Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Puasa Harus Melahirkan Kepekaan Sosial dan Kemenangan (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Juli 2014 09:43 9:43 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Juli 2014 08:37
Bagikan
Bagikan

KETIKA seorang muslim berpuasa sunnah, baik Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidh (adalah berpuasa pada 13, 14, 15 hijriyah setiap bulannya), ia akan merasakan berpuasa sendirian.

Dibandingkan dengan puasa di bulan Ramadhan, puasa sunnah seperti ini perasaannya jauh lebih berat, karena dilaksanakan sendirian.

Berbeda tatkala dengan hadirnya bulan Ramadhan. Semua orang berpuasa, tak peduli orangtua, wanita hingga anak-anak kecil. Karenanya ada perasaan bersama, bahwa yang lapar bukan hanya kita sendirian.

Bukan Cuek-bebek

Ibadah puasa akan melahirkan manusia-manusia yang benar-benar mempunyai al-hasaasiyyah al-ijtimaa’iyyah (mempunyai kepekaan sosial yang tinggi).

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Ini yang harus seorang muslim perhatikan, apalagi saat ini, ketika  sebagian besar bangsa Indonesia,  sudah kehilangan kepekaan sosial.

Sekedar contoh, jika ada tindak kejahatan di tempat keramaian, sangat langka ditemukan orang yang peduli dengan membantu melawan penjahat. Kalau ada wanita yang sangat cantik lewat dan hampir semua mata melihat, apakah ada orang yang memprotes hal itu?

Padahal, bukankah wanita itu isterinya orang yang haram untuk dipelototi?  Ini menunjukkan rendahnya sensitifitas keimanan (hasasiyah imaniyah). Yang ada adalah kerawanan dalam kehidupan sosial, karena kemaksiatan sudah melembaga dan orang diam saja ketika melihatnya.

Padahal di masa Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam, orang tidak akan tinggal diam ketika melihat suatu kemunkaran.

Bahkan ketika jauh setelah kehidupan Rasulullah, baik di zaman tabi’in maupun tabi’it tabi’in, tetapi mereka masih komitmen dengan ajaran Allah, maka sensitifitas sosial itu sangat tinggi.

Di zaman dahulu jika ada umat Islam tidak shalat jama’ah di masjid, maka setelah selesai shalat jama’ah masjid langsung mendatangi orang yang tidak shalat berjama’ah tadi untuk menziarahinya (berta’ziyah), seolah-olah orang yang tidak shalat jama’ah itu adalah orang yang mati (meninggal).

Bagaimana jika ada hal seperti itu pada kita? Tiba-tiba ada serombongan jama’ah masjid tiba-tiba datang ke rumah berta’ziyah, seolah-olah kita sudah meninggal? Mungkin tersinggung atau boleh jadi kita akan termotivasi untuk selalu shalat jama’ah di masjid.

Ironisnya di negara ini ketika ada orang diganggu, dicopet, atau digoda, yang lainnya diam saja. Bahkan boleh jadi yang ada di hati mereka ada bisikan,  “yang penting saya selamat’. Orang seperti ini adalah orang yang hatinya telah mati dalam kehidupannya.
Rasa tidak peduli dan tidak peka seperti ini layaknya  masa ketika kiamat tiba. Di mana setiap orang seolah sibuk dengan urusannya masing-masing. Suami lari dari istri dan anaknya, anak lari dari orangtuanya.

Allah berfirman:

فَإِذَا جَاءتِ الصَّاخَّةُ
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ
وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَ
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS: ‘Abasa: 33-37).

Jadi kehidupan masing-masing itu kala itu begitu menyibukkan agar setiap orang selamat.  Karenanya, kebajikan tidak jalan, keadilanpun tidak tegak.

Nah,  puasa hadir di tengah-tengah kita untuk memperlihatkan bagaimana Islam itu benar-benar mempunyai kepedulian terhadap kehiduapan bermasyarakat, bukan cuek-bebek.

Pada masa Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam, ada juga kemaksiatan. Ada juga shahabat yang berbuat maksiat, karena mereka bukan malaikat. Sekalipun sebaik-baik generasi adalah genarasi Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Akan tetapi kriminalitas itu masih sangat kecil sekali, bahkan jarang ditemui. Itu pun bersifat pribadi dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.*/Iltizam Amrulillah

Bersambung

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kejahatankemaksiatanKematianPuasaRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gaya Busana Wanita Iran Fans Sepakbola Semarakkan Piala Dunia
Tulisan selanjutnya Hasil Audit Keuangan BMH, Wajar Tanpa Pengecualian

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?