Hidayatullah.com–Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hari Senin mendesak semua pihak yang terlibat dalam operasi pembebasan kota Tal Afar dari DAESH (ISIS) untuk menghindari serangan yang melibatkan masyarakat.
Koordinator Kemanusiaan PBB di Iraq, Lise Grande dalam sebuah pernyataan mengatakan, sejauh ini ribuan warga sipil melarikan diri dari Tal Afar untuk tujuan keamanan.
Pernyataan PBB tersebut diikuti setelah Perdana Menteri Iraq Haider al-Abadi mengumumkan sebuah operasi ofensif besar untuk merebut kembali Kota Tal Afar dari DAESH, yang terletak di dekat Mosul.
“Kami umumkan peluncuran operasi untuk membebaskan Tal Afar. Saya memperingatkan DAESH apakah Anda ingin menyerah atau mati, “kata Haider dikutip AFP.
Baca: 6 Kelompok Milisi Syiah Terlibat dalam Serangan Tal Afar
Grande mengharapkan situasi kota yang menderita masalah kekurangan pangan, air dan kebutuhan dasar lainnya segera pulih.
“Lebih dari 30.000 orang telah melarikan diri dari kota, tapi kami tidak tahu berapa banyak warga sipil yang masih berada di medan perang sekarang.
“Namun, kami berharap ribuan lagi warga kota melarikan diri dalam beberapa hari dan minggu mendatang,” katanya.
Sebagaimana diketahui, Iraq telah melancarkan operasi militer Ahad pagi (20/08/2017) untuk merebut kembali Kota Tal Afar, sebuah kota sebelah barat Mosul, dari tangan ISIS.
Dalam pengumuman serangan itu melalui televisi, Perdana Menteri Iraq Haider al-Abadi menyerukan kepada kelompok yang menduduki kota itu, “Anda menyerah atau mati.”
Pejabat militer Iraq dan Amerika Serikat menaksir sekitar 2.000 milisi ISIS berada di Tal Afar.
Pasukan koalisi telah meningkatkan serangan udara terhadap kota itu sebelum serangan pasukan darat, yang memaksa ribuan kaum sipil melarikan diri.
Tal Afar adalah daerah terakhir Iraq yang dikuasai ISIS, setelah pembebasan Mosul bulan Juli lalu kira-kira 80 kilometer di sebelah timur.
Tidak seperti pertempuran merebut Mosul, satu kota besar yang berpenduduk banyak kaum Sunni, milisi bersenjata Syiah diperkirakan akan memainkan peran besar dalam pertempuran merebut Tal Afar, yang penduduknya banyak kaum Syiah.
Gejala ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan konflik antar-Syiah dan Sunni dan penduduk etnis Turki.*