Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 November 2021 14:19 2:19 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 November 2021 15:00
Bagikan
Bagikan

Lemah lembut bukanlah penghalang untuk bersikap tegas. Justru sebaliknya, kelembutan itu diperlukan

 

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 

Hidayatullah.com | ADA tiga hal penting dalam mendidik anak. Ketiganya merupakan sifat terpuji, bukan hanya dalam mendidik anak.

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik

Yang pertama adalah rifq (kelembutan). Apa itu rifq? Sikap yang ramah, bersahabat, lembut, santun ketika melakukan muamalah dengan orang lain, termasuk ketika orangtua berhubungan dengan anak dalam kehidupan sehari-hari.

 Ar-Rifq (الرفق) itu diperlukan bukan hanya dalam suasana gembira atau menyampaikan nasehat. Bahkan saat memberikan hukuman maupun konsekuensi kepada anak pun, tetap diperlukan. Dengan itu anak merasakan bahwa orangtua menyayangi dia, bahkan di saat menghukum.

Hilangnya rifq, meskipun dalam keadaan sedang memenuhi keinginan anak, menjadikan anak sulit merasakan cinta orangtua kepadanya. Ia tidak yakin orangtua peduli kepadanya. Padahal merasa dicintai merupakan awal tumbuhnya rasa hormat dalam diri anak kepada orangtua.

Sesungguhnya besarnya rasa hormat mendorong anak untuk taat, meskipun orangtua tidak sedang berada di hadapannya. Sangat berbeda ketaatan yang muncul karena anak tidak berdaya menghadapi orangtua dengan ketaatan yang tumbuh dari rasa hormat. Jika anak taat semata karena takut kepada orangtua, maka ketika kendali maupun pengawasan orangtua melemah, ketaatan anak pun akan melemah.

Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Ramah-Lembut (Rafiq). Dan Allah ar-Rafiq mencintai kelembutan.

Dari ‘Aisyah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah itu Rafiq (Maha Lembut) dan mencintai rifq (kelembutan, keramahan), Dia memberikan kepada lemah-lembut (rifq) apa-apa yang tidak diberikan pada sikap ‘anaf (kasar-keras), dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya.” (Riwayat Muslim).

Lemah lembut bukanlah penghalang untuk bersikap tegas. Justru sebaliknya, kelembutan itu diperlukan saat bersikap tegas agar anak merasakan bahwa aturan ditegakkan sebagai bentuk konsistensi orangtua. Semua itu untuk kebaikan anak. Bukan karena orangtua seenaknya sendiri atau pun karena orangtua tidak suka kepada anak.

Lembut dan tegas bukanlah dua hal yang bertentangan. Bahkan kelembutan itu bukan lawan dari sikap keras sejauh sikap keras itu tepat takarannya, benar alasannya. Kelembutan yang tidak disertai ketegasan adalah kelemahan. Ini yang menjadikan anak sulit belajar untuk bersikap konsisten. Sikap keras dalam hal prinsip yang ditegakkan dengan kelembutan memudahkan orangtua menempa mental anak.

Tengoklah tuas persneling sebagian mobil mewah. Sangat lembut di tangan, tetapi bukan tidak keras. Tuas persneling akan kehilangan fungsinya apabila tidak keras. Kita tidak dapat melakukan pergantian gigi dengan baik.

Kelembutan tidak dapat bertemu dengan sikap kasar. Sebagian orang menghimpun dua keburukan; ia kasar dan pada saat yang sama lemah. Kasar saat memberi, kasar pula saat menolak permintaan anak. Ia kasar saat memerintah, bertutur dengannya menggunakan fazhzhan (kasar kata, keras ucapan); kasar pula saat melarang. Bersuara kepada anak pun menggunakan seburuk-buruk suara –suara keledai—yakni berbicara serupa keledai yang melengking tiba-tiba dan tak enak didengar. Tetapi ketika anak bersikeras tidak menuruti, atau anak merengek merajuk, orangtua segera mengalah. Inilah bentuk sikap yang lemah itu.

Maka benarlah, kunci segala kebaikan itu terletak pada kelembutan. Saat menegakkan aturan dengan bersikap tegas atau pun tatkala memberi apa yang disukai anak, kita perlu bersikap lembut kepada mereka. Hilangnya kelembutan saat mendidik akan menghilangkan segenap kebaikan, meskipun ketika itu kita sedang mengajarkan agama.

Dari Jarir bin Abdillah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang diharamkan baginya rifq, diharamkan baginya kebaikan seluruhya.” (Riwayat Muslim).

Semoga Allah Ta’ala karuniai kita kelembutan dan jauhkan kita dari sikap kasar lagi keji. Sesungguhnya tidaklah kelembutan jika disampaikan dengan kasar.

Dari beliau (‘Aisyah) RA juga, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap ‘anaf (keras dan kasar), sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut.” (Riwayat Muslim).

 

Tenang, Tidak Reaktif

Hal penting lainnya dalam mendidik anak adalah sikap al-hilm (الحلم) dan al-‘anah (الأناة).

Al-hilm adalah sikap tenang dan lembut berupa kemampuan yang bagus dalam mengendalikan diri. Ia menguasai dirinya bahkan ketika sedang marah, sehingga tidak tergesa-gesa bereaksi. Ketenangan itu menjadikannya mampu memilih tindakan yang terbaik dan paling membawa kemaslahatan. Ini sulit didapatkan ketika orangtua bersikap reaktif, bahkan impulsif, saat menghadapi kesalahan anak sehingga tindakannya cenderung tidak terukur.

Adakalanya anak datang mengadukan masalahnya, bukan untuk mencari jalan keluar, tetapi untuk meringankan beban emosinya karena ada tempat untuk berbagi. Ia bercerita untuk memperoleh dukungan emosi maupun sosial dari orangtua. Tetapi manakala orangtua kehilangan hilm, ia dapat kehilangan ketenangan. Di saat seharusnya masih mendengarkan anak dengan penuh perhatian, ia sudah tergesa-gesa memberi nasihat panjang. Bukan tak baik kita memberi nasihat, bahkan sangat baik, tetapi perlu sabar dan penuh kasih-sayang.

Adapun ‘anah adalah sikap berhati-hati, tidak tergesa-gesa menentukan sikap kecuali setelah sangat jelas duduk permasalahannya. Ia baru mengambil keputusan setelah memperoleh pengetahuan yang mencukupi dan memadai. Perlu tabayyun (cek ricek) ketika belum jelas baginya suatu persoalan, dan kadang harus disertai dengan tatsabbut, yakni memastikan maksud dari suatu tindakan maupun ucapan.

Baik hilm maupun ‘anah, keduanya diperlukan untuk dapat menegakkan rifq dalam mengasuh anak.

Kepada Allah SWT saya memohon karunia rifq, hilm, dan ‘anah bagi diri saya, istri saya, dan keturunan saya, serta kita semua. Semoga Allah Ta’ala baguskan keturunan kita dan memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang shalih lagi bersih. Amin.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:lemah lembutorang tuapendidikan anakpendidikan anak usia dini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Fadli Zon Ingatkan Dunia Tak Pinggirkan Isu Palestina
Tulisan selanjutnya Capres Filipina Unggulan Duterte Mengundurkan Diri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Berita
13 Juli 2026 15:40
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

perjuangan
Meminang Surga

Matinya Perjuangan

17 Januari 2022 14:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Berdakwah Pada Anak
Meminang Surga

Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak

4 September 2021 06:02
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?