Hidayatullah.com |“USTADZ, apakah saya boleh berzakat profesi?” ujar seorang wanita. Ustadz Nurbani Yusuf (51 tahun) menghela nafas. Maklum, yang bertanya itu seorang purel, sebutan untuk pemandu lagu atau pelayan tamu di tempat karaoke, bar, kafe, dan lekat dengan dunia malam di Kota Wisata Batu (Jatim).
Nurbani tidak langsung menjawab dengan dalil yang rumit. Terpenting adalah memberi harapan, tentang ajaran Islam yang rahmatan lil-‘alamin.
“Jika langsung diceramahi dengan dalil, dikhawatirkan malah mereka lari dan tidak akan mendengar dakwah lagi. Lebih perlu disentuh kemanusiaannya,” Nurbani berargumentasi.
Bagi da’i Corps Mubaligh Muhammadiyah ini, redaksional dalil bisa dibahasakan sesuai kondisi dan cara yang mudah difahami. Tidak perlu memakai istilah yang muluk-muluk namun susah dimengerti.
Ngaji Urip
Bermula di awal tahun 2016, Ustadz Nurbani Yusuf jumpa dengan sahabatnya, seorang pengusaha kos-kosan. Kebanyakan penghuninya adalah purel.
“Kamarnya sudah banyak, sisakanlah satu untuk mushala,” saran Nurbani.
“Buat apa? Apa purel mau shalat?” sahabatnya tertawa.
“Lho, siapa tahu mushala itu akan membuat kehidupan mereka jadi lebih baik.”
Saran itu akhirnya terwujud. “Saya sempat lewat situ, ternyata malah untuk menjemur pakaian,” Nurbani geleng-geleng kepala.
Si pemilik kos kemudian menggelar tasyakuran. Nurbani didaulat memberi ceramah. Temanya tentang berbakti kepada orangtua.
Tak dinyana, beberapa orang tampak menangis. Ada pula yang kemudian konsultasi tentang problem kehidupannya. Barangkali karena merasa cocok, akhirnya Nurbani diminta ceramah rutin sebulan sekali.
Ketika berceramah, Nurbani tampil santai. Tidak mesti memakai kopiah, sarung, atau gamis dan surban. Acaranya pun lebih banyak ngobrol. Biasanya terlebih dulu dibuka kesempatan agar mereka bertanya, baru kemudian membahasnya.
“Saya menyebutnya ngaji urip (mengaji tentang kehidupan). Tema yang dibahas benar-benar sesuai dengan problematika mereka.”
Yang tidak boleh dilupa adalah berdoa di akhir acara. Favoritnya doa untuk orangtua dan anak-anak. Mereka biasanya tersentuh nuraninya.
Kini ada 70-an purel yang ikut ngaji, dengan tingkah polah yang macam-macam. Ada yang serius, ada yang cuma ikut-ikutan, banyak pula yang suka cekikikan. Ada yang pakaiannya rapi menutup aurat, ada pula yang cuma memakai kaos singlet, celana panjang ketat, dan parfum yang menyengat. Bahkan ada yang mulutnya bau minuman keras.
Terjun di tengah “lautan” wanita malam, tentu Nurbani tidak bisa sendirian. Minimal harus hadir bertiga dengan teman-temannya.
“Perlu ekstra sabar dan ekstra iman. Godaannya berat,” Nurbani terkekeh.
Ia pernah mengajak seorang ustadz agar ceramah. Begitu melihat tingkah jamaah dan pakaiannya, si ustadz malah mati kutu.
“Gak muni blas (tidak bunyi sama sekali). Katanya, bahan ceramahnya mendadak hilang,” kisahnya.
Pernah pula kajiannya distop sejumlah preman. Beruntung Nurbani punya kenalan preman pula, sehingga akhirnya bisa dikondisikan.
