Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Tak Sekedar Urusan Mahar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Desember 2013 09:55 9:55 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Desember 2013 09:55
Bagikan
Perempuan yang meminta mahar tinggi karena terpengaruh adat, atau karena mata duitan, berbeda sekali dengan yang menuntut mahar tinggi karena merendahkan sunnah
Bagikan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

TAK pantas disebut aktivis dakwah jika perkataannya meremehkan as-sunnah. Tak pantas disebut Mukmin jika ia bersombong dengan hartanya di hadapan Allah Ta’ala Yang Maha Kaya, bahkan seandainya ia mampu bersedekah emas sebesar Jabal Uhud. Patutkah seseorang disebut sebagai ahlus sunnah jika kepada atsar para sahabat ia tidak hormat?

Miris hati ketika di sebagian majelis mendengar perkataan yang meremehkan sunnah dan atsar para sahabat, justru dari aktivis yang bersemangat. Sunngguh, semangat saja tidak cukup. Semangat tanpa disertai kesediaan menuntut ilmu dan ketundukan pada sunnah, justru jadi pembuka syubhat.

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik

Sangat berbeda orang yang tidak mampu melaksanakan sunnah dengan mereka yang menolak atau meremehkan sunnah. Sangat berbeda. Ada orang yang memiliki penghormatan terhadap sunnah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Ia mencintainya, tapi tak mampu melaksanakannya. Tetapi ada pula orang yang merendahkan sunnah dan melecehkannya karena memandang ada yang lebih baik daripada tuntunan Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Seseorang bertanya, “Bagaimana jika perkataannya itu bercanda?” Sungguh, seorang Mukmin tak patut bercanda dengan merendahkan as-sunnah dan atsar para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Bagi seorang Mukmin, canda pun tidak menolak kebenaran dan meremehkan petunjuk. Ia berhati-hati agar tak tergelincir dalam perkataan batil.

Ingatlah ketika Abu Al-Qasim Al-Asbahani, ‘alim besar dari kalangan Syafi’iyah mengingatkan, “Ahlus-sunnah dari kalangan salaf mengatakan, ‘Apabila seseorang telah mencerca atsar, maka sudah pantas baginya untuk diragukan keislamannya.’”

Abu Muhammad al-Hasan Ibn Ali Ibn Khalf al-Barbahari, penulis kitab Syarhus Sunnah, mengingatkan, “Apabila kamu mendengar seseorang mencerca atsar atau menolaknya atau menginginkan selainnya, maka ragukan keislamannya dan janganlah kamu ragu bahwa ia adalah seorang pengekor hawa nafsu dan mubtadi’.”

Renungkanlah.

Sama tindakannya, sangat berbeda kedudukannya. Perempuan yang meminta mahar tinggi karena terpengaruh adat, atau karena mata duitan, berbeda sekali dengan yang menuntut mahar tinggi karena merendahkan sunnah. Berhati-hatilah jika engkau menghadapi yang ketiga ini.

Terhadap tingginya mahar karena adat, dekatilah dengan penuh adab dan bicaralah dengan santun. Mereka sesungguhnya tak mempersulit. Adakalanya justru engkau yang harus gigih berusaha dan meniatkannya sebagai dakwah. Tak jarang, perempuan itu sesungguhnya tak menghendaki.

Adapun terhadap yang meninggikan mahar karena mata duitan atau karena gengsi, terserah kepadamu untuk meneruskan atau menghentikan proses. Telah jelas bagimu akhlak dan sikapnya, sehingga engkau dapat memperhitungkan resiko yang akan engkau terima jika tetap melanjutkan. Adapun terhadap perempuan yang menuntut mahar tinggi karena memandang rendah sunnah terkait mahar, maka sungguh tak ada kebaikan padanya. Tinggalkan dia. Semoga Allah Ta’ala berikan pengganti yang jauh lebih baik dan penuh barakah. Atau nasehati dia sampai berubah dan bertaubat. Jangan meneruskan proses kecuali jika engkau melihat bahwa ia sungguh-sungguh berubah. Takutilah jika ini menjadi penghapus barakah.

Menikahlah dengan memuliakan sunnah. Bukan merendahkannya. Sesungguhnya bersama sunnah ada barakah. Ini yang sangat penting. Hal yang serupa juga berlaku terhadap para laki-laki. Sama tindakannya, bisa berbeda sekali kedudukannya. Berbeda pula sikap terhadapnya.

Tak masalah jika ia ingin memberi mahar yang cukup besar sekiranya ia mampu. Tetapi yang terbaik adalah menyederhanakannya. Yang harus engkau tinggalkan adalah laki-laki yang ingin meninggikan mahar karena mentertawakan sunnah dan bersombong terhadap kekayaannya. Jika ia bermaksud menyombongkan kekayaannya yang tak seberapa, maka inilah jalan kehinaannya. Takutlah ini menimpa rumah-tanggamu. Jika ia meninggi-ninggikan mahar (meskipun jumlahnya, sungguh tak seberapa) karena merendahkan sunnah, maka ingatlah nasehat Imam Ahmad rahimahullah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Barangsiapa menolak suatu hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia berada di tepi jurang kehancuran.”

Teriris-iris rasanya hati ini manakala ada yang mentertawakan mahar seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu. Terlebih jika ia seorang aktivis. Sungguh, andaikata ia berdiri sepanjang malam untuk beribadah dan puasa sepanjang hari, niscaya tak dapat menyamai kemuliaan satu saja dari sahabat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Mari kita renungkan sejenak hadis ini. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku! Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfaq emas sebesar Gunung Uhud, maka tidak akan menyamai satu mudd (sedekah) bahkan tidak setengahnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah & Ahmad).

Meski wujudnya tidak menghina satu atau sebagian sahabat secara langsung, tetapi mentertawakan kecilnya mahar mereka tidak termasuk penghinaan? Ada tertawa, ada mentertawakan. Keduanya berbeda. Memang sikap meremehkan apa yang diperbuat tidak secara persis sama dengan menghina sahabat, tetapi ini dapat menjadi jalan untuk menggelincirkan kita lebih jauh sampai kepada keadaan yang diperingatkan oleh Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Na’udzubillahi min dzaalik.

Semoga catatan ringkas ini bermanfaat. Semoga kita dapat menghindari perkara-perkara yang memusnahkan barakah pernikahan. Sebaliknya, kita mengerjakan hal-hal yang Allah Ta’ala ridhai.*

twitter, @kupinang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kalangan LSM Dinilai Halangi rencana Penutupan Lokalisasi Dolly 2014
Tulisan selanjutnya Bank Sentral Mesir Bekukan Dana 72 Organisasi, termasuk Penyantun Dhuafa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

perjuangan
Meminang Surga

Matinya Perjuangan

17 Januari 2022 14:00
Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

30 November 2021 15:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?