Hidayatullah.com–Kepala Staf Angkatan Bersenjata Turki Jenderal Hukusi Akar Kastaf Angkatan Bersenjata (AB) Turki Jenderal Hulusi Akar dilaporkan telah berhasil dibebaskan dari penyanderaan dan pelaku kudeta dan sejumlah perwira dikabarkan telah ditawan oleh pasukan pelaku kudeta.
Sementara itu, Badan Intelijen Nasional Turki (MIT) mengatakan upaya kudeta telah ‘ditolak’ rakyat dan bangsa Turki. Jurubicara MIT dikutip Daily Sabah juga mengatakan, Kepala Staf Hulusi Akar sudah kembali bertugas dengan aman.
Kabar terbaru juga menyebutkan, polisi telah menahan sebagian besar tentara yang terlibat dalam kudeta militer di saat ratusan ribu orang Turki turun ke jalan untuk menunjukkan solidaritas dengan pemerintah terpilih.
Di saat yang sama, pesawat kepresiden Recep Tayyip Erdogan telah mendarat dengan aman di bandara Attaturk, Istanbul
Perdana Menteri (PM) Turki Binali Yildirim mengumumkan No Fly Zone (Pemberlakukan zona bebas terbang) di Ankara. Menurutnya, setiap helikopter militer atau pesawat tempur yang terbang di atas gedung-gedung pemerintah akan “ditembak dengan rudal ‘
Yildirim tidak memberikan rincian, tapi mengatakan Turki tidak akan pernah mengizinkan “inisiatif yang akan mengganggu demokrasi.”
“Mereka yang berada di tindakan ilegal ini akan membayar harga tertinggi,” tambahnya.
Akibat usaha kudeta ini, media sosial di Turki ditutup. Sementara masyarakat memanfaatkan keberadaan masjid di seantero negeri untuk menyeru kepada rakyat turun ke jalanan mendukung pemerintahan yang sah.
Sejumlah suara pengeras masjid terdengar meminta rakyat Turki ikut turun ke jalanan. Ribuan orang memenuhi jalanan, meskipun harus disambut dengan tembakan militer Turki.

Sebelumnya, stasiun televisi Turki NTV, hari Sabtu (16/07/2016) melaporkan bahwa Jenderal Hulusi Akar dan sejumlah perwira ditawan di markas besar angkatan bersenjata di Ankara, Ibu Kota Turki.
Sebagian pasukan yang melakukan aksi kudeta itu bertindak tidak atas nama para petinggi militer, demikian dikutip dari Reuters.
Dikabarkan, Presiden Erdogan yang sedang melakukan kunjungan di Mongolia, dilaporkan telah dibawa ke tempat yang aman.
Pemimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dilaporkan mendukung pemerintahan resmi Turki berdasarkan konstitusi. Dalam pernyatannya Sekretaris Jenderal NATO meminta agar institusi dan konstitusi demokrasi Turki dihargai.
“Saya baru berbicara dengan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusogu, saya mengikuti kondisi di negara sekutu Turki,” ujarnya.
Ia pun meminta agar semua pihak di Turki tenang dan menahan diri. Menurutnya Turki merupakan sekutu dekat NATO.*