Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Hidayatullah.com | SEORANG ibu bertanya tentang anaknya. Sejak kecil selalu memperoleh ranking bagus di kelasnya. Prestasi akademik selalu cemerlang. Tetapi belakangan minat belajarnya merosot drastis. Tak ada gairah belajar. Tak ada minat untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Ketika ibunya mengingatkan untuk belajar lebih giat agar rankingnya tidak jeblok, ia berkata, “Aku bosan sama ranking.”
Pertanyaan ibu ini mengingatkan saya pada teori motivasi. Ada motivasi ekstrinsik, ada motivasi intrinsik. Anak kita menyapu lantai agar mendapat sebiji permen dari orangtua, tekun belajar agar dapat ranking satu (karena nanti kita belikan ia sebuah sepeda mungil) adalah contoh motivasi ekstrinsik.
Motivasi Ekstrinsik Cepat Pudar
Motivasi ekstrinsik cepat pudar. Anak mudah kehilangan semangat karena hadiah yang dijanjikan termasuk hadiah berupa “ranking”-tidak lagi memiliki daya tarik. Semangatnya melemah (less zeal) karena imbalan yang diberikan meaningless (kehilangan makna), sehingga tak ada lagi alasan untuk mengejar. Seperti anak ibu tadi, mereka bisa bosan dapat ranking yang bagus.
Kapan anak merasa bosan? Ketika anak merasa hadiah itu tak memberi manfaat apa-apa. Anak-anak tidak membutuhkan. Dulu anak bersemangat menyapu untuk memperoleh permen, sekarang permen sudah tidak menarik lagi. Anak butuh rangsangan lebih besar untuk bertindak.
Cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi sekurangnya oleh dua hal. Pertama, nilai hadiah yang dijanjikan kepada anak. Setiap hadiah akan mengalami penyusutan nilai bagi anak.
Saat anak belum pernah memegang, sebuah mobil mainan sangal menggiurkan bagi anak. Tapi ketika berbagai jenis mainan sudah sering ia pegang, mobil-mobilan yang bagus lengkap dengan remote control-nya pun sudah tidak menarik lagi.
Melemahnya daya tarik imbalan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya aktivitas yang memberi daya tarik lebih besar. Video-game, misalnya. Semakin kuat keasyikan yang diperoleh anak saat bermain play station, semakin lemah daya tarik imbalan yang kita janjikan agar anak mau belajar lebih rajin.
Lebih-lebih jika aktivitas lain yang meng asyikkan itu pada saat yang sama juga menyerap seluruh energi psikis anak sekaligus membuat anak pasif. Berbagai jenis game juga layangan TV-membuat anak terpaku secara pasil.
Mereka dibombardir dengan gambargambar kekerasan yang berganti dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga memaksa mereka untuk terus memperhatikan berkedip.
Aktivitas semacam ini membuat anak mengalami kelelahan secara psikis. Ibarat truk, behannya berbeyi Ibarat komputer, sistemnya hang. Macet. Meskipun ke mampuannya sangat besar dan kecepatan proses sangat tinggi, tapi tidak mampu mengerjakan tu dengan baik.
Anak-anak yang sedang hang, tidak saja memusatkan perhatian saat belajar dan sulit mencerna buku yang ia baca. Badannya ada di kelas, telinga mendengar suara guru, tetapi pikirannya ada di plays tion.
Ketika anak mengalami hang, ia kehilangan tak ingin tahu. Kreativitasnya tumpul. Ia tidak betah berpik mencari tahu dan menekuni kegiatan yang menuntutas berpikir aktif. Ia kehilangan gagasan dan kecemerlanga berpikir.
Kedua, cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi oleh tekanan yang mereka terima. Anak yang sering dibebani untuk mendapatkan ranking, cenderun cepat kehilangan minat. Ia belajar di bawah tekana karena tidak ingin orangtuanya cemberut. Selebihnya, tak ada alasan yang menggerakkan jiwa untuk tekur membaca.
Motivasi ekstrinsik terbagi menjadi dua, yakni jangkal pendek dan jangka panjang. Jangka pendek misalnya permen yang kita berikan begitu anak menyapu, jangka panjang misalnya iming-iming pada anak kelas 4 SD kalau lulus UASBN dengan nilai tinggi akan dibelikan laptop baru.
Semakin pendek dan nyata iming-iming yang kita berikan, semakin cepat kelihatan reaksinya sekaligus semakin mudah hilang kekuatannya. Ana-anak yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik jangka pendek, ibaratnya sama dengan mobil mewah tanpa bensin. Kalau lagi didorong, jalan. Tapi kalau tak ada yan mendorong, mogok. Mobil tak bisa berjalan lagi.
Motivasi Intrinsits
Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsit sebaliknya, merasid asyik dengan apa yang dikerjakan menemukan kegembiraan saat menghadapi tantangat bahagia ketika mengerjakan tugas-tugas sehingga terlibat penuh secara emosional. Mereka berpartisipasi melakukan kegiatan karena menemukan kegembiraan, kebahagiaan, keasyikan atau makna dari apa yan dilakukannya.
Bukan demi memperoleh hadiah. Dalam tindakan itu sendiri, ada yang ia dapatkan sebagaimant pendakigumang memperoleh kepuasan kebahagiaani terletak pada kemampuannya bukan pada decak kagum orang yang memandang.
Dalam bukunya berjudul Adolescemer (2001) W. Santrock menulis bahwa motivasi instrtinsik sangat memengaruhi kreativitas dan rasa ingin tahu anak (natural curiosity). Anak-anak yang motivasi intrinsiknya kuat cenderung lebih kreatif, kaya gagasan, senantiasa menemukan ide-ide segar – pada tahap awal adalah ide-ide permainan, serta ketertarikan yang kuat dalam melakukan berbagai aktivitas.
Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, minat yang luas dan cenderung memiliki semangat belajar mandiri yang kuat.
Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk suatu bidang, tetapi tidak untuk bidang yang lain. Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk hampir semua bidang. Kapan saja, dimana saja dan mengerjakan apa saja, ia bersemangat. Bersungguhsungguh ia belajar, meskipun tidak begitu menguasai.
Kuatnya motivasi intrinsik mampu membuat seseorang berani menghadapi kesulitan. Kisah tentang Imam Bukhari adalah kisah tentang manusia yang memiliki motivasi intrinsik luar biasa. Ia menempuh perjalanan beratus-ratus kilo, memenuhi kakinya dengan kepenatan, dan membiarkan tubuhnya disengat oleh panasnya matahari demi mendapatkan sebuah hadits. Kalau ia menginginkan harta dari penguasa, tak perlu ia menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan sebuah hadits yang belum tentu ia ambil (karena hadits itu ternyata dha’if , misalnya). Tetapi ada kekuatan jiwa yang menggerakkannya. Ada kecintaan pada agama yang membuatnya tak pernah berhenti mencari ilmu.
Kalau motivasi intrinsiknya sudah kuat, tanpa fasilitas yang memadai pun mereka bisa tumbuh menjadi manusia cerdas luar biasa. Nama-nama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbal atau –apalagi Abu Hurairah, bukanlah orang yang memiliki cukup sarana untuk belajar.
Mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan jiwa menakjubkan. Dahsyatnya motivasi mereka untuk menolong agama membuat daya ingat mereka sangat hebat dan pikiran mereka amat jernih.
Kisah para penemu juga merupakan kisah tentang motivasi intrinsik yang kuat. Bukan kisah tentang banyaknya fasilitas yang mereka miliki. Orang-orang super kreatif bukanlah mereka yang memperoleh latihan gerak dengan iringan musik yang-kadang tanpa disadari guru- sensual.
Pernah, saya merasa amat sedih ketika menghadiri acara tutup tahun sebuah lembaga pendidikan. Atas nama kreativitas, anak-anak disuruh lenggak-lenggok memutar badan ala peragawati, diiringi dengan alunan musik menggoda.
Mereka lupa atau tidak tahu- seorang anak menggerakkan dadanya, lalu memperoleh lepuk tangan meriah, yang menari-nari di benaknya bukanlah “syhadu bi anna muslimun”, melainkan sensualitas. Bukan kreativitas.*
Kolomnis Majalah Suara Hidayatullah