مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti, sampai pun duri yang menusuknya, melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (Riwayat Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Hidayatullah.com | SELAMA hidup di dunia, manusia pasti akan mengalami musibah. Tak ada satupun yang bisa lepas dari hal tersebut. Mulai dari presiden sampai pengamen, yang kaya maupun orang papa, pasti pernah mendapatkan musibah. Sebab, hal itu bagian dari kehidupan yang selalu melekat pada diri manusia.
Dalam menghadapi musibah, terdapat beberapa sikap yang ditunjukkan manusia. Ada yang mengeluh, sabar, dan berlapang dada. Bahkan, sebagian justru ada yang bersyukur ketika musibah datang menimpa.
Makna Hadits
Hadits di atas sebagai pendorong bagi umat Muslim agar mengharapkan pahala, ketika tertimpa musibah-musibah kecil seperti tertusuk duri, terkena sakit ringan (flu, batuk), ataupun saat mereka lelah karena bekerja seharian.
Faktanya, kebanyakan manusia lalai ketika tertimpa musibah. Bukannya mengharap pahala dari Allah, tetapi malah tak terima dengan apa yang dialaminya. Padahal, dalam semua hal, setiap orang memiliki peluang memperoleh kebaikan. Bagi orang beriman yang tertimpa musibah, sekecil apapun, maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.
Bahkan, apabila mereka mampu bersabar dan mengharapkan pahala dari musibah itu, sesungguhnya akan mendapat tambahan kebaikan. Karenanya, setiap orang beriman harus selalu menghadirkan niat serta mengharapkan pahala pada setiap musibah yang dialami, baik kecil maupun besar.
Bentuk Kasih Sayang
Musibah dipahami oleh para ulama sebagai sesuatu yang menimpa atau mengenai seseorang dengan bentuk bermacam-macam. Entah yang berkonotasi baik atau buruk.
Hal itu didasarkan pada firman Allah:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka, dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS: An-Nisa[4]: 79).
Dari ayat ini diketahui, wujud musibah itu ada yang baik dan buruk. Hanya saja, pengertian secara umum selalu dikonotasikan sesuatu yang tidak baik.
Para ulama menjelaskan, musibah merupakan ujian untuk meninggikan derajat seorang hamba. Hal ini biasa terjadi pada para nabi maupun rasul. Mereka mendapat musibah, dimaksudkan selain untuk meninggikan derajat, juga memperbesar pahala. Selain itu, juga sebagai qudwah (teladan) bagi yang lainnya untuk bersabar.
Dari Mush’ab bin Sa’id—seorang tabi’in—dari ayahnya, ia berkata;
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” (Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad Darimi).
Orang beriman harus yakin, musibah bisa menjadi sebab dihapuskannya dosa.
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS: Asy Syura [42]: 30).
Selain itu, musibah merupakan hukuman yang disegerakan dalam rangka membersihkan dosa seorang hamba. Dari Anas bin Malik, Nabi ﷺ bersabda;
إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat.” (Riwayat Tirmidzi).
Sebagian salaf berkata, “Andaikata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”.
Dengan mengetahui hikmah musibah, seharusnya umat Islam lebih giat dan berusaha keras untuk bersabar dan meraih pahala lewat musibah tersebut. Sebab, musibah bukan karena Allah benci dan tidak suka kepada hamba-Nya. Akan tetapi, semua itu hakikatnya adalah kasih sayang Allah kepada kaum Mukminin.*/Bahrul Ulum