“PADA pagi hari, setiap persendian salah seorang dari kalian wajib bersedekah; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, melarang dari yang mungkar adalah sedekah, dan itu semua cukup dengan dua rakaat shalat dhuha yang ia kerjakan.”
Pesan dalam Hadits riwayat Muslim itu tampaknya telah dicontohkan oleh bapak satu ini. Namanya Badar.
“Kalau mau ingat nama saya, ingat saja Perang Badar,” ujarnya sambil bercanda saat memperkenalkan diri kepada hidayatullah.com.
Iya telah menyedekahkan tasbih, tahmid, dan takbirnya dalam shalat dhuha-nya.
“Setiap waktu dhuha, kalau mau beli kue saya, cari aja di masjid. Insya Allah saya ada di situ,” katanya sambil memberikan kartu nama miliknya saat singgah di Masjid Nurul Jannah, perumahan Azalea, Depok, Jawa Barat.
Kartu nama sangat sederhana itu hanyalah sepotong kertas pink persegi empat tak simetris, yang dilengkapi tulisan tangan nama usaha dan nomor kontaknya.
Tidak hanya sampai di situ. Ia juga menginfaqkan hartanya untuk masjid.
Seperti tampak dalam gambar yang dijepret pada Jumat pagi, 20 Sya’ban 1437 (27/05/2016) ini, ia telah menyisihkan sebagian hasil jualannya melalui kotak amal masjid.
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk mencari keridhaan Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat.
Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”* Zainal