Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Lensa

Coretan Tangan untuk Wali Kota Palu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Oktober 2018 22:01 10:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Oktober 2018 22:01
Bagikan
Coretan tangan "Walikota Palu Pemuja Setan" di bibir pantai.
Bagikan

SEJUMLAH foto beredar dan masuk ke perangkat awak hidayatullah.com baru-baru ini terkait kondisi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pasca dilanda gempa dan tsunami pada Jumat (28/09/2018) lalu.

Dalam dua foto yang dikirimkan seseorang tersebut tampak coretan tangan diduga oleh warga Palu yang menuliskan kalimat “Walikota Palu Pemuja “Setan””. Ditulis pada dinding darurat yang dipasang di bibir pantai berlatar belakang pemandangan laut dan pegunungan, identik suasana di pesisir Kota Palu.

Pada foto lainnya, tampak dua lembar triplek yang dipasang pada batang sebuah pohon di pinggir pantai. Kedua triplek itu masing-masing bertuliskan “Wali Kota Jangan Sembunyi” dan “Palu Nomoni Bikin Hancur Kota Palu dan Sekitarnya” dengan huruf besar semua.

[Foto: Istimewa]
Tulisan-tulisan bernada serupa bertebaran di Kota Palu pasca bencana alam yang menelan korban jiwa hampir 2.000 orang belum termasuk korban hilang dan korban tertimbun itu. Hingga Ahad (07/10/2018), BNPB merilis korban jiwa telah mencapai 1.944 orang.

Coretan tangan korban gempa bumi dan tsunami Palu banyak terlihat setelah bencana tersebut terjadi di pinggir Jalan Trans Sulawesi, Palu, Sulawesi Tengah. [Foto: Fery Pradolo/Liputan6]
Sebelum ini, beberapa hari pasca bencana tersebut viral kabar bahwa ada sejumlah warga Palu yang membuat sesajen di pesisir pantai Palu. Video dan foto-foto ritual itu menyebar luas di berbagai media sosial.

Baca Juga

[Berita Foto] Lesunya Pasar Tradisional, Dorong UMKM Optimalkan Penjualan Online melalui Shopee
[Foto] Selalu Terdepan Wujudkan Rumah Impian
Melihat dari Dekat Pembangkit Listrik Biogas Gamping
Layanan TIKI Jangkau hingga Pelosok Negeri
Pengusaha Reptil Sukses Bersama TIKI

Video dan foto viral masyarakat memberikan sesajen di pesisir pantai Palu, Oktober 2018. [Foto: Istimewa/kolase hidayatullah.com]
Pada Kamis (04/10/2018), diberitakan hidayatullah.com, sebuah tulisan di papan triplek dekat pesisir pantai samping jalan Trans Sulawesi daerah Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, menyalahkan Festival Palu Nomoni sebagai penyebab gempa dan bencana tsunami.

“Korban Palu tsunami akibat Palu Nomoni membuat Palu Menangis,” demikian bunyi tulisan tersebut saat dipantau hidayatullah.com.

Saat dipastikan siapa yang menulis tulisan itu, seorang warga mengaku masyarakat sekitar yang menulisnya. Palu Nomoni adalah adat budaya yang baru saja dijadikan eventtahunan oleh Wali Kota Hidayat.

Tahun ini adalah tahun ketiga diadakannya event tersebut. Di antaranya ada ritual lempar sesajen ke laut, dengan harapan bisa menyembuhkan penyakit.

Tulisan “Korban Palu tsunami akibat Palu Nomoni membuat Palu Menangis,” pada papan triplek dekat pesisir pantai samping jalan Trans Sulawesi daerah Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, difoto pada Kamis (04/10/2018). [Foto: Sirajuddin Muslim/hidayatullah.com]
Seperti ditulis media ini sebelumnya, sebelum bencana alam gempa dan tsunami melanda Kota Palu, Jumat (28/09/2018), banyak warga yang menghadiri kegiatan festival kebudayaan Palu Nomoni di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah. Para warga hadir di pantai tersebut untuk menyaksikan kegiatan Balia yang memang sudah lama hilang.

Kegiatan Balia merupakan kegiatan yang sudah lama hilang dan ingin dihidupkan kembali. Balia sendiri dahulu digunakan untuk mengobati orang sakit menggunakan mantra dan dilakukan oleh orang yang ahli.

Coretan tangan tolak Balia di Sulteng. [Foto: Istimewa]
Menurut Andi Ahmad, warga setempat, budaya ini baru dihidupkan kembali sejak 2016, biasanya menggunakan sesajen, seperti menghanyutkan makanan ke laut, dan hewan ternak seperti kambing.

Baca: Sebelum Tsunami Warga Saksikan Tradisi Nomoni

“Biasanya untuk mengobati orang sakit menurut cerita dahulu, identiknya sih dengan sesajen,” kata Andi Ahmad, saat dimintai keterangan di Jalan Garuda Dua, Birobuli Utara, Palu Selatan, Kota Palu, Selasa (02/10/2018).

Palu Nomoni berarti artinya Palu berbunyi. Menurut Andi, tradisi ini sebenarnya sudah lama lenyap sejak kedatangan Guru Tua Habib Idrus bin Salim Al Jufri, yang disebut masih memiliki sanad keturunan dari Baginda Rasulullah.

“Sebenernya tradisi ini sudah lama hilang, dibersihkan sejak kedatangan guru tua, namun kembali dihidupkan,” tuturnya.

Baca: “Nomoni Membuat Palu Menangis”

Dimulainya tradisi ini sejak 2016, terpilihnya Wali Kota pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha). Namun sejak 2016 juga terus terjadi hal-hal aneh seperti angin kencang.

“Jadi memang tradisi ini identik dengan roh halus, sejak 2016 dihidupkan kembali, memang 2016 dan 2017 itu setiap dirayakan angin kencang trus, saat ini barulah tsunami,” paparnya.*/SKR/Sirajuddin Muslim

Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baliagempa PaluHidayatKailiPaluPalu NomoniPantai TalisePashasesajenSigit Purnomo SaidSulawesi Tengahtradisi Kailitsunami PaluWakil Wali Kota PaluWali Kota Palu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sahabat Al-Aqsha Bagikan Selimut ke Pengungsi di Pegunungan Donggala
Tulisan selanjutnya Pesantren Hidayatullah Samarinda Siapkan Beasiswa untuk 100 Anak Korban Gempa Sulteng

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Berita
31 Agustus 2026 20:47
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaLensa

[Foto] Cepat dan Hemat Pakai Kuota Edukasi Indosat

6 November 2023 18:24
BeritaLensa

Semangat Guru Tunanetra Mengajar

31 Oktober 2023 17:47
BeritaLensa

Program Dekarbonisasi PTBA Tanjung Enim

20 Oktober 2023 20:49
BeritaLensa

Museum Batu Bara, Nilai Tambah untuk Indonesia

20 Oktober 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?