit orang yang berilmu.”

Sungguh, nasehat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini tak bergeser sedikit pun dari sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani:

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

Ada yang patut kita renungkan. Bagi para pembicara semacam saya, kitakah yang dimaksud oleh ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu? Bagi mereka yang berusaha meraup ilmu dari para pembicara, perhatikanlah dari lisan siapa ilmu tentang dien ini engkau terima. Terlebih hari ini, ketika ceramah agama dan gelar ustadz begitu menjanjikan dunia sehingga kartu nama pun bertuliskan “Al-Ustadz”. Sesuatu yangsulit kita jumpai pada pribadi Imam Nawawi yang risih ketika digelari muhyidin,sementara hari ini gelar-gelar itu bahkan kita ciptakan sendiri.

Betapa berbedanya!

Atau…, telah tibakah masa yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang zaman fitnah? Sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Darimi, di antara tanda zaman fitnah itu adalah munculnya orang-orang yang bertekun mempelajari agama untuk tujuan selain agama, yakni demi meraih dunia.

O Allah, ampunilah hamba-Mu yang zalim ini.*

Twitter Fauzil Adhim @Kupinang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:banyak bicarabanyak tertawapenceramah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudi Berencana Bangun Kota Gerbang Makkah
Tulisan selanjutnya MUI: Tidak Ada Ustadz Seleb

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

perjuangan
Meminang Surga

Matinya Perjuangan

17 Januari 2022 14:00
Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

30 November 2021 15:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?