Hidayatullah.com–Pembicaraan damai guna mengakhiri konflik antara kelompok pembebasan dan oposisi dengan rezim Presiden Bashar Al-Assad dimulai di Astana, Kazakhstan, hari Senin (23/01/2017).
Delegasi pemerintah dan oposisi Suriah berkumpul hari Senin (23/01/2017) di ibukota Kazakhstan untuk pembicaraan perdamaian yang didukung oleh Rusia dan Turki yang menurut sumber-sumber oposisi tidak akan mencakup negosiasi langsung.
Perundingan yang diinisiasi oleh Turki, Rusia, dan Iran ini dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00 siang waktu setempat di hotel mewah Rixos President.
Pemerintah Suriah dilaporkan mengirimkan sekitar 10 perwakilan yang dipimpin oleh Duta besar Suriah untuk PBB, al-Jaafari.
Erdogan: Turki dan Rusia Menciptakan Kemajuan Perdamaian di Suriah
Hari pertama perundingan damai antara rezim dan kelompok oposisi belum menghasilkan jalan keluar untuk mengakhiri konflik sejak 2011.
Rezim Suriah dan oposisi saling menyalahkan pelanggaran gencatan senjata yang mereka sepakati pada akhir Desember 2016.
“Kedua kubu berbeda interpretasi mengenai gencatan senjata,” Aljazeera melaporkan dari Astana.
Negosiasi di Astana itu diperkirakan akan terfokus pada pemberlakuan gencatan senjata nasional yang ditengahi oleh Rusia, Iran dan Turki pada bulan Desember yang sebagian besar masih bertahan.
Sebelumnya, upaya gencatan senjata yang melibatkan Amerika Serikat dan PBB segera berantakan karena pihak-pihak yang bertikai saling melepaskan tembakan dan saling menyalahkan. Pembicaraan perdamaian sebelumnya, termasuk yang diadakan setahun lalu, juga tidak membawa kemajuan untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada Maret 2011 itu.
Utusan khusus PBB di Suriah, Staffan de Mistura berpartisipasi dalam pembicaraan yang akan berlangsung paling tidak sampai Selasa itu.
Rusia dan Turki minta Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengirimkan delegasi ke pembicaraan itu beberapa hari sebelum ia menjabat. Tapi, karena berbagai kesibukan dalam masa transisi pemerintahan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan duta besarnya untuk Kazakhstan, George Krol, akan menghadiri pertemuan itu.
Meskipun timbul perbedaan perselisihan mengenai intervensi militer Rusia di Suriah, Kremlin tampaknya menginginkan partisipasi Amerika Serikat dalam proses perdamaian.*