MUNGKIN Anda berkata bahwa hal itu terlalu `ideal’ atau tidak mungkin wanita yang sedang terluka kewibawaannya merasa senang dengan perbuatan yang terpuji seperti ini, mengesampingkan perasaan marah yang bergejolak di dalam hati, dan berdiri di atas kebodohan seperti ini dengan tersenyum, berdandan, dan bersenda gurau kepada suami. Namun ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 35)
Akan tetapi hasilnya yang sangat besar akan menjadikanmu bahagia, dan Anda akan mendapati suami seperti teman yang setia dan tidak akan menyimpang sedikit pun dari keinginan Anda.
Ada contoh kisah:
Seorang istri bercerita,
“Aku dan suamiku selalu bertengkar dan hampir tiap minggu kami selalu bertengkar. Setiap suami melontarkan satu kata, aku balas dengan sepuluh kata-kata. Aku tidak bermaksud menyakitinya dan membuatnya marah, akan tetapi aku hanya ingin memahamkannya tentang sesuatu yang ada pada diriku. Namun, dia tidak bisa memahamiku, tidak mempercayai kata-kataku, bahkan dia melontarkan celaan menjijikkan yang membuatku marah kepadanya dan mendiamkannya beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.
Namun tindakanku itu tidak membuahkan hasil, karena dia tidak meminta maaf dan tidak mengakui kesalahannya, bahkan perilaku dan cara berpikirnya tidak berubah.
Pada suatu malam aku menelepon salah seorang teman perempuanku, sementara pada saat itu aku sedang mendiamkan suami karena adanya perselisihan. Aku mengadu kepadanya agar dia dapat menghiburku, namun ternyata temanku justru mencela metode burukku terhadap suamiku dalam menghadapi perselisihan yang mengakibatkan perselisihan yang berkepanjangan.
Temanku menasihatiku, ‘Sekarang pakailah bajumu yang paling bagus, rapikan rambutmu, pakailah parfum yang paling dia sukai, kemudian datangilah dia dengan langkah yang tenang, tersenyumlah di hadapannya, dan pandangilah dia ketika kamu berjalan ke arahnya. Setelah dekat dengannya, letakkanlah tanganmu di atas tangannya dan katakan, ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa tidur nyenyak hingga engkau ridha padaku.’ Setelah itu bercanda beberapa saat, ungkapkan apa yang ingin kamu utarakan kepadanya.
Kemudian aku pun melaksanakan shalat Isya, lalu berdoa kepada Allah agar Dia menolongku dan membukakan hatiku dan hatinya. Setelah itu aku lakukan nasihat temanku dengan baik.
Dan bagaimana hasilnya? Suamiku sangat terkejut dan merasa bingung, tentu saja karena kejutan yang menyenangkan. Dia merespon diriku dengan respon yang belum pernah aku temui sebelumnya. Dulu dia laksana batu karang yang keras, tidak ada yang bisa mengubah pendapatnya. Yang membuatku semakin heran adalah tetesan air mata yang membasahi pipinya, saat aku mengadu dan berbicara kepadanya. Dia mengungkapkan penyesalannya dan meminta maaf dengan bersumpah atas nama Allah yang Maha Agung.
Selama pernikahanku, dia belum pernah sekali pun meminta maaf padaku kecuali pada saat itu. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat suamiku berlaku ramah dan baik. Tetapi aku baru tahu cara untuk bisa sampai ke dalam hatinya sekarang ini.*/Oleh Nashir Asy-Syafi’i, dari bukunya Bunga-bunga Istri Tercinta.