SEJUMLAH foto beredar dan masuk ke perangkat awak hidayatullah.com baru-baru ini terkait kondisi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pasca dilanda gempa dan tsunami pada Jumat (28/09/2018) lalu.
Dalam dua foto yang dikirimkan seseorang tersebut tampak coretan tangan diduga oleh warga Palu yang menuliskan kalimat “Walikota Palu Pemuja “Setan””. Ditulis pada dinding darurat yang dipasang di bibir pantai berlatar belakang pemandangan laut dan pegunungan, identik suasana di pesisir Kota Palu.
Pada foto lainnya, tampak dua lembar triplek yang dipasang pada batang sebuah pohon di pinggir pantai. Kedua triplek itu masing-masing bertuliskan “Wali Kota Jangan Sembunyi” dan “Palu Nomoni Bikin Hancur Kota Palu dan Sekitarnya” dengan huruf besar semua.
“Korban Palu tsunami akibat Palu Nomoni membuat Palu Menangis,” demikian bunyi tulisan tersebut saat dipantau hidayatullah.com.
Saat dipastikan siapa yang menulis tulisan itu, seorang warga mengaku masyarakat sekitar yang menulisnya. Palu Nomoni adalah adat budaya yang baru saja dijadikan eventtahunan oleh Wali Kota Hidayat.
Tahun ini adalah tahun ketiga diadakannya event tersebut. Di antaranya ada ritual lempar sesajen ke laut, dengan harapan bisa menyembuhkan penyakit.
Kegiatan Balia merupakan kegiatan yang sudah lama hilang dan ingin dihidupkan kembali. Balia sendiri dahulu digunakan untuk mengobati orang sakit menggunakan mantra dan dilakukan oleh orang yang ahli.
“Biasanya untuk mengobati orang sakit menurut cerita dahulu, identiknya sih dengan sesajen,” kata Andi Ahmad, saat dimintai keterangan di Jalan Garuda Dua, Birobuli Utara, Palu Selatan, Kota Palu, Selasa (02/10/2018).
Palu Nomoni berarti artinya Palu berbunyi. Menurut Andi, tradisi ini sebenarnya sudah lama lenyap sejak kedatangan Guru Tua Habib Idrus bin Salim Al Jufri, yang disebut masih memiliki sanad keturunan dari Baginda Rasulullah.
“Sebenernya tradisi ini sudah lama hilang, dibersihkan sejak kedatangan guru tua, namun kembali dihidupkan,” tuturnya.
Dimulainya tradisi ini sejak 2016, terpilihnya Wali Kota pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha). Namun sejak 2016 juga terus terjadi hal-hal aneh seperti angin kencang.
“Jadi memang tradisi ini identik dengan roh halus, sejak 2016 dihidupkan kembali, memang 2016 dan 2017 itu setiap dirayakan angin kencang trus, saat ini barulah tsunami,” paparnya.*/SKR/Sirajuddin Muslim
Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media