Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Keluarga Sakinah

Suami yang Berubah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Juli 2009 09:00 9:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Juli 2009 09:00
Bagikan
Bagikan

Assalamu’alaikum wr wb,

Yth Pak Ustadz, bagaimana caranya menyadarkan suami agar lebih memberi perhatian kepada keluarga? Suami saya pendiam, berwatak keras, cuek, mudah marah dan pendendam.

Dulu dia lebih baik, lebih ceria, suka bercanda. Tapi dia banyak berubah ke arah yang buruk sejak kami pindah ke luar negeri. Beban hidup/hutang rumah sangat berat, sementara pekerjaan dia belum “settled”. Dia merasa stress dan beban pikiran yang banyak; sehingga semakin sensitive dan menjauhi keluarga. Padahal sebagai istri saya sudah membantu dengan bekerja full time. Anak-anak juga bisa mengerti kondisi keuangan keluarga. Jadi sebenarnya kami terbiasa dan tidak keberatan dengan hidup hemat. Buat kami materi tidak terlalu masalah, anak-anakpun mengerti. Yang kami inginkan bersama anak-anak adalah kasih sayang & perhatian dari suami. Tetapi kalau diingatkan, dia marah. Walaupun dia mengakui kalau perilakunya memang berubah (ke arah yang buruk). Tetapi tetap saja tidak terima kalau dikatakan telah mengecewakan kami dengan sikapnya yang kurang perhatian & kasih sayang tersebut.

Saya katakan kepadanya, dengan bersikap begitu dia sudah melalaikan nafkah bathin untuk keluarga, sementara nafkah lahir juga tidak memuaskan, walaupun kami bisa mengerti & menerimanya.

Saya merasa cape lahir bathin, karena seringnya bertengkar. Kedua anak kami sudah tahu dan sering menyaksikan pertengkaran ini, karena sering dilakukan secara terbuka di depan anak-anak. Tidak jarang mereka menyaksikan kekerasan yang dilakukan suami kepada saya.
Saya sering menangis sambil berdo’a kepada Allah, mohon ampun dan pertolongan-Nya, karena saya yakin hanya dengan pertolongan Allah saya bisa mengatasi masalah ini. Sebenarnya saya juga takut berdosa dengan sikap-sikap saya pada suami. Tapi saya kan cuma minta disayang sama suami seperti yang dulu pernah saya rasakan. Itu kan hak saya, saya bukan minta emas atau berlian yang tidak mungkin diberikannya. Tetapi kenapa dia begitu susah memberikannya?

Baca Juga

Zakat dari Harta Haram, Apa Hukumnya?
Kedudukan Hukum Adik Ipar
 Bijaksana Saat Menolak Lamaran
Suami Merahasiakan Gajinya, Menurut Islam
Mengembalikan Indahnya ‘Kamar Tidur’

Saya katakan kalau sudah bosan kepada saya, saya tidak keberatan ditinggalkannya, saya mau yang pasti-pasti saja. Tidak seperti sekarang punya suami tapi rasanya tidak punya, karena kurang kasih sayang….. Kalau dia meninggalkan saya, tentu saya tidak akan berharap macam-macam lagi kepadanya, karena dia tidak punya kewajiban lagi kepada saya. Tapi dia bilang tidak mau meninggalkan keluarga.

Saya pikir seseorang harus berbicara kepadanya untuk menyadarkan-nya. Saya sudah mencoba mem-print artikel yang menunjang keinginan kami untuk dibacanya, sampai saya minta dikirimi majalah Hidayatulllah edisi “Gelorakan Kasih Sayang dalam keluarga” dari tanah air.

Mohon sarannya dan terima kasih banyak Ustadz.

Wassalamu’alaikum wr wb.

RH

Jawaban Pengasuh

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ibu RH yang dirahmati Allah

Saya dapat merasakan perasaan ibu, dan saya ikut merasa prihatin dengan keadaan yang menimpa keluarga ibu.

Ibu …..

Saya percaya, bahwa ibu sangat mencintai suami ibu. Yang ibu harapkan adalah bagaimana kehidupan keluarga ibu bersama suami dan anak-anak menjadi normal kembali, saling menyayangi dan mengasihi seperti yang pernah ibu rasakan sebelumnya. Bahkan lebih baik lagi tentunya. Dari apa yang telah ibu sampaikan, saya juga percaya bahwa sebenarnya suami ibu menginginkan hal yang sama.