Doktor dan Direktur
Usatdz Nurbani Yusuf asli kelahiran Kota Batu. Pendidikan dasar hingga menengah dilewati di kota kelahiran, kemudian kuliah S-1 Jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, S-2 Sosiologi Universitas Airlangga Surabaya, dan menyelesaikan S-3 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Aktivitas sehari-harinya sebagai dosen pascasarjana UMM dan Direktur ATV (Lembaga Penyiaran Publik Pemerintah Kota Batu). Pekerjaannya amat padat, namun dakwah tetap jalan terus.
Jalan dakwah yang dipilih pun berbeda. Selain menyasar purel, juga akrab bergaul dengan aktivis LSM, komunitas petani, seni, olahraga, hingga penjudi dan pemabuk. Meski menjabat direktur dan bertitel doktor, Nurbani tak canggung untuk ngopi atau cangkrukan (nongkrong) dengan mereka.
“Kebanyakan kawan-kawan saya itu kaum marjinal, baik secara ekonomi, teologis, kultural, maupun politik. Mereka kerap dianggap sebagai ‘sampah masyarakat’. Sebagian kita merasa risih bahkan jijik, padahal mereka adalah manusia yang perlu nasihat, siraman ruhani, dan ingin hidup baik,” jelas pengasuh Komunitas Padang Makhsyar ini.
Dalam pengamatan Nurbani selaku sosiolog, para da’i kebanyakan menghindari kalangan ini. Padahal mestinya harus didekati.
“Memang harus didatangi, bukan da’i yang menunggu undangan mereka. Dakwah itu harus aktif. Jangan hanya ceramah datang-pergi tapi tidak mengenali problematika jamaah. Bagaimana kita bisa menjadi solusi?” ujar ayah dua anak ini.
“Sebagian besar di antara kita malah sukanya menyalahkan dan menghujat mereka. Padahal, sudahkah kita mendakwahinya? Kita yang justru harus istighfar, sebab berarti dakwah kita belum sampai kepada mereka.”
Nurbani sendiri kerapkali dicibir. Ada pula yang salah faham dengan metode dakwahnya.
Contoh, pria ramah ini dekat dengan komunitas seni tradisional yang pergelaran acaranya akrab dengan minuman keras. Nurbani pun menyumbang peralatan. Eh, langsung muncul tuduhan bahwa ia mendukung kemunkaran. Padahal itu hanya strategi dakwah.
“Setelah akrab, maka saya bisa minta mereka agar berhenti kegiatan ketika Maghrib dan Isya’. Bahkan belakangan acaranya diakhiri dengan pengajian. Nah, kalau saya tidak akrab dengan mereka, mana bisa menasihati?”
Ada juga yang berkomentar, mengapa harus menempuh jalan dakwah seperti itu? Kan lebih enak ceramah di masjid, diantar jemput, dijamu, dan diberi amplop. Bukan di tempat-tempat sumpek yang berisiko.
Nurbani balik bertanya, “Bukankah dulu jalan dakwah Nabi juga berat? Jauuh lebih berat. Kita ini tidak ada apa-apanya.”
“Saya memahami dakwah itu memanggil dan mengajak taat kepada Allah. Konteksnya bukan mengajak shalat kepada orang yang sudah rajin shalat di masjid, tapi mengajak saudara kita yang sudah mengaku Muslim namun karena suatu hal belum bisa menjalankan syariat dengan baik,” jelasnya.
Kegigihannya membina purel kini mulai menampakkan hasil. Banyak yang sudah rajin shalat, puasa, dan sedekah, meski tetap rajin “bekerja” juga. Malah ada yang menyekolahkan anaknya di madrasah diniyah dan pesantren tahfizhul-Qur’an. Beberapa di antaranya juga beralih profesi semisal membuka jasa laundry dan jualan kue.
“Alhamdulillah. Tugas kita adalah ikhtiar. Hasilnya, serahkan kepada Allah Yang Kuasa,” tutupnya.*/ Pambudi Utomo, Suara Hidayatullah