Hidayatullah.com—Mesti tak berada dalam situasi perang angkat senjata, umat Islam di Indonesia memiliki tiga pilihan jalur jihad. Pernyataan ini disampaikan Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir di Jakarta.
Dalam seminar Fiqih Zakat, yang diadakan Lazis Arrahman Qur’anic Learning Islamic Center (AQL) bertajuk “Dengan Zakat, Sucikan Harta dan Diri” baru-baru ini Bachtiar menjelaskan bahwa jihad pertama adalah jihad ilmu. Sebab mempelajari ilmu agama dengan kesungguhan tinggi akan memajukan bangsa. Jihad jalur ini dinilai merupakan jalur efektif menghasilkan banyak ulama.
“Indonesia kalau mau bangkit harus jihad ilmu sehingga menghasilkan ulama yang menjadi pemimpin. Sekarang ini kita krisis ulama karena kita nggak punya dana khusus untuk mencetak ulama,”ungkapnya di markas AQL, Tebet, Jakarta Selatan.
Jalur jihad kedua dalam bidang informasi dan komunikasi. Jihad melalui jalur ini, dikatakan Bachtiar darurat untuk segera dilakukan. Umat tidak boleh diam ketika arus opini publik digiring pada paham selain Islam. Pemikiran sesat hanya bisa dibombardir balik dengan pemikiran.
Sedangkan memberi makan orang lain sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk ikut memberi makan, menjadi jalur jihad ketiga. Tapi jalur ini seringkali terlupakan. Padahal efek memberi makan, kata pimpinan AQL itu, akan menguatkan persaudaraan diantara sesama umat Islam.
“Nggak akan berkurang rezeki jika kita mau menyisihkan uang untuk memberi makan orang lain. Allah akan terus tambahkan rezeki untuk hamba-Nya,”terang pimpinan Lembaga Tadabbur Al Qur’an Indonesia (LaTaQia) itu.
Ia mencontohkan aksi seorang pemuda di Makassar yang tidak ragu merogoh kocek pribadi sebesar Rp. 2 Juta/hari untuk memberi makan orang lain.
“Padahal Ia baru merintis usaha. Rumahnya masih ngontrak pula. Tapi dia malah punya target tahun ini bisa meningkatkan besaran infak sedekahnya,”tuturnya serius.
Kembali Bachtiar meyakinkan agar tidak perlu ragu ambil bagian disalah satu jalur jihad di atas. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, ketiganya memerlukan sokongan dana yang kuat.
“Ini adalah program besar. Jangan berharap kita bisa menang dalam pertarungan sosial kalau tidak jihad harta,”tukasnya.
Jika kesadaran berjihad harta tumbuh, umat akan memiliki dana cadangan. Dana itulah yang akan digunakan membiayai ketiga jalur jihad tersebut.*