Seperti yang ibu ceriterakan, bahwa sebenarnya dulu suami ibu tidak seperti itu perilakunya. Perubahan itu baru terjadi saat pindah ke luar negeri dengan tekanan ekonomi yang memberatkannya. Sehingga kini menjadi pemurung, pendiam, sangat sensitif, mudah marah dan sebagainya. Itu menunjukkan bahwa suami ibu sedang mengalami stress akibat tekanan hidup yang tidak mampu diatasinya. Ia tidak dapat mengontrol sikap dan tindakannya dengan tepat. Tekanan itu akan dirasakan semakin berat jika hubungan dalam keluarga tidak harmonis.

Ibu RH yang dirahmati Allah.

Suami ibu sebenarnya tengah membutuhkan bantuan dan pertolongan untuk dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Memang benar, bahwa ibu dan anak-anak juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian suami. Tetapi juga harus ibu sadari bahwa suami ibu sendiri saat ini sedang membutuhkan perhatian, dorongan, dan kasih sayang dari orang-orang yang dicintainya, terutama istri. Ibarat orang yang sedang sakit, saat ini ia belum bisa memberikan apa yang ibu butuhkan secara wajar. Maka ibu dan anak-anaklah yang harus menyelamatkannya. Diperlukan pengorbanan ibu dan anak-anak untuk bisa memahami dan menerima kondisi ini dengan penuh kesabaran. Jika ia kembali pulih nanti, isya-Allah apa yang ibu butuhkan akan kembali ibu dapatkan.

Oleh karenanya berilah perhatian kepadanya, kasihi dan sayangilah suami ibu dengan sepenuh hati. Ikhlaskan diri untuk membantunya, terimalah dengan ridla apa yang terjadi pada suami ibu, termasuk perlakuannya kepada ibu. Itu akan memberikannya ketenangan dan kedamaian dalam menghadapi ujian ini.

Selanjutnya, berilah support motivasi dan keyakinan, bahwa apa yang kini tengah suami ibu hadapi dapat dilewati, apabila keluarga tetap saling mengasihi, menyayangi dan bantu membantu meringankan beban pendeitaan tersebut. Yakinkan bahwa insya-Allah badai akan berlalu. Karena Allah telah memberikan jaminannya:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-8)

Support itu akan menjadi energi bagi suami untuk bangkit dari keterpurukannya, dan menatap masa depan dengan optimisme, keceriaan serta kebahagian bersama dengan istri dan anak-anak yang mencintainya.

Apa yang telah ibu lakukan dengan meratap kepada Allah adalah langkah yang benar. Jangan berputus asa dan jangan ditingalkan. Akan lebih baik lagi jika ibu bisa mengajak suami dan anak-anak untuk bersama-sama lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat berjamaah bersama, shalat lail, baca al-Qur’an serta memperbanyak doa kepada Allah SWT. Jika tidak diberi oleh Allah persis seperti yang ibu minta, boleh jadi Allah akan mengganti dengan kebaikan yang lain. Jika Allah belum memberikannya hari ini, mungkin Allah akan memberikannya besok atau lusa. Yang pasti do’a yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak ada yang ditolak oleh Allah.

Semoga Allah memberikan kepada ibu sekeluarga kesabaran untuk menjalani ujian kehidupan ini, serta diberi jalan kemudahan untuk menyelesaikannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Pengasuh:

Ust. Ainur Rofiq

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Riawan Amin Mendapat Anugerah Doktor Honoris Causa
Tulisan selanjutnya Bagaimana agar bisa menjadi istri yang sabar?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Berita
5 Juni 2026 05:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Keluarga Sakinah

Batas Sederhana Berpakaian dan Berhias

17 Januari 2021 07:57
Keluarga Sakinah

Bijaksana Saat Menolak Lamaran

24 Oktober 2018 17:12
Keluarga Sakinah

Hilangnya Kecemburuan Pertanda Matinya Kejantanan

22 Maret 2018 17:04
Keluarga Sakinah

Begini Pandangan Islam terhadap Cemburu

15 Maret 2018 16:25
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?