Hidayatullah.com–Peringatan kemerdekaan RI ke-70 nanti bisa menjadi momentum bangsa kita untuk merefleksi kekuatan pertahanan yang dimiliki. Indonesia harus menjadi negara yang kuat, ekonomi, sosial, budaya, politik dan hankam.
Hal ini disampaikan anggota Komisi I DPR RI, Sukamta hari Rabu (05/08/2015) menanggapi perluanya pertahanan yang kuat bagi Indonesia.
Menurutnya, pertahanan yang kuat bukan untuk menjadi ancaman bagi bangsa lain tetapi untuk kesejahteraan bangsa sendiri dan agar Indonesia dihormati oleh bangsa-bangsa lain baik tetangga dekat maupun jauh sambil berkontribusi dalam memelihara perdamaian dunia sebagaimana amanah UUD NRI 1945.
“Kita perlu merefleksikan semangat kemerdekaan Indonesia yang ke-70 untuk memperbaiki kekuatan pertahanan kita. Lembaga pemeringkat kekuatan militer dunia Global Fire Power Military pada tahun 2015 ini menempatkan Indonesia berada pada urutan ke-12 dengan Power Index 0.5231. Dengan semangat kemerdekaan, kita musti terus meningkatkan power index Indonesia. Mudah-mudahan tahun 2016 power index kita beranjak masuk 10 besar kekuatan militer dunia dan pada tahun 2024 mudah-mudahan bisa masuk 5 besar,” ujar politisi dari Fraksi PKS ini.
Wakil rakyat dari Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta ini menambahkan bahwa untuk mencapai itu, setidaknya ada 3 hal yang perlu kita tingkatkan, yaitu SDM, alutsista, dan anggaran. Personil tentara kita berjumlah sekitar 400.000an perang. Personil TNI kita memiliki kemampuan tempur cukup baik. Ditambah lagi kita memiliki sejumlah pasukan elit khusus di masing-masing matra seperti Kopassus dan Raider di AD, Paskhas dan Denbravo (Detasemen Bravo) 90 di AU, Kopaska (Komando Pasukan Katak), Yontaifib (Batalyon Intai Amfibi) dan Denjaka (Detasemen Jala Mangkara) di AL.
Daya tempur personil TNI mungkin saja masih lebih unggul dari pada negara-negara lain jika dihadapkan secara vis a vis di lapangan tanpa senjata. Daya survival dan daya tempur pasukan elit kita sudah diakui kehebatannya oleh negara-negara lain. Ini jadi kebanggan tersendiri, tapi jangan terlena. Kita harus trus tingkatkan kuantitas dan kualitasnya.
Sedangkan bicara soal alutsista dan anggaran pertahanan, politisi dari Fraksi PKS ini menyatakan, “TNI memiliki program Renstra dan MEF (Minimum Essential Forces). Renstra yang dibuat TNI terbagi ke dalam 3 tahap, yaitu renstra tahap I (2005-2009), renstra tahap II (2010-2014) dan renstra tahap III (2015-2019). Anggaran untuk Renstra tahap II meningkat 100% dari tahap I. Sedangkan untuk tahap III anggaran meningkat hampir 100%.”
Sukamta juga menambahkan bahwa TNI juga mengagendakan MEF (Minimum Essential Force) untuk memenuhi kebutuhan minimum pertahanan ke dalam 3 tahap, yaitu MEF tahap I (2010-2014), MEF tahap II (2015-2019) dan MEF tahap III (2020-2024). Dari tahun ke tahun, tahap ke tahap, anggaran untuk membeli dan memperbaharui alutsista terus meningkat. Kita juga mendorong agar anggaran tersebut terus ditingkatkan untuk tahun-tahun selanjutnya.
“Kalau SDM, alutsista dan anggaran terus kita tingkatkan baik kuantitas dan kualitasnya melalui program Renstra dan MEF ini, saya yakin kita bisa masuk menjadi 5 besar kekuatan militer dunia pada tahun 2024,” harap Sukamta.*