Oleh : Muhammad Syafii Kudo
Hidayatullah.com | ADA lelucon sarkastik yang kerap muncul saat menjelang bulan Ramadhan di negeri ini. Bunyinya begini, “Jika iklan sarung sudah berseliweran dan iklan sirup telah unjuk gigi, maka dipastikan itulah waktunya Ramadhan akan segera tiba.”
Ya, itulah deskripsi kapitalisasi Ramadhan yang setiap tahun selalu muncul di negeri ini. Jangankan iklan sirup dan sarung, produk yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan ibadah puasa pun mendadak dipoles sebisa mungkin agar nampak adaptif terhadap Ramadhan dan terkesan “Islami”.
Di bulan Ramadhan memang banyak bermunculan tayangan TV khas Ramadhan seperti tayangan tausiyah singkat dan liputan sejarah mengenai Islam Indonesia dan juga tidak lupa acara berburu takjil. Hal itu dianggap masih lumrah mengingat masih ada kaitannya dengan Ramadhan.
Sebab ada yang lebih parah yang setiap Ramadhan selalu mendominasi tayangan TV di Indonesia, yakni acara dagelan, humor, dan yang semisalnya yang ditayangkan pada waktu prime time menjelang Maghrib dan Sahur. Mengapa dikatakan prime time? Sebab di dua waktu itulah saat-saat mustajab diterimanya doa bagi umat Islam.
Dua waktu “mahal” itulah yang tidak pernah dilewatkan oleh para Salaf Sholeh. Dan dua waktu itu pulalah yang tidak pernah disia-siakan oleh para Kapitalis untuk menjajakan dagangannya lewat tayangan iklan yang dimunculkan di sela-sela berbagai acara bertema “Ramadhan”.
Para Salaf mengisi dua waktu itu dengan memperbanyak doa dan berbagai amalan sholeh lainnya. Sedangkan kita hari ini kebanyakan memperbanyak tontonan yang bernilai hiburan dan humor belaka.
Alih-alih tontonan bermuatan ilmu (kajian kitab dll) kita malah lebih banyak disuguhkan berbagai acara sinetron “pseudo” religi dan lelucon belaka. Inilah salah satu cara “musuh Islam” merampas esensi Ramadhan dari umat Islam di Indonesia.
Di dalam kitab Nafahatur Ramadaniyah yang disusun oleh Habib Muhammad Bin Abdullah Al Haddar, ada satu bab yang khusus membahas masalah Ramadhan dan Film. Beliau menyatakan bahwa Ramadhan adalah bulan Al Qur’an bukan bulan film vulgar dan sinetron (fiksi berseri) yang berisi kebohongan baik dalam ucapan dan perbuatannya, sebab umumnya dunia film dan sinetron tertawanya dan tangisannya, bahkan adalah kebohongan dan gurauan belaka.
Padahal kebohongan adalah sepertiga dari kemunafikan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh celaka bagi seseorang yang berbicara dan berbohong (dalam bicaranya) agar ditertawakan oleh orang banyak. Celaka baginya, celaka baginya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Dan bagi seseorang yang menyebarkan kebohongan ke seluruh dunia baik melalui penyiaran (postingan) maupun terbitan, maka akan dipecahkan rahang, mata, dan hidungnya dengan pengait dari besi. Tiap kali siksa itu selesai dilakukan maka akan diulang untuk yang kedua kalinya hingga hari kiamat kelak. Ini seperti yang disebutkan di dalam hadis Shohih riwayat Imam Bukhori. (Nafahatur Ramadhaniyah Hal 17; Cet. 1431 H / 2010 M; Tarim Hadramaut Yaman).
Habib Muhammad Bin Abdullah Al Haddar juga membahas akibat-akibat yang ditimbulkan oleh film. Disebutkan bahwa paling sedikit dampak buruknya adalah kehilangan waktu dimana dikatakan di dalam syair bahwa setiap nafas dari setiap nafasmu adalah permata yang tiada ternilai harganya.
Dan dikatakan di dalam syair yang lain bahwa, “Benar-benar telah sia-sia umur yang sesaatnya dari umur tersebut dibeli dengan sepenuh langit dan bumi. Alangkah mahalnya kehilangan yang benar-benar merugikan. Wahai keuntungan umur berjalan dengan sia-sia. Sedikit daripada umur mengungguli atas seribu mutiara.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا مِنْ سَاعَةٍ تَمُرُّ بِابْنِ آدَمَ لاَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى فِيْهَا إِلاَّ تَحَسَّرَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidak ada satu waktu pun yang terluputkan dari anak Adam untuk berzikir kepada Allah kecuali ia akan menyesali waktu tersebut pada hari kiamat.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 508, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 5/362)
Dan dikatakan pula bahwa, ”Barang siapa yang kehilangan waktu dari umurnya maka dia akan menjadi orang yang menyesal di dalam kuburannya.” Maka bagaimana dengan kehilangan waktu-waktu Ramadhan yang di dalamnya dilipatgandakan amal sholih, yang di dalamnya dilipatgandakan pahala?
Bagaimana dengan film-film vulgar yang merangsang syahwat bagi yang menontonnya? Menurut kitab Nafahatur Ramadaniyah, barangsiapa yang memenuhi matanya dengan yang haram, Allah akan memenuhi matanya dengan api Neraka. Siapapun yang melewati batas (melebihi) daripada itu, misal lewat video atau menonton perzinahan, maka Allah melaknat penontonnya, pemain videonya, dan yang berlangganan. Mereka semua berada di dalam laknat dan dosa besar. (Hal 25-26).
Kitab Nafahatur Ramadaniyah sangat menarik karena ditulis oleh seorang ulama yang berdomisili di Tarim Hadramaut Yaman, yang dikenal sebagai salah satu pusat pengkajian ilmu Mazhab Ahlussunah Wal Jamaah. Dan seperti yang diketahui bahwa tayangan TV di sana tentunya sangat jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia baik dari tingkat varian genre film dan kevulgarannya.
Maka tidak mengherankan jika beberapa kalangan menilai jika kitab tersebut lebih cocok ditujukan untuk umat Islam di Indonesia dibandingkan di tempat asal si penulis kitab. Sebab di Indonesia, hampir tidak ada tayangan TV di semua saluran yang bebas dari dagelan (humor) dan tayangan yang mengumbar aurat, baik di luar Ramadhan dan lebih-lebih di bulan Ramadhan.
Belum lagi tren baru di tanah air yaitu program stand up comedy yang berciri khas berbicara sendiri selucu mungkin untuk ditertawakan oleh orang lain. Yang mana materi lawakannya tidak jarang mengandung kebohongan dan bahkan ada yang sampai melecehkan agama, hanya untuk mendapatkan tepuk tangan penontonnya.
Publik tentu masih ingat dengan pelecehan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh dua orang pelawak stand up yang menaburi daging babi dengan irisan kurma dan berteriak, “Neraka-neraka” sambil terpingkal-pingkal. Kemudian mereka meminta maaf lewat video dan ternyata permintaan maaf itu bohong belaka.
Kelakuan mereka ini mirip dengan kriteria golongan orang yang diancam dengan kecelakaan dalam hadis Nabi di atas yang mana kecelakaanlah bagi mereka yang berbicara bohong agar ditertawakan oleh manusia. Padahal yang mereka lakukan adalah sepertiga dari kemunafikan. Apalagi jika ditambah dengan menjadikan agama sebagai materi lawakan.
Di dalam tafsir surah Al A’raf Ayat 50-51 disebutkan,
ونادى أصحاب النار أصحاب الجنة أن أفيضوا علينا من الماء أو مما رزقكم الله» من الطعام « قالوا إن الله حرَّمهما» منعهما «على الكافرين
(Dan penghuni Neraka menyeru kepada penghuni Surga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau apa yang telah dirizkikan Allah kepadamu.”) yaitu makanan (Mereka, para penghuni surga, menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya) telah melarang makanan dan minuman itu (atas orang-orang kafir).
«الذين اتخذوا دينهم لهوا ولعبا وغرتهم الحياة الدنيا فاليوم ننساهم» نتركهم في النار «كما نسوا لقاء يومهم هذا» بتركهم العمل له «وما كانوا بآياتنا يجحدون» أي وكما جحدوا.
“(Yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-mainan dan senda-gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari ini, hari kiamat, Kami melupakan mereka) Kami membiarkan mereka di dalam Neraka (sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini) di mana mereka mengabaikan beramal baik untuk menghadapinya (dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami) sebagaimana mereka telah berlaku ingkar terhadapnya.” (QS: Al A’raf : 51).
Artinya selain diancam dengan hadis Nabi Muhammad ﷺ di atas, para pelaku kebohongan baik di dalam film, sinetron, dan lawakan juga terancam masuk Neraka yang di dalamnya diharamkan atas mereka air serta makanan dan Allah tidak menghiraukan mereka akibat mereka selama di dunia selalu membuat agama sebagai candaan dan lelucon belaka.
Walhasil marilah menjaga Ramadhan kita agar keagungannya tidak dicuri oleh tangan-tangan jahat lewat berbagai program tayangan mereka. Agar kita tidak merugi di dalamnya. Wallahu A’lam Bis Showab.*
Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